BAB 7

1943 Kata
“Para pendengar, Anda semua pasti masih ingat Monsieur Kuroara yang menulis surat ke acara kita dua hari yang lalu, bukan?” Aurelie baru akan mematikan radio kecil yang ada di meja kerjanya dan pulang ketika mendengar kata-kata Camille. Monsieur Kuroara? Suara Camille terdengar lagi. “Waktu itu Monsieur Kuroara bercerita tentang gadis yang dia temui di bandara. Hari ini kami kembali mendapat surat dari Monsieur Kuroara. Mungkinkah mengenai kelanjutan cerita itu? Akan saya bacakan suratnya.” Arata menulis surat ke Je me souviens ... lagi? Aurelie mengangkat alis. Rasa penasarannya langsung terbit. Ia duduk kembali dan memperbesar volume radio. “Aku bertemu dengan seorang gadis kemarin. Oh, sepertinya ini cerita yang lain.” Aurelie semakin tertarik dengan apa yang ditulis Arata kali ini. Sepertinya ia takkan pernah bisa berhenti merasa penasaran dengan Arata Kurokawa. “Aurelie, ayo!” seru salah seorang rekan kerjanya yang sudah berjalan ke pintu, mengikuti beberapa orang lainnya. “Katanya kau mau ikut minum bersama.” Aurelie cepat-cepat menempelkan jari telunjuk di bibir dan melambai. “Kalian duluan saja. Aku akan menyusul,” katanya cepat, setengah mengusir. Setelah rekan-rekannya keluar dan menutup pintu, Aurelie kembali memusatkan perhatian kepada radio kecilnya. Ia sudah ketinggalan sepenggal kecil dari surat Arata. “... berterima kasih kepada gadis yang kutemui kemarin. Dia sudah berbaik hati menemaniku ke museum, tapi aku malah membuatnya bosan setengah mati.” Alis Aurelie terangkat dan ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Apakah Arata sedang bercerita tentang dirinya? “Walaupun dia tidak berkata apa-apa, tapi tanpa sadar aku menghitung berapa kali dia menguap selama di museum. Sebelas kali dalam dua jam.” Benarkan ia menguap sebelas kali? Aurelie mengerutkan kening dan berusaha mengingat-ingat. Sepertinya ia tidak menguap sesering itu. Dan Arata menghitung berapa kali ia menguap? Yang benar saja! Sebenarnya saat itu Aurelie tidak benar-benar bosan. Ia hanya mengantuk karena kemarin ia terpaksa bangun pukul 09.30. Dalam kamusnya, matahari baru mulai terbit jam 10.00 di hari Minggu. “Aku sudah mencatat dalam hati lain kali aku takkan mengajaknya ke museum lagi. Jadi sekarang aku ingin menghadiahkan sebuah lagu untuknya sebagai ucapan terima kasih karena sudah begitu sabar dan karena sudah menjadi teman mengobrol yang menyenangkan. Bisakah Anda putarkan lagu yang bagus untuknya? P.S. Sayang sekali aku tidak punya nomor teleponnya. Karena itu aku hanya bertanya-tanya sendiri kapan aku akan bertemu dengannya lagi. Hari ini? Besok?” Aurelie mendengar Camille tertawa kecil. “Monsieur Kuroara, kedengarannya itu seperti ajakan kencan. Demi Anda, kami berharap gadis itu mendengarkan acara ini.” Senyum Aurelie melebar. Arata Kurokawa benar-benar laki-laki yang lucu dan penuh kejutan. *** “Mau makan di mana?” tanya Julien. Aurelie memindahkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kanan dengan kening berkerut. “Di mana ya?” Kedengarannya Julien juga sedang berpikir di ujung sana. “Mau makan pasta?” sarannya. “Boleh saja. Sudah lama kita tidak makan pasta. Di tempat biasa?” “Ya.” Lalu suara Julien terdengar ragu. “Oh, ya. Kau tidak keberatan aku ajak Arata sekalian, kan?” “Tentu saja tidak. Ajak saja,” sahut Aurelie langsung. Ia ingin sekali bertemu Arata lagi. Suara Julien terdengar lega. “Bagus. Kita ketemu di sana saja, ya?” Aurelie mengiyakan, lalu menutup telepon dan merenung. Julien kedengarannya ragu ketika menanyakan apakah ia boleh mengajak Arata. Aurelie berpikir itu mungkin karena Julien takut Aurelie tidak akan setuju mengingat sikapnya yang tidak bersahabat saat pertemuan pertamanya dengan Arata. Tetapi Julien tidak tahu Aurelie sudah pernah bertemu dengan Arata setelah pertemuan pertama itu. Aurelie memang belum memberitahu Julien tentang hal itu. Bukannya tidak mau, tapi waktunya tidak tepat. Kemarin mereka berdua sibuk dan tidak bisa bertemu, sementara dua hari yang lalu ketika ia pergi menjemput Julien di bandara, Aurelie sempat kesal dengannya. Sebenarnya ketika ia pergi menjemput Julien di bandara, suasana hati Aurelie masih bagus sekali. Melihat sosok Julien yang keluar dari pintu kedatangan di bandara saja hatinya langsung melonjak dan ia segera melambai-lambai dengan gembira. Suasana hati Aurelie mulai berubah ketika mereka sudah berada dalam mobil dan ia bertanya tentang perjalanan Julien ke Nice. “Bagaimana Nice?” tanyanya sementara mereka meninggalkan bandara. Julien tersenyum lebar. “Semuanya baik-baik saja,” jawabnya puas. Ia menoleh ke arah Aurelie dan mengedipkan sebelah mata. “Aku juga bertemu seorang gadis di sana.” “Lagi-lagi,” Aurelie mendesah. Ia sudah bosan mendengar kisah cinta kilat Julien. “Tunggu dulu,” sela Julien. “Ini tidak seperti sebelumnya.” “Apa bedanya?” “Gadis ini berbeda. Aku benar-benar suka padanya.” Mobil sempat oleng begitu Aurelie mendengar kata-kata Julien. “Ya Tuhan! Hati-hati, Aurelie. Kau hampir menabrak mobil di sebelahmu!” seru Julien memperingatkan. “Berbeda? Berbeda bagaimana?” tanya Aurelie sambil memaksakan tawa sumbang. “Bukankah semua gadis sama saja bagimu?” “Aku serius,” sahut Julien. Dan suaranya memang terdengar serius. “Juliette berbeda,” Ia mengulangi. ‘Juliette? Pemilik nama semacam itu pasti kurus kering dengan rambut panjang dan lurus berwarna kuning jagung.’ Warna kuning jagung mengingatkan Aurelie pada orang-orangan sawah. ‘Jangan-jangan si Juliette memang mirip orang-orangan sawah.’ Aurelie tidak bisa menahan diri untuk berpikir yang tidak-tidak. “Ih, alasan usang,” gumamnya jengkel. Kenapa mobil di depan itu begitu lamban? Ia membunyikan klakson berkail-kali dengan bernafsu. “Sungguh,” Julien berusaha meyakinkannya. Aurelie semakin tidak sabar dan akhirnya menyalip mobil di depannya itu. “Aurelie, apakah menurutmu aku sedang jatuh cinta?” Julien melanjutkan. Ia sama sekali tidak sadar Aurelie berharap bisa meninju mulutnya. “Kau tahu, ternyata dia juga tinggal di Paris. Dia pergi ke Nice karena urusan kerja, sama seperti aku. Katanya dia akan kembali ke Paris dalam beberapa hari ini. Akan kukenalkan padamu nanti.” Tidak! Aurelie tidak ingin berkenalan dengan gadis-gadis yang terlibat dengan Julien. Ia tidak pernah berniat berkenalan dengan mereka dan selama ini Julien juga tidak pernah memperkenalkan mereka. Kenapa sekarang harus berubah? “Itu konyol,” gumam Aurelie kesal. “Apanya? “Segala t***k-bengek tentang jatuh cinta itu. Memangnya orang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama?” “Aku tahu kau tidak percaya cinta pada pandangan pertama, tapi aku percaya.” Aurelie mendengus meremehkan. “Aurelie, kenapa kau mengebut begitu? Pelan-pelan saja.” “Aku sedang buru-buru,” jawabnya ketus. “Kau kira aku orang yang tidak punya kerjaan?” “Jadi, apa yang terjadi selama aku di Nice?” tanya Julien, berusaha mengalihkan pembicaraan. Gadis yang duduk di sampingnya itu jelas-jelas sedang naik darah. “Akhir pekanmu menyenangkan?” Tadinya Aurelie ingin bercerita tentang pertemuannya dengan Arata Kurokawa, tapi sekarang tidak jadi. Suasana hatinya telanjur jelek dan ia tidak ingin mengobrol panjang-lebar. “Tidak lebih baik daripada akhir pekanmu,” sahutnya dengan nada ketus yang sama. “Kok tiba-tiba marah?” tanya Julien dengan nada bergurau. “Aku tidak marah,” tukas Aurelie, walaupun nada suaranya jelas-jelas marah. Julien mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia tidak bisa bermain tebak-tebakan dan ia tidak mau disuruh menebak isi pikiran wanita. Terlalu rumit dan ia tahu ia takkan berhasil menebak dengan benar. “Baiklah. Walaupun aku tidak tahu apa kesalahanku, aku minta maaf,” katanya tulus, berharap dengan begitu kekesalan Aurelie akan mereda. “Kalau tidak tahu kesalahanmu, tidak perlu minta maaf!” Oke, ia salah langkah. Julien mengerutkan kening dengan bingung. Ada apa dengan Aurelie hari ini? “Hari ini kau aneh sekali, Aurelie Rousseau. Kau sedang ada masalah?” Perhatian dalam suara Julien membuat amarah Aurelie agak reda. Ia menggeleng. “Kau tahu kau selalu bisa bercerita padaku kalau ada masalah,” kata Julien lagi dengan bersungguh-sungguh. “Aku akan membantumu.” Aurelie memaksakan seulas senyum. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja ada seseorang yang membuat darahku mendidih.” “Katakan padaku siapa orang itu,” kata Julien cepat. “Akan kuberi pelajaran siapa pun yang mengganggumu.” Aurelie tertawa kecil. Inilah Julien Fountaine yang dikenal dan disukainya. Walaupun Aurelie gadis yang blak-blakan, pada dasarnya ia tetap konservatif. Ia tidak suka terang-terangan terhadap laki-laki. Selama ini ia sudah berusaha menunjukkan perasaannya, tapi kenapa laki-laki itu tidak memahaminya? Apa lagi yang bisa ia lakukan? *** Julien sudah menunggunya ketika Aurelie sampai di restoran Italia itu. Aurelie heran melihat Julien duduk sendirian. “Di mana Arata?” tanya Aurelie begitu ia berdiri di depan Julien. Julien mengangkat wajah dari menu yang sedang dibacanya. Ia tersenyum lebar, lalu berdiri dari kursinya. Ia menunggu Aurelie menarik kursi dan duduk, baru duduk kembali. “Di mana Arata?” tanya Aurelie sekali lagi. Ia melihat ke sekeliling restoran, berharap menemukan sosok Arata di sana. Mungkin sedang ke toilet? “Dia tidak bisa ikut,” sahut Julien sambii membolak-balikkan menu yang dipegangnya. “Oh?” Aurelie berhenti mencari dan memandang Julien. Arata tidak datang? Oh ... Julien melanjutkan, “Tadi aku sudah menelepon untuk mengajaknya, tapi katanya dia ada urusan lain. Akhir-akhir ini kami semua memang sibuk sekali karena proyek hotel itu, apalagi Arata yang harus dengan cepat mempelajari semuanya dari awal karena dia bergabung di tengah-tengah proyek yang sedang berjalan. Hari ini aku bahkan belum sempat bertemu dengannya. Aku juga tidak melihatnya sepanjang hari kemarin.” Oke, Aurelie akui ia sedikit kecewa. Sebenarnya ia ingin bertemu dan berbicara dengan Arata. Banyak yang ingin ia tanyakan pada laki-laki itu. Terlebih lagi tentang surat yang ditulisnya ke stasiun radio. Begitu mengingat surat itu, Aurelie tidak bisa menahan senyum. Arata Kurokawa benar-benar membangkitkan rasa ingin tahunya. Kapan laki-laki itu akan menulis surat lagi? “Kenapa senyam-senyum sendiri?” Aurelie menatap Julien clan mengerjapkan mata. “Tidak apa-apa,” sahutnya sambil tertawa kecil. “Hanya saja aku teringat ...” Kata-katanya dipotong dering ponsei Julien. “Sebentar,” gumam Julien sambil merogoh saku celananya. Ia menatap layar ponsei dan raut wajahnya menjadi cerah. Aurelie mengerutkan kening. Ia mendapat firasat jelek. Telepon itu pasti dari gadis yang ditemui Julien di Nice. Pasti ... Pasti ... Julien buru-buru menempelkan ponsel ke telinga. “Juliette? Kau sudah kembali ke Paris?” ‘Nah, benar, kan? Memang si orang-orangan sawah itu yang menelepon.’ Julien mendengarkan sebentar, lalu tertawa dan berkata, “Tentu saja aku punya waktu sekarang.” Aurelie melotot. ‘Apa katanya?’ Julien tidak memandangnya. Laki-laki itu berkonsentrasi penuh dengan lawan bicaranya di telepon. “Oke, aku ke sana sekarang. Sampai jumpa.” Aurelie menahan napas. ‘Jangan katakan ...’ Julien menutup ponsel dan memandang Aurelie. ‘Jangan berani-berani ...’ Aurelie balas menatap Julien. Ia tidak mau bertanya karena ia takut mendengar jawaban Julien. “Aurelie, maafkan aku,” kata Julien, tapi ia tidak terlihat menyesal. Ia malah terlihat gembira, matanya berkilat-kilat dan wajahnya berseri. “Kau ingat Juliette? Gadis yang pernah kuceritakan padamu?” ‘Tidak! Tidak ingat! Tidak mau ingat!’ Julien meneruskan, “Ternyata dia sudah kembali ke Paris. Dia menelepon dan mengajakku makan siang.” Aurelie harus berusaha keras menahan emosinya. “Sekarang?” tanyanya jengkel. “Bukankah kita sekarang sedang makan?” Temannya itu seperti sama sekali tidak mengerti perasaannya. Julien malah tertawa dan berkata ringan, “Maaf, aku akan mentraktirmu lain kali. Oke? Sekarang aku harus pergi.” Aurelie nyaris tidak percaya melihat Julien bangkit dari kursi, meraih jaket, lalu melambai ke arahnya dan keluar dari restoran. Aurelie tidak bisa berkata apa-apa, tidak bisa melakukan apa-apa. Ia begitu tercengang. Ia hanya bisa terdiam melihat Julien masuk ke mobilnya lalu melaju pergi. Apa artinya itu? Julien meninggalkannya. Sebelum ini Julien tidak pernah meninggalkannya. Tidak pernah. Walaupun lelaki itu punya banyak kekasih, tapi Aurelie selalu mendapat perhatian utamanya. Julien sendiri yang berkata begitu. Aurelie ingat Julien pernah berkata kalau Aurelie adalah gadis nomor satunya. Tentu saja Aurelie tahu Julien hanya menganggapnya sebagai teman baik, mungkin juga sebagai adiknya, tapi tidak masalah. Aurelie senang. Aurelie menunduk menatap taplak meja yang putih. Ia menarik napas panjang, lalu mengangkat tangan kananya dan ditempelkan di dadanya. Sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN