BAB 8

1685 Kata
Hari itu sungguh menyebalkan. Perasaan Aurelie tidak membaik sepanjang sisa hari itu. Ditambah lagi ia terpaksa harus menerima omelan dari Charles Gilou, atasannya yang sudah berusia lebih dari setengah abad dan super keras, karena penampilannya dinilai buruk saat siaran. Charles bukan orang yang suka bertanya-tanya tentang masalah pribadi bawahannya dan ia juga tidak peduli. Yang penting baginya adalah seorang penyiar harus selalu terdengar ceria, profesional, dan tanpa beban begitu masuk ke ruang siaran. Aurelie keluar dari ruangan Charles sambil menggerutu dalam hati. Julien b******k! Laki-laki itu yang membuat perasaannya kacau seperti ini. Hari ini benar-benar tidak menyenangkan. Ia ingin cepat-cepat pulang saja. Ia bahkan tidak ingin makan malam. Ia mau langsung pulang dan tidur. “Bagaimana? Charles mengamuk?” tanya Camille simpatik begitu Aurelie masuk ke ruang kerja. Aurelie mengembuskan napas panjang dan berat. Ia memandang Camille, lalu mengangguk lesu. “Hari ini menyebalkan sekali,” gumamnya, lalu menjatuhkan diri ke kursi. Camille tersenyum menghibur. “Jangan terlalu dipikirkan. Kau tahu sendiri Charles orang yang seperti apa. Tuan Sempurna yang mengharapkan semua orang juga sempurna seperti dirinya.” Aurelie hanya mendesah dan cemberut. “Ngomong-ngomong, Sabtu nanti kau datang, kan?” tanya Camille mengalihkan pembicaraan. Aurelie mengerjapkan mata. “Sabtu? Datang ke mana?” “Tentu saja ke pesta ulang tahunku. Kau ini bagaimana sih? Sudah lupa?” “Astaga! Itu kan masih lama,” protes Aurelie, lalu melirik kalender mejanya. “Masih seminggu lagi.” “Aku hanya ingin memastikan,” Camille membela diri. “Datang, kan?” Aurelie mengangkat bahu. “Tentu saja! Selama ada makanan gratis, aku pasti datang . “ Camille mendengus dan tertawa. “Aku juga sudah mengundang Julien. Dia bertanya padaku apakah dia boleh mengajak seorang temannya.” Aurelie meringis. “Pasti si orang-orangan sawah itu,” gumamnya murung. “Siapa?” “Pacar barunya.” “Oh,” gumam Camille. Sepertinya ia memahami apa yang dirasakan temannya. “Jadi kubilang pada Julien bahwa dia boleh membawa temannya.” Aurelie meringis lagi. “Sedang apa kau?” tanyanya ketika melihat Camille asyik mengutak-atik laptop-nya. Ia tidak ingin membicarakan Julien lagi. Suasana hatinya buruk gara-gara Julien. “Oh, aku sedang membaca e-mail yang masuk,” sahut Camille tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. “Tak kusangka banyak sekali e-mail masuk yang menanyakan tentang Monsieur Kuroara.” “Hm? Monsieur Kuroara?” Camille mengangguk. “Tentu saja kebanyakan e-mail itu dari wanita. Mereka merasa Monsieur Kuroara itu laki-laki yang sangat romantis. Mereka berharap bisa mendengar kelanjutan kisahnya.” Aurelie tersenyum sendiri mendengar kata-kata temannya. “Sebenarnya aku sendiri juga penasaran kapan Monsieur Kuroara kita ini akan menulis surat lagi kepada kita,” lanjut Camille. “Aku merasa seperti sedang mendengar cerita bersambung. Membuatku gemas.” “Jangan-jangan kau juga salah satu penggemarnya?” goda Aurelie. Camille hanya tertawa kecil dan melanjutkan pekerjaannya. Saat itu ponsel Aurelie berdering. “Allo?” “Allo, Aurelie-chan. Kuharap kau sedang tidak sibuk.” Senyum Aurelie langsung mengembang dan semangatnya bangkit begitu mendengar suara laki-laki itu. “Arata!” serunya gembira. “Bagaimana kau bisa tahu nomor teleponku?” “Tadi aku menelepon ke stasiun radio dan katanya kau sedang siaran, jadi aku sekalian meminta nomor ponselmu,” sahut Arata di ujung sana. “Aku ingin meminta maaf karena tidak bisa ikut makan siang bersamamu dan Julien tadi.” Aurelie mengangkat bahunya acuh tak acuh dan berkata, “Tidak apa-apa. Tadi kami juga tidak jadi makan siang. Julien punya rencana lain.” “Kedengarannya kau sedang kesal.” “Tidak, aku tidak kesal,” bantah Aurelie. Memangnya kedengaran jelas bahwa ia sedang kesal? “Ya sudah,” sahut Arata. Ia pintar membaca situasi dan tidak mau berdebat dengan Aurelie. “Sebenarnya aku ingin mengajak kalian makan malam. Aku menelepon Julien, tapi katanya dia tidak bisa.” “Jangan hiraukan dia,” kata Aurelie. Julien pasti sedang bersama si orang-orangan sawah. “Aku bisa menemanimu makan malam. Di mana?” “Di tempatku,” jawab Arata bangga. “Aku akan memasak udon.” Aurelie mengerjap-ngerjapkan mata. Ia berusaha berhenti merasa heran dengan setiap jawaban Arata yang tidak diduga. “Kau bisa masak?” tanyanya. “Tentu saja. Kenapa tidak?” “Bisa dimakan?” Aurelie mendengar Arata tertawa. “Semua temanku suka makan masakanku,” sahutnya. Aurelie ikut tertawa. “Baiklah, aku akan datang. Berikan alamat rumahmu.” *** “Kau benar-benar pintar memasak.” Arata menoleh ke arah gadis yang duduk di sampingnya. Aurelie balas menatapnya sambil tersenyum lebar. “Terima kasih,” kata Arata. “Aku kenyang sekali,” keluh Aurelie senang. Ia menepuk-nepuk perutnya dengan pelan dan puas. Mereka berdua baru selesai makan dan sedang duduk-duduk di sofa panjang dan memandang ke luar jendela. Aurelie yang memaksa Arata menggeser sofa ke depan jendela agar mereka bisa duduk dan makan sambil memandangi Sungai Seine di bawah sana. “Apartemenmu bagus,” kata Aurelie sambil bangkit dan berjalan berkeliling ruangan. Arata mengangguk. “Disewa oleh perusahaan.” “Ini foto siapa?” Arata menoleh dan melihat Aurelie sudah berdiri di dekat televisi dan memerhatikan foto seorang wanita yang ada di atas televisi. Kapan ia meletakkan foto itu di sana? Arata tidak ingat. Ia bangkit dan menghampiri gadis itu. “Cantik,” gumam Aurelie sambil mengamati wanita berambut hitam panjang sebahu di dalam foto. Kerongkongan Arata tercekat. Ia tersenyum lemah dan berkata, “Tentu saja. Ini almarhumah ibuku.” “Oh?” Aurelie mengangkat wajahnya dan menatap Arata. “Kalau boleh tahu, kapan ...” Dengan perlahan Arata mengambil foto ibunya dari tangan Aurelie dan mengamatinya dengan perasaan bercampur aduk. Dadanya mulai terasa sesak. “Musim gugur tahun lalu,” sahutnya pelan. “Kanker.” “Oh,” gumam gadis itu agak kaget. “Maafkan aku.” “Tidak apa-apa,” kata Arata sambil mengembalikan foto itu ke atas televisi. Kemudian ia tersenyum. “Karena itulah aku tidak suka musim gugur.” Aurelie membalas senyumannya. Arata merasa dadanya lebih ringan sekarang. Perasaannya lebih baik. Kenapa senyum gadis itu bisa membuatnya merasa seperti itu? Tiba-tiba saja ia ingin menceritakan isi hatinya kepada Aurelie, berharap dengan begitu ia bisa lebih lega, berharap bebannya tidak seberat sekarang. “Kau ingat aku pernah bilang aku sedang mencari seseorang?” tanyanya ketika mereka sudah duduk kembali di sofa dan memandang ke luar jendela. Aurelie menoleh ke arahnya, menunggunya melanjutkan. Arata menarik napas dan menatap Aurelie. “Aku sedang mencari cinta pertama ibuku.” Alis Aurelie terangkat, tapi ia tidak berkomentar karena merasa Arata masih ingin melanjutkan kata-katanya. “Sebelum bertemu dengan ayahku, ibuku pernah jatuh cinta dengan seorang pria Prancis ... Cinta pertamanya. Karena itu ibuku memintaku mencarinya.” “Kau tahu kenapa ibumu memintamu mencari cinta pertamanya?” tanya Aurelie. “Untuk menyerahkan surat yang ditulis ibuku kepadanya,” sahut Arata. Alasan sebenarnya bukan hanya itu, tapi Arata merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan. Nanti kalau semuanya sudah beres, ia akan menceritakannya. Nanti ... “Lalu kenapa kau lesu begitu?” tanya Aurelie lagi. “Apakah kau merasa ibumu mengkhianatimu dan ayahmu? Karena ibumu memintamu mencari cinta pertamanya?” Arata terdiam sesaat, lalu menjawab, “Sedikit, kurasa.” Aurelie menepuk-nepuk pundaknya. Arata menoleh dan melihat gadis itu tersenyum. “Kau anak yang baik,” katanya menghibur. “Sungguh.” Arata tertawa kecil. “Jadi kau sudah menemukan orang itu?” Arata mengangguk. Mata Aurelie melebar. “Benarkah?” “Aku belum bertemu muka dengannya,” sahut Arata cepat. “Aku sudah punya nomor teleponnya, hanya saja aku belum berani menghubunginya.” “Kenapa?” “Karena aku masih bingung dengan apa yang harus kukatakan padanya. Bagaimana reaksinya begitu bertemu denganku? Apakah dia masih ingat pada ibuku? Banyak yang harus kupersiapkan sebelum aku bertemu dengannya nanti.” “Tapi kau tentu tahu cepat atau lambat kau tetap harus menghadapinya,” kata Aurelie mengingatkan. “Ya, aku tahu,” sahut Arata enggan, lalu memandang gadis di sampingnya. “Dan aku akan memberitahumu bila aku sudah bertemu dengannya.” “Oke,” kata Aurelie dengan senyum lebar. Ia senang Arata memutuskan berbagi cerita dengannya. Itu artinya laki-laki itu percaya padanya. Sambil mendesah, ia kembali memandang ke luar jendela. “Aah... pemandangan Sungai Seine dari sini indah sekali.” Arata memerhatikan gadis yang sedang mengagumi Sungai Seine dengan tatapan menerawang itu. Mengherankan sekali. Keberadaan gadis itu membuatnya santai, seperti sekarang. Juga membuat perasaannya senang. Gadis itu seperti obat penenang. Sejak ibunya meninggal Arata selalu merasa tersiksa bila harus datang ke Paris. Ia tidak pernah merasa tenang. Tapi sekarang? Jangan tanya bagaimana, tapi gadis bernama Aurelie Rousseau ini telah membuat hari-harinya di Paris menjadi lebih mudah. Lebih mudah, tapi tidak berarti sudah tidak menyakitkan. Semakin lama di Paris, perasaannya semakin tidak menentu. Ia tahu ia harus segera menyelesaikannya, tapi ia tidak tahu bagaimana memulainya. Ia masih terus mengumpulkan keberanian. Ia juga tidak tahu sampai kapan ia baru bisa mengumpulkan keberanian yang cukup untuk menemui orang itu. Orang yang sudah lama dicarinya. Orang yang tanpa sengaja dilihatnya di jalan dua hari yang lalu. “Ngomong-ngomong, kau tahu, tidak, kau sekarang punya banyak penggemar?” tanya Aurelie tiba-tiba. Arata menoleh. “Maksudmu? Aurelie menatapnya dan tertawa. “Para pendengar kami sangat tertarik dengan e-mail yang kaukirimkan, termasuk temanku, Camille, yang juga penyiar Je me souviens.... Cerita-ceritamu membuat mereka penasaran.” “Oh ya?” Aurelie mengangguk. “Monsieur Kuroara membuat acara itu semakin populer. Inbox e-maiI kami kebanjiran surat yang menanyakan tentang si ‘laki-laki misterius yang romantis.’” Arata tertawa kecil. “Terutama mereka penasaran sekali dengan gadis di bandara itu,” tambah Aurelie. “Kau juga penasaran,” sela Arata sambil tersenyum. “Baiklah, aku juga,” aku Aurelie, lalu cepat-cepat menambahkan, “Maukah kau terus menulis surat ke acara itu?” “Kau mau aku bercerita tentang gadis yang kutemui di bandara waktu itu?” tanya Arata. “Tentang apa saja.” Arata berpikir sebentar, lalu berkata, “Akan kukabulkan keinginanmu kalau kau mau pergi jalan denganku kapan-kapan.” Mata Aurelie membesar dan ia tersenyum. “Kau mengajakku kencan?” Ia merasa gembira dengan rencana itu. Arata pura-pura berpikir keras, lalu mengangguk-angguk. “Sepertinya begitu.” Kemudian gadis itu tertawa. Saat itu Arata baru menyadari ia sangat suka melihat Aurelie Rousseau tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN