Celina mengeriap lambat, lalu mencoba memandangi kelambu yang memahkotai kasurnya dengan susah-payah. Ia menajamkan pendengarannya sambil menyipit. Seperti ada suara yang bersenandung samar-samar di telinganya dalam kesunyian kamar. la mengucek-ucek kedua matanya dengan lemah sambil menguap, lalu menekan tubuhnya untuk bangkit menuju meja rias di sisi jendela yang terbuka. Celina menggosok-gosok wajahnya yang terlihat pucat pada cermin di depannya, lalu melirik meja makan. Kosong. Celina menoleh ke belakang. Seingatnya ada bocah tersesat yang berteduh di apartemennya tadi. “Ethan?” panggilnya sambil mengelilingi kamar sederhana itu. Namun sosok Ethan tidak tampak. Sejenak Celina mengamati meja makan bertaplak hijau lumut dengan tidak yakin. Hanya vas putih berisi bunga blue bottle da

