Semenjak malam pertama di desa Kinderdjik, Aura dan Rendra menjadi lebih terbuka. Meskipun Rendra tidak mengatakan bila lelaki itu mencintai Aura, namun ucapannya yang mengatakan bahwa dirinya bahagia menikahi Aura itu sudah cukup bagi Aura untuk percaya diri tetap berada di samping suaminya. Aura terus melangkah mendekati meja Rendra dan ketika lelaki itu mengulurkan tangan, langsung saja Aura meraihnya. Aura memutar setengah bagian meja dituntun oleh tangan Rendra yang ia genggam kemudian setelah berada di samping kursi lelaki itu, tubuhnya terjerambab ke atas pangkuan Rendra yang menarik tangannya tanpa aba-aba. “Abaaang....” protesnya manja membuat sang CEO tampan terkekeh. “Udah makan siang?” Rendra yang menempelkan keningnya dengan kening Aura bertanya tepat di depan wajahnya.

