Rayyan hanya memutar bola matanya malas dan langsung berjalan keluar. Tapi sebelum sempat dirinya keluar, ternyata David sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan, dan itupun juga tanpa permisi. "Hei, Rayyan!" sapa David dengan gaya angkuhnya seperti biasa. "Kamu...?" Rayyan sedikit menggertakkan giginya melihat kelakuan David yang selalu seenaknya. "Tenanglah, Rayyan. Aku keluar, ya," pamit Andre. Rayyan sama sekali tidak menoleh. Dia hanya menganggukkan kepala untuk menjawab Andre, karena kedua matanya masih berfokus pada David yang saat ini tersenyum licik di depannya. Rayyan mengamati David yang berdiri di ambang pintu kantornya dengan senyum angkuh yang selalu sama—senyum yang sejak dulu ia kenal sebagai simbol kesombongan dan hasrat untuk bersaing. "Ada apa, Dav?" tanya Rayyan.

