“Ra...hari selasa nanti sidang perdana Jordan, Tuan Alfons pengacara Abang yang akan minta ijin ke kampus kamu,” kata Rendra setelah tubuhnya duduk sempurna di sofa tepat di samping Aura dengan mata menatap lurus layar flat besar yang tergantung di dinding. Sofa besar tempat Aura kehilangan kesuciannya itu telah berganti dengan sofa kecil yang hanya cukup untuk dua orang dengan bantalan yang besar membuat tubuh keduanya menempel berdesakan. Aura menoleh, perasaan takut berlumur khawatir dan cemas Aura rasakan kini. Berkecamuk menjadi satu hingga dapat merubah ekspresi wajahnya. Tidak mendengar jawaban, Rendra menoleh dan mendapati kerutan di antara alis di wajah istrinya. “Nanti Abang temenin, grandpa sama grandma juga pasti hadir...,” sambung Rendra lagi memberitahu. Aura meng

