"Kita akan lihat, siapa pemenangnya," gumam Sarah.
Sarah tahu benar, sejak awal Evelyn tidak pernah pantas untuk Rayyan—setidaknya di matanya. Wanita itu, meskipun tampak sederhana, bagi Sarah itu semua hanyalah sebuah kepura-puraan.
Evelyn tidak memiliki apa pun yang layak dibanggakan, tidak kecantikan yang mencolok, tidak pula kekayaan atau latar belakang yang sepadan dengan keluarga Permana. Pernikahan mereka adalah bukti dari pembangkangan Rayyan terhadap keluarganya, terutama dirinya. Itulah yang membuat Sarah membenci Evelyn lebih dari siapa pun, bahkan sampai detik ini.
"Kamu akan tahu rasanya menjadi orang asing di mata Rayyan, Evelyn. Aku pastikan kamu akan kalah," bising lagi dengan suara dingin sambil melangkah masuk ke dalam kamar besar yang menjadi saksi dari segala drama keluarga Permana.
Ingatan Sarah kembali pada momen ketika Rayyan mengumumkan pernikahannya. Hari itu adalah salah satu momen paling dia benci.
Ruang makan besar keluarga Permana, yang biasa dipenuhi dengan tawa dan obrolan hangat, mendadak sunyi setelah Rayyan datang. Tatapan tajam dari seluruh anggota keluarga tertuju pada pasangan muda yang berdiri di tengah ruangan. Evelyn tampak menunduk, mencoba menyembunyikan kegugupannya di balik senyuman tipis yang terkesan dipaksakan. Namun, bagi Sarah, senyuman itu terlihat seperti ejekan.
"Mami, Papi, semuanya… Aku ingin memperkenalkan wanita yang akan menjadi pendamping hidupku," Rayyan berbicara dengan nada tegas, namun ada sedikit getaran di suaranya. "Namanya Evelyn."
Suasana hening semakin terasa mencekam. Beberapa orang tampak terkejut, sementara yang lain hanya mengernyitkan dahi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Rayyan!" Suara berat Surya Permana, ayah Rayyan, memecah keheningan. Wajahnya yang biasanya tenang berubah menjadi keras dan penuh amarah. "Apa maksudmu membawa wanita ini ke sini?!"
"Pi—"
"Rayyan, duduk!" Sarah menyela dengan nada penuh otoritas. Namun, Rayyan tak menghiraukan perintah itu. Ia tetap berdiri tegak, menggenggam tangan Evelyn seolah ingin menegaskan keputusannya.
Sarah menatap Evelyn dengan penuh rasa jijik. Bagaimana bisa seorang wanita biasa, tanpa status, berani masuk ke dalam lingkaran keluarga mereka? Lebih dari itu, bagaimana mungkin Rayyan, putra kesayangan mereka, jatuh cinta pada sosok wanita seperti ini?
"Evelyn?" ulang Sarah dengan nada tinggi, menuntut penjelasan. "Kamu pasti bercanda, Rayyan."
"Aku serius, Mami," jawab Rayyan tegas. "Aku mencintai Evelyn, dan aku ingin menikahi Evelyn."
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Sarah. Ia merasakan darahnya mendidih mendengar putranya berbicara seolah keputusan itu hanya urusan pribadinya saja. Evelyn tetap berdiri di samping Rayyan, tampak tegar di luar, tetapi sesungguhnya ia merasa sangat kecil di hadapan keluarga besar yang menilainya tanpa ampun.
"Apa yang kamu pikirkan, Ray? Wanita seperti ini tidak pantas untuk keluarga kita!" sergah Sarah, kali ini tanpa menahan emosinya. "Dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya berpakaian layak. Lihat cara dia berdandan, lihat apa yang dia pakai!"
Rayyan menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Mami, Evelyn mungkin bukan seperti wanita yang biasa kalian temui. Tapi dia adalah wanita yang aku pilih. Dia orang yang membuatku bahagia."
"Bukan tentang bahagia, Rayyan," timpal Surya. "Ini tentang kehormatan keluarga. Kamu tidak bisa asal memilih seseorang yang bahkan tidak tahu bagaimana hidup di dunia kita."
Evelyn yang sedari tadi diam, akhirnya memberanikan diri membuka suara. "Maaf, jika kedatangan saya membuat suasana menjadi tidak nyaman," ucapnya pelan namun jelas. "Saya hanya ingin memperkenalkan diri sebagai seseorang yang Rayyan cintai. Saya tidak bermaksud apa-apa selain mencoba mengenal keluarga yang penting baginya."
Kata-kata Evelyn membuat suasana semakin tegang. Bagi sebagian anggota keluarga, ada sesuatu yang mengesankan dari caranya berbicara. Namun, bagi Sarah, itu hanya sebuah trik untuk terlihat sopan.
"Rayyan, kalau kamu benar-benar serius dengan wanita ini, kamu akan menyesal. Percayalah, wanita sepertinya tidak akan bertahan lama hidup di dunia kita," kata Sarah dengan nada penuh sindiran. "Dan Evelyn, kalau kamu tahu apa yang terbaik untukmu, kamu akan pergi sebelum semuanya menjadi lebih buruk.
Kembali ke masa kini, Sarah menyadari bahwa rasa tidak sukanya terhadap Evelyn tidak pernah berkurang. Bahkan, setiap kali ia melihat wanita itu di rumahnya, ia merasa seperti dihantui oleh kekalahan yang tidak pernah bisa ia terima.
"Mami sudah memberikan yang terbaik untukmu, Rayyan. Tapi kamu malah memilih jalanmu sendiri, melawan semua yang telah Mami rencanakan," gumam Sarah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Ia melangkah perlahan menuju lemari kaca besar di sudut ruangan, tempat ia menyimpan berbagai barang berharga, termasuk album foto keluarga. Dengan hati-hati, ia menarik keluar album itu dan mulai membuka halaman-halamannya.
Setiap foto menceritakan kisah hidup Rayyan sejak kecil, mulai dari ulang tahun pertamanya, kelulusan sekolah, hingga momen-momen kebersamaan mereka sebagai keluarga. Air mata hampir menggenang di sudut matanya saat ia melihat betapa bahagianya Rayyan dalam foto-foto itu, terutama ketika ia masih kecil dan selalu ada di sisinya.
"Tapi sekarang semuanya berubah," bisik Sarah. "Semua karena wanita itu."
--
Sepanjang perjalanan, kepala Rayyan terasa penuh tiba-tiba. Di satu sisi, ia merasa sedikit kesal atas permintaan sang ibu. Di sisi lain, ia merasa bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Evelyn. Apakah dia akan mengizinkan Rayyan pergi dalam keadaan yang sedang hamil?
Pertanyaan sederhana itu, bagi Rayyan adalah sesuatu yang harus dipikirkan. Kehamilan Evelyn adalah kebahagiaan yang hampir mustahil untuk mereka nikmati sejak menikah. Penantian selama lima tahun kini telah terbayar.
Kecintaan Sarah pada Rayyan tak ternilai harganya, apalagi Rayyan adalah putra pewaris utama dari keluarga Permana. Menurut Sarah, Rayyan pantas mendapatkan yang lebih baik, bukan sekadar wanita yang ... baginya, hanya membawa derita dan juga rasa malu.
Sementara itu, di dalam mobil, Rayyan mencoba mengatur pikirannya. Pikirannya berlarian, memikirkan berbagai kemungkinan respons Evelyn saat ia sampai di rumah dan menyampaikan kabar yang tidak menyenangkan ini pada istrinya.
Menurut Rayyan, Evelyn adalah wanita yang penuh pengertian, tetapi sebagai seorang wanita biasa dia juga pasti memiliki batas kesabarannya. Setelah sekian lama tidak bertemu, perasaan rindu telah menumpuk dalam hatinya. Rayyan pun tahu betul bahwa Evelyn sangat menginginkan waktu mereka bersama. Hidup dalam rumah tangga yang harmonis dengan ditemani buah hati yang sudah lama mereka idamkan.
Namun, ketidaksetujuan Sarah terhadap pernikahannya dengan Evelyn selalu menjadi duri dalam rumah tangga mereka. Sarah tak henti-hentinya berusaha untuk mencari-cari celah atas kekurangan yang ada dalam diri Evelyn. Di mana hal itu semakin memperkeruh hubungan antara ibu dan menantu itu. Apa pun yang Evelyn lakukan seakan tak pernah cukup dan akan selalu salah di mata mertuanya.
"Wajar saja, Mami nggak heran. Dia kan memang pada dasarnya memang layak jadi pembantu!"
Rayyan teringat kembali percakapan mereka tadi di ruang tamu. Ia tahu, dalam hati kecilnya Sarah tak pernah benar-benar bisa menerima Evelyn. Pernikahan itu, di mata Sarah adalah sebuah keputusan impulsif yang dibuat Rayyan tanpa memikirkan masa depan. Meskipun sudah menikah bertahun-tahun, tak sedikit pun sikap Sarah melunak terhadap menantunya. Bahkan dalam berbagai kesempatan, Sarah terus berusaha menunjukkan ketidakpuasannya.
"Aku tidak bisa berhenti sekarang. Maaf, Lyn." Rayyan berbicara pada dirinya sendiri.