Celina menatap ujung Pont d'Avignon yang terputus sambil bersandar di dinding kusam kapel Saint-Nicolas du Pont Saint-Bénézet yang dibangun di tengah jembatan. Aiden sibuk mengamati pemandangan di sekelilingnya, juga sungai Rhône di bawah mereka sambil meremas besi kurus pembatas jembatan yang berkarat. Ia tersenyum ke arah Celina. “Selamat datang di Pont Saint-Bénézet.” Celina menghampiri pria berkacamata hitam itu. “Kebanyakan orang mengenal jembatan ini dengan nama Pont d’Avignon, termasuk aku.” Ia memandang berkeliling. Barisan pepohonan hijau dan rimbun menciptakan suasana rindang dan menyejukkan mata. Angin segar pun menelusup ke paru-paru Celina, membuatnya lega. Aiden melirik Celina, lalu menyenggol lengannya. “Apa?” tanya Celina menoleh, tidak mengerti. “Menangislah, bila kau

