“Suruh dia masuk, Bi!” perintahnya. "Ta-tapi, Nyonya... saya takut kalau ketahuan," ucap Bi Ijah ragu-ragu. "He, Bi! Kerjakan saja apa yang aku minta, cepat!" serunya hingga membuat Bi Ijah tersentak kaget. Bi Ijah hanya bisa meneguk salivanya yang terasa pahit. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengangguk, hingga waktu sendiri yang akan membuka semua tabirnya. "Baik, Nyonya." Bi Ijah berlalu pergi, menghampiri pria yang saat ini masih berdiri dan menunggu di luar sana. "Nyonya bilang silakan masuk, Tuan." "Sudah kubilang, dia pasti mengizinkannya. Dasar wanita tua bangka!" hardiknya. Pria itu langsung menerobos masuk, tak memedulikan tatapan penuh kekhawatiran dari Bi Ijah. "Sialan!" umpatnya yang kemudian mengunci pintu kamar Evelyn rapat-rapat. Begitu Evelyn melihatnya

