Perkenalan yang cukup mengesankan dan Michael yang akhirnya mempertimbangkan tawaran pernikahan tahun ini. Mengingat sebelumnya bahwa Freya yang sudah menyerah soal cinta, Michael yakin bahwa Freya adalah wanita yang sama seperti mamanya, patuh kepada pasangan dan memahaminya, termasuk tentang kebiasaannya yang kerap memesan wanita malam.
Tahu Freya yang akan menginap, Michael pun pergi dari rumah orang tuanya menuju apartemen. Mengenang perkenalannya dengan Freya dan sudah memahami sedikit kepribadiannya, membuat Michael bergejolak dan dia sangat gelisah.
“Halo, Feni. Aku ingin bersenang-senang malam ini.” Michael akhirnya menghubungi sekretaris sekaligus asisten pribadi.
“Oh, saya kehilangan kontak beberapa perempuan, hm ... Desi, Una dan Wila sudah menikah, apa perlu saya pesankan yang baru?”
Michael tertegun sejenak, mendengus tersenyum menyadari dirinya yang sudah lama tidak “bersenang-senang”. “Oke.”
“Baik, Pak Michael.”
“Malam ini satu saja, Feni. Aku ingin beradaptasi lagi.”
“Oh, haha, oke oke, Pak.”
Michael mengakhiri panggilannya dan beralih ke sopir pribadinya. “Ade, antarkan aku ke hotel biasa,” ujarnya.
***
Michael sudah berada di dalam kamar hotel, dan dia yang semakin b*******h, apalagi barusan dia menikmati minuman beralkohol tinggi dan membiarkan pikiran mesumnya melayang-layang. Gerah dan bergelora, Michael membuka jas kerjanya dan melepas dua kancing bagian atas kemeja, dan duduk di atas sofa seraya mengatur deru napasnya yang memburu.
Tak lama kemudian, terdengar pintu kamar hotel dibuka, Michael tersenyum tipis saat terlihat sosok perempuan berpakaian ketat nan seksi yang berjalan berlenggak lenggok ke arahnya dengan pasti, perempuan itu terlihat sangat berpengalaman, tanpa ragu melepas seluruh pakaiannya hingga polos telanjang, duduk bersimpuh di depan Michael yang duduk di atas sofa dengan kedua tangan terentang di sandaran sofa.
Michael semakin bergejolak saat melihat sepasang b****g besar perempuan itu dan kulit tubuhnya yang mulus, dan dia mendesah saat bagian bawahnya dilepas paksa.
“Lama menunggu?” tanya wanita itu, menatap wajah sayu Michael, dan dia sudah menggenggam junior Michael yang sudah tegang, bersiap melahapnya.
Michael diam tidak menjawab, dia tahu perempuan itu memancing emosinya. Dia beranjak dengan kasar, lalu menjambak rambut perempuan itu dan menyuruhnya agar duduk mengangkang di atas sofa, dan dia yang mengambil kendali.
Masih dengan pakaian kemejenya, Michael menunduk dan mencekal kedua tangan perempuan itu, dan perempuan itu yang tertawa menyeringai, menantangnya.
Michael lantas menciumnya, menjejal leher dengan lidah kasarnya, dan perempuan itu mendesah, berbisik. “Aku basah, Tuan tampan.”
Michael terkesiap dan tertantang, dia mendekatkan pinggangnya ke tubuh yang pasrah terlentang.
Tapi, entah kenapa Michael tiba-tiba mundur dan berdiri, dan dia terdiam saat melihat perempuan itu.
“Sir?”
Michael mengambil bawahannya dan memakainya seadanya. “Kamu pergi saja.”
“Ta ... tapi aku sudah menerima uang.”
“Ambil saja.”
Michael memasukkan kemeja ke dalam celananya dan memyuruh perempuan itu pergi.
“Pergi cepat kataku!” teriak Michael karena perempuan itu tampak ragu.
Cepat-cepat perempuan itu mengenakan kembali pakaiannya, dan dia ketakutan karena Michael yang tampak sangat kesal.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi pintu tertutup dari depan dan Michael terduduk kembali di atas sofa, kepalanya tertunduk dan menggeleng.
“Astaga, ada apa denganku,” gumam Michael lirih, mengingat peristiwa dua tahun lalu, hari di mana Michelle menangis seharian dan tidak mau pergi ke sekolah dan tidak mau ditegur siapapun. Anak itu mengesalkan kepergian pengasuh kesayangannya tanpa dia tahu, dan dia sendiri yang telah memaksa si pengasuh kesayangan.
Michael mendengus kesal saat Heni yang tiba-tiba melaporkan bahwa pengasuh Michelle pergi diam-diam, dia sangat marah saat tahu bahwa Heni yang teledor mengunci pintu kamar pengasuh itu setelah memberinya makan. Michael tidak tahu bahwa yang sebenarnya terjadi adalah kepala rumah tangganya yang memang sengaja membiarkan pintu kamar terbuka. Heni yang yakin bahwa Kara akan kabur, dan tidak akan kembali ke rumah itu, sehingga dia bisa menahan gaji Kara dan memilikinya dengan mudah.
“Kak Kara jahat, Pi. Jahat sekali dia. Dia janji nggak akan ninggalin Michelle. Tapi kenapa dia tinggalin Michelle? Kak Kara jahaaat.” Michelle menangisi kepergian Kara dan Michael yang tidak bisa menanggapi. Dia merasa bersalah, tapi sangat kesal karena gadis itu tidak bisa diajak bekerja sama. Dia sebenarnya masih menginginkannya, gadis itu tetap diam di rumahnya, dan dia yang bisa menggauli sesuka hati, bahkan bersedia membayar mahal. Birahi Michael saat itu memang sedang tinggi-tingginya.
Hari itu adalah hari yang menyedihkan, padahal Michael baru saja mendapatkan hak asuh Michelle, namun ada masalah besar mengganggu pikiran. Belum lagi beberapa bulan kemudian, dia didatangi Kara dan mengaku hamil anaknya, dan dia saat itu sedang sibuk dan perusahaannya yang mendapat keuntungan besar melimpah. Dia memang mengusir Kara, tapi setelah itu dia berubah pikiran, menyuruh satpam untuk mencegah kepergian Kara dari gedung kantornya, tapi pengasuh itu sudah melesat pergi. Michael yakin gadis itu hanya mengada-ngada, memanfaatkan kejadian yang menimpanya, jikapun hamil, dia yakin gadis itu pasti sudah menggugurkan kandungannya.
Michael memilih menenangkan diri beberapa saat, lalu dia menghubungi putri kesayangan.
“Halo, Michelle.”
“Papi.”
“Hei, belum tidur juga?”
“Sebentar lagi, Pi. Ada pertanyaan yang belum aku jawab.”
Michael terkekeh kecil, sejak Kara kabur, Michelle memilih mandiri dan tidak ingin ada yang mengasuhnya lagi. Anak itu justru kuat dan melakukan segala kebutuhannya sendiri.
“Oke.”
“Papi masih di rumah opa Caleb?”
“Papi sudah pulang, Sayang.”
“Oh. oke.”
“Kamu mau datang jenguk opa Caleb? Opa sedang sakit sekarang.”
Ada jeda diam di ujung sana, lalu terdengar helaan napas panjang. “Aku pikir-pikir dulu, Pi.”
Michael mengerti apa yang diresahkan Michelle. Gadis belia itu pernah datang ke rumah mewah dan besar opa dan omanya, tapi dia merasa tidak dipedulikan, dan omanya yang terkesan dingin. Setelahnya dia enggan diajak ke sana dan Michael mengerti.
“Oke, nggak apa-apa. Goodnight, Sayang.”
“Night, Papi.”
Michael meletakkan ponselnya di atas meja sofa, beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar mandi.
***
Sebelum pergi berangkat menuju pulau Kalimantan, Michael menyempatkan diri datang ke rumah orangtuanya, dan dia ingin tahu keadaan papanya.
“Apa papa jadi dirawat sama orang yang dibawa Dito?” tanya Michael setelah memastikan keadaan papanya yang sedikit membaik.
“Ya, mulai lusa ini.”
“Oh.” Michael manggut-manggut.
“Dia sudah datang ke mari seminggu yang lalu dan Mama menyukainya. Kelihatannya sangat kuat dan sabar menghadapi lansia. Sebelumnya dia bekerja merawat eks Jenderal selama lebih dari satu tahun.”
“Lalu?”
Bersambung