Bab 9. Istri Orang

1036 Kata
Usai menuntaskan has*** kelelakiannya, Rayyan pun buru-buru mandi dan lekas keluar untuk melihat siapa yang baru saja menghubunginya. Sedangkan Evelyn, ya... tentu saja dia masih merasa kecewa di dalam sana. Rayyan menghela napas dalam-dalam, menahan rasa jengkel yang muncul ketika melihat nama ibunya, Sarah, tertera di layar. Ia berusaha tetap tenang dan segera menghubungi kembali. "Hallo, Mam. Tadi maaf ya, lagi mandi," jawab Rayyan yang mencoba menenangkan ibunya. Di ujung sana, terdengar suara Sarah terdengar tegas dan penuh emosi, "Rayyan! Kamu kenapa lama sekali angkat teleponnya? Mami sudah mencoba beberapa kali menelepon! Ada hal penting yang harus segera kita bicarakan." Rayyan sedikit terkejut dengan nada tegas yang keluar dari mulut ibunya, namun ia tetap menjaga nada suaranya. "Maaf, Mam. Rayyan 'kan sudah bilang kalau tadi lagi mandi. Memangnya ada hal apa sih, Mam? Kok kayaknya penting banget?" “Sudahlah, Ray. Kamu nggak usah banyak tanya! Pokoknya kamu harus datang ke sini sekarang juga. Ada hal yang tak bisa Mami katakan lewat telepon,” desak Sarah. "Iya deh, Mam. Tunggu, ya...." Rayyan pun akhirnya mengiyakan apa yang menjadi permintaan sang ibu meskipun merasa keberatan. Rayyan merapikan pakaiannya. Rasa lelah karena pergumulan tadi masih terasa, tapi dia tidak bisa terus berleha-leha di rumah karena Sarah sudah memintanya untuk segera datang. Rayyan merasa sedikit bingung, namun juga penasaran. Sarah memang jarang berbicara dengan nada sekeras ini kecuali ada hal yang sangat serius. Sementara itu, Evelyn yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi hanya bisa mengamati suaminya yang terlihat sedikit gelisah. "Siapa, Mas?" tanya Evelyn setelah Rayyan meletakkan ponselnya. "Mami. Aku harus pergi ke rumah Mami, Lyn. Ada sesuatu yang penting katanya," kata Rayyan, sambil menatap Evelyn dengan sedikit tak tega. "Kayaknya Mami beneran butuh aku sekarang, Lyn." Evelyn mengangguk dengan tenang meskipun dalam hatinya ia sedang tersenyum senang. “Ya udah, ke sana aja, Mas." Rayyan mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra sebelum mengambil kunci mobilnya. Jika mengikuti kata hati, sebenarnya dia juga ingin tinggal dan menghabiskan waktu bersama sang istri, tapi rasanya sulit untuk mengabaikan panggilan dari Sarah. "Mas usahakan pulang cepat, jadi jangan ngambek, ya?" Rayyan berkata lembut sembari mengusuk pucuk kepala istrinya. Evelyn membuang muka. Rasanya seolah privasi rumah tangga mereka tetap diganggu meski sudah pergi menjauh—batinnya. "Nggak, Mas. Hati-hati di jalan, ya," ucap Evelyn dengan memaksakan senyum di wajahnya. "Kamu memang istri terbaik, Sayang. Mas jalan dulu, ya ...." pamit Rayyan, tetapi Evelyn enggan sekali untuk menjawab, dia tetap menatap langit dari balik jendela besar di kamar mereka. Rayyan melangkah pergi, menuju istana keluarga Permana untuk memenuhi panggilan sang ibunda. Sedang Evelyn, kini menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Akibat hasr** yang tidak tersalurkan hingga tuntas, serta rasa kesalnya karena waktunya bersama Rayyan terganggu, Evelyn merasa suasana hatinya sore itu sangat kacau. Drrttt' Evelyn meraih ponselnya, lalu membuka pesan yang masuk dari orang yang sudah dia tunggu-tunggu. Andre: Rayyan keluar? Evelyn: Ya. Andre: Aku akan datang, segera. Evelyn: Datang saja! Aku sedang ingin. Pucuk dicinta ulam pun tiba, seperti itu ibaratnya. Evelyn yang memang sedang kecewa karena Rayyan yang selalu tidak bisa memberikan kepuasan baginya, segera membuka pakaian tidur yang sudah dikenakannya. Dia sengaja melakukan hal itu untuk menyambut Andre yang sebentar lagi akan datang. Tidak perlu menunggu terlalu lama, pria itu pun benar-benar datang ke rumahnya. "Kamu merindukanku, Honey?" tanyanya. Tanpa aba-aba, pria itu pun segera mencium pipi Evelyn dengan gemasnya. Melihat Evelyn mengenakan pakaian seperti itu, mana mungkin dia tidak merasa bira**. "Tunggu ... apa di luar sudah aman?" tanya Evelyn seraya menahan bibir yang sedari tadi menyerang tubuhnya. "Tenang saja, Sayang." "Apa kamu yakin kalau Bi Ijah tak akan buka suara?" tanya Evelyn was-was. "Dia bisa apa, Sayang? Sudahlah, semuanya aman ... aku nggak tahan lagi, nih." Wajah Andre tampak tersiksa ketika Evelyn menahan gerakannya. Andre kembali menciumi tubuh Evelyn dengan membabi buta, sedangkan Evelyn sendiri hanya bisa menikmati hal yang memang dia butuhkan saat itu. "Lagi, Honey," pinta Evelyn dalam kenikmatan yang tertahan. Hal itulah yang tidak bisa dia dapatkan dari Rayyan, bahkan sedikit saja tidak bisa dia bandingkan dengan apa yang dia rasakan dari Andre. Setiap sentuhannya mampu membangkitkan gairahnya yang tadi sempat meredup. Pria itu menggendong Evelyn menuju kasur mewahnya, mereka berdua memadu kasih di tempat yang suci, tempat di mana harusnya hanya menjadi milik Evelyn dan Rayyan saja. "Love you, Honey," ucap Evelyn. "Love you too ... istri orang," balasnya. Sontak Evelyn menjauhkan tubuh Andre dari atasnya. Dia sangat tidak suka jika Andre membahas Rayyan saat mereka sedang berdua seperti ini. "Sudah aku bilang, 'kan?" "Iya, maaf. Tapi memang benar jika kamu adalah istri orang, Lyn," lanjutnya. Evelyn pun hanya bisa terdiam, karena apa yang pria itu ucapkan adalah kebenaran. Tapi tetap saja Evelyn juga tidak dapat melepaskan keduanya. Cinta sungguh telah membuatnya menjadi buta. Sedangkan nafsu, membuatnya lupa segalanya. "Sudah sana, pergi," titah Evelyn. "Eh, cuma gitu aja? Kamu hanya butuh aku untuk ini?" protes Andre. "Bukan, Sayang. Aku hanya takut jika Rayyan segera pulang," elak Evelyn. "Tunggu sebentar lagi, sepertinya dia akan lama berada di dalam Istana Permana," jawabnya yang kemudian melingkarkan kaki di atas tubuh Evelyn, mendekapnya dan kemudian memejamkan kedua matanya. Evelyn benar-benar tak habis pikir melihat sikap Andre yang begitu santai. Alih-alih pergi seperti yang diminta, pria itu justru tertidur pulas dalam pelukannya, seolah tak ada rasa takut atau khawatir sedikit pun akan kehadiran Rayyan. “Dasar nggak peka!” gumam Evelyn pelan, seraya mencoba menggerakkan tubuh Andre yang masih terlelap. Namun, bukannya bangun, pria itu malah semakin erat memeluk dirinya. “Sayang… bangun, dong!” bisik Evelyn sambil menepuk pipi pria itu dengan lembut. “Hm… sebentar lagi, Lyn. Nyaman banget di sini,” jawab pria itu sambil memejamkan mata lebih erat, sama sekali tak berniat beranjak. "Rayyan bisa pulang kapan saja!" Evelyn menarik selimut yang menutupi tubuh mereka dan mencoba bangkit, tapi pria itu dengan sigap menariknya kembali. "Tenang aja, Sayang. Aku udah tahu seperti apa Rayyan. Kalau maminya yang manggil, dia pasti lama," sahut pria itu dengan santainya. “Kamu ini nggak ngerti situasi atau gimana, sih?” Evelyn menatap pria itu tajam. “Kalau sampai Rayyan pulang lebih cepat dan lihat kamu di sini, kita bakal tamat!” Pria itu akhirnya membuka matanya sedikit, lalu tersenyum licik. “Kalau gitu, kita nikmati waktu yang tersisa, Sayang….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN