"Temani Oma ke luar kota, Rayyan!"
Suara tegas Sarah, ibu Rayyan, menggema di ruang keluarga. Meski sudah terbiasa dengan permintaan mendadak sang ibu, kali ini Rayyan merasa keberatan.
"Come on, Mam, yang benar saja ..." Rayyan memprotes dengan suara lelah. "Rayyan baru saja pulang dinas, Mam. Rayyan udah beberapa bulan ini sibuk di luar, terus sekarang Mami minta Rayyan buat temani Oma pergi ke luar kota?!"
"Mau bagaimana lagi, Rayyan ... Oma sendiri yang minta biar kamu yang temani, enggak lama, kok ... Paling cuma dua hari saja." Sarah tetap menekankan perintahnya pada Rayyan. Inilah hal penting yang ingin Sarah sampaikan pada Rayyan di telepon tadi.
Rayyan memijat keningnya, helaan napas panjang pun keluar dari mulutnya. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Evelyn saat tahu jika mereka harus kembali berpisah setelah baru saja bertemu. Apalagi untuk saat ini. Bagaimana mungkin Rayyan meninggalkan Evelyn di saat dia sedang mengandung?
Dengan ragu, Rayyan mencoba mencari jalan tengah. "Rayyan boleh ajak Evelyn, Mam?" tanyanya.
"Nggak usah! Buat apa kamu ajak dia, Ray? Kamu tahu betul kalau Mami enggak suka dekat-dekat dengan wanita kampung itu!" sergah Sarah cepat. Aroma penolakan pun tak dapat ditutupi dari kata-katanya.
"Tapi, Mam ... Mau gimana pun, Evelyn tetap menantu Mami. Mami juga tahu kalau sekarang Evelyn sedang hamil. Please, jangan gunakan kata-kata seperti itu lagi pada istri Rayyan, Mam." Rayyan akan tetap kukuh membela Evelyn, karena memang Evelyn adalah istrinya.
Sarah, yang duduk di kursi empuknya, bangkit berdiri dengan gestur yang menunjukkan ketidaksabaran. "Apa susahnya Mami minta waktu untuk dua hari saja? Sedangkan dia, sudah merebut kamu dari Mami selama bertahun-tahun ini."
Rayyan terkejut. Kata-kata "merebut" itu seperti pisau yang menusuk telinganya. Ia menatap ibunya dengan ekspresi terluka, mencoba menahan amarah yang berkecamuk dalam dadanya.
Sejak awal, ia tahu bahwa hubungan antara ibunya dan Evelyn memang tidak mudah. Namun, mendengar Sarah menyebut Evelyn sebagai perebut membuat hati Rayyan terasa ngilu. Baginya, Evelyn adalah cinta yang telah ia pilih, bukan sekadar wanita yang datang untuk mengisi kekosongan hidupnya.
"Mam, tidak ada yang merebut Rayyan dari Mami. Rayyan tetap anak Mami, dan Evelyn… dia adalah istri Rayyan, seseorang yang Rayyan cintai dan pilih untuk hidup bersama," jawab Rayyan dengan suara yang nyaris bergetar. “Jadi tolong, Mami juga harus menerima kenyataan itu.”
Sarah mendengus kesal. "Kenapa kamu begitu keras kepala, Rayyan? Wanita itu bukan apa-apa, dia hanya akan menjadi beban bagimu," ucap Sarah, tatapannya menyala penuh rasa tidak suka. "Kamu tahu, dia tidak pernah cocok dengan keluarga ini. Dia itu begitu... Kampungan. Mami hanya ingin yang terbaik untuk kamu."
Rayyan memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Ia sudah terlalu sering mendengar ibunya merendahkan Evelyn, tetapi tidak pernah sesakit ini. Ia tahu Sarah hanya ingin menjaga posisinya sebagai seorang wanita yang paling berpengaruh dalam hidup Rayyan, tetapi Rayyan tak bisa terus-menerus membiarkan ibunya memperlakukan Evelyn dengan cara seperti ini.
"Mami, sampai kapan Mami akan bersikap dingin dengan Evelyn? Dia sudah hamil, dan Mami mau minta apa lagi dari dia?" sergah Rayyan.
"Untung saja dia hamil, kalau enggak... Mami akan segera carikan istri baru buat kamu, Ray. Istri yang nggak hanya bisa jadi beban!" jawab Sarah singkat.
"Mam," ujar Rayyan akhirnya, suaranya mulai meninggi meski tetap terkontrol. "Evelyn tidak pernah jadi beban Rayyan. Jadi tolong, Mami hargai dia. Evelyn tidak pernah berbuat salah 'kan sama Mami."
Sarah menatap Rayyan tajam, meski suara protesnya mulai melemah. "Kalau begitu, buktikan kalau dia pantas berada di keluarga ini. Sampai hari kelahiran anak kalian itu tiba, jangan minta Mami untuk berubah pikiran."
Rayyan tidak bisa mencari jalan keluar lain selain mengalah pada perintah Sarah. Dia tidak mau ambil risiko jika kelak akan terjadi keributan karena penolakannya, Evelyn pasti mengerti—pikirnya. Rayyan meraih pundak Sarah, lalu memijatnya dengan perlahan agar maminya sedikit lebih tenang.
Kedua mata Sarah pun berbinar mendengar permintaannya dituruti oleh sang putra semata wayang. "Benarkah itu, Rayyan?"
"Yes, Mam." Rayyan pun mengangguk, tanda setuju. "Kapan kita pergi?"
"Besok siang, Mami sudah buat janji dengan dokter yang akan memeriksa Oma," jawab Sarah cepat.
"Oke, besok siang akan Rayyan jemput. Sekarang, Rayyan balik dulu," ujarnya kemudian.
"Sekarang?" tanya Sarah.
"Iya, Mam."
"Kamu nggak dinner di sini saja, Rayyan?" Tampak sekali gurat keberatan di wajah Sarah.
"Nggak, kasihan sama Evelyn, Mam. Lagi pula, akan bahaya juga kalau Rayyan pulang terlalu malam, kan Rayyan harus nyetir sendirian." Rayyan mencoba mencari alasan agar Sarah tidak mencegahnya.
Sarah mendengus kesal. "Makanya pakai sopir, Ray! Kamu itu kalau dibilangin suka nggak nurut apa kata Mami. Jangan kayak orang susah!"
"Bukan nggak mau, Mam. Tapi Evelyn nggak suka jika terlalu banyak orang di rumah, Mam. Kalau Rayyan nggak paksa juga, mungkin dia sendiri yang akan urus rumah tanpa bantuan Bi Ijah. Semandiri itu istri Rayyan, Mam," puji Rayyan pada sang istri, berharap agar Sarah sedikit tersentuh.
Alih-alih tersentuh, Rayyan justru mendapatkan jawaban yang mengejutkan. "Wajar saja, Mami nggak heran. Dia kan memang pada dasarnya memang layak jadi pembantu," hardik Sarah.
"Mam ...!"
"Oke, terus saja kamu bela istrimu itu. Pokoknya, besok jangan terlalu siang, kasihan Oma kalau harus menunggu terlalu lama." Sarah mengalihkan pandangan dari Rayyan.
"Iya, Mam. Rayyan jalan dulu, ya. Bye, Mami," pamit Rayyan pada akhirnya.
"Bye, Sayang. Hati-hati di jalan ya."
Rayyan pun berlalu pergi dan segera melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Bayang-bayang Evelyn yang mungkin sedang merajuk masih terus menghantuinya. Andai dia tahu jika saat ini istrinya justru sedang asyik bergumul dengan pria lain, mungkin dia akan menyesali segala pengorbanan yang telah dia berikan pada Evelyn.
Di dalam rumah, Sarah menatap jendela, mengawasi anaknya yang perlahan hilang dari pandangan. Dalam hati, ia merasa puas karena Rayyan akhirnya menurut tanpa banyak perlawanan.
"Kamu tetaplah anak Mami, Rayyan. Wanita udik itu, tak akan pernah bisa menjadi menantu idaman." Sebuah senyuman pun seketika tersungging di sudut bibir Sarah.
Sarah adalah ibu Rayyan, istri dari Surya Permana, maka dia tidak aka pernah membiarkan Rayyan menjadi kucing. Rayyan adalah darah singa—begitu pikirnya. Tapi memang sejak Rayyan bersama Evelyn, Rayyan sudah seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Begitu menurut kepada istrinya dan susah untuk diberitahu. Selalu saja ada perbedaan pendapat antara mereka berdua, dan Sarah sangat tidak suka akan hal itu.