Beberapa bulan kemudian Jembatan sederhana itu hanya dilalui beberapa orang, salah satunya Celina Rahardjo. Gadis itu melangkah di trotoar sambil menengadah, menatap langit pucat. Rintik hujan turun sedikit demi sedikit. Ia segera menunduk, mengencangkan mantel hitamnya. Cuaca memang begitu dingin pada akhir November, momen di mana menit-menit akan merajut episode menjelang musim dingin di Paris. Dedaunan kering berjatuhan dan berserakan, sebagian beterbangan lalu terinjak pejalan kaki yang melintas. Celina menatap beberapa pohon yang tampak telanjang di sisi jalan, lalu duduk di bangku yang tersedia di sebelah kiri jembatan. Matanya memicing, merasakan dan membiarkan percik-percik hujan sedikit membasahinya sambil meresapi atmosfer yang tertangkap saraf-sarafnya. Ah, sudah lama sekali

