“Abang?” “Iya ini Abang, Ra...” “Abaaang...hiks...hiks...hiks...” Aura berhamburan memeluk Rendra sambil terisak, mencari perlindungan dari suatu trauma yang sedang di membelenggunya. Tangis pilu Aura sungguh menyayat hati Rendra, sambil mengusap rambut Aura yang basah karena keringat, Rendra tidak segan mengecup puncak kepala Aura berkali-kali. Putra mahkota konglomerat Gunadhya itu bingung harus berkata apa untuk menenangkan Aura. Dia memang tidak pandai berkata-kata percis sang Papa. Jadi yang dia lakukan adalah membawa Aura kembali berbaring di atas ranjang sambil memeluk tubuh Aura yang masih bergetar. Perlahan tangan Rendra mengusap lembut punggung Aura dan selalu berhasil membuat Aura tenang. Aura berhenti menangis, jantung Aura pun kembali berdetak normal tidak sepe

