Bab 27. Ambisi dan Obsesi

1186 Kata

Rayyan tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, seolah sedang menyusun pikirannya. Alan masih menatapnya dengan penuh kebingungan dan rasa ingin tahu. “Kak?” Alan mendorong sedikit bahu kakaknya, berharap bisa mendapatkan jawaban lebih cepat. Rayyan akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Alan dengan sorot mata yang penuh keraguan. "David… dia bukan hanya sekadar saingan, Lan. Dia tahu sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui," ucapnya pelan, suaranya nyaris berbisik. Alan mengernyit. "Tahu apa? Kak, ngomong yang jelas." Rayyan berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela kantornya, menatap gedung-gedung tinggi yang berdiri megah di luar sana. "Ah, lupakan, Lan. Jika waktunya sudah tepat, maka kamu akan kuberitahu." -- Sejak David masuk ke jajaran direksi Angkas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN