“Saya mau kamu malam ini, Anna.”
Anna menggelengkan kepalanya. Dia berusaha menghindar dengan cara merangkak naik ke atas kasur. Namun pergerakan Anna kalah cepat dengan tangan Adam yang langsung menarik kedua kakinya. Anna memekik karena kaget. Walaupun masih sah sebagai suami istri, Anna tidak mau melayani suaminya. Selain teringat soal perselingkuhan, mereka juga akan bercerai. Lebih dari itu, Anna sedang hamil muda. Dia belum sempat konsultasi kepada dokter kandungan.
“Kamu itu istri saya, Anna. Saya berhak atas kamu, saya juga ngga perlu izin dari kamu.”
“Egois!” Anna menendang tubuh Adam, namun pria itu dengan cepat menindihnya.
“Terseah kamu kamu cap saya apa, An.” Adam merunduk, menempelkan bibirnya ke bibir Anna. Dia membungkam mulut sang istri agar berhenti bicara.
Anna yang tidak terima terus memberontak. Dia menggeleng ke kanan dan kiri agar ciuman itu terlepas. Akan tetapi hal itu tak membuat Adam gentar. Dia meraih kedua tangan Anna, menggenggamnya dengan erat tanpa melepaskan pangutannya. Anna yang kekuatannya tidak seberapa terus memberontak di bawah kungkungan Adam.
Suara decakan terdengar menggema di dalam kamar yang sunyi. Cumbuan Adam turun ke leher. Di sana, dia memberi tanda cinta yang sangat merona. Dengan brutal Adam menyesap, menjilat leher Anna yang tubuhnya terus bergeliat. Dari leher, Adam kembali menyambar bibir Anna. Membuat wanita itu berhenti memaki. Permainan Adam kali ini cukup kasar, tidak ada kelembutan seperti dulu.
Adam yang sedang menahan amarah melepaskan pangutannya. Dengan cepat dia membuka baju dan celana miliknya. Begitupun dengan Anna. Dia dengan paksa meloloskan semua yang ada di tubuh istrinya. Sampai istrinya saat ini polos tanpa benang sehelai pun.
“Mas, stop! Aku bilang stop!”
Adam tak menghiraukan itu. Dia kembali menarik kaki Anna, memposisikan dirinya di bawah sana. Tanpa adanya pemanasan, Adam langsung melakukan penyatuan. Rasa sakit yang menjalar, membuat Anna memekik. Sungguh, ini sangat menyiksanya.
“Aku bersumpah, aku ngga akan pernah maafin kam—aahh!” Anna mendesis, mencengkram kuat speri. Karena memang hanya itu penolongnya saat ini.
Air mata Anna menetes. Kalau sudah seperti ini memberontak pun percuma, tidak akan membuahkan hasil apapun. maka dari itu Anna hanya diam dan pasrah tubuhnya dikuasai oleh sang suami. Benar, setelah ini Anna tidak akan pernah memaafkan Adam. Empat tahun bersama, baru ini suaminya meminta hak tetapi dilakukan secara paksa. Dulu, mana pernah dia seperti ini.
Desahan Adam berbanding terbalik dengan Anna yang meringis kesakitan. Pria itu juga tidak menghiraukan tangisan istrinya. Adam sudah hilang akal, dia sudah tidak bisa berfikir jernih. Emosinya kembali memuncak saat mengingat permintaan Anna untuk bercerai.
Tubuh Anna terguncang ke sana kemari, yang bisa dia lakukan hanya menangis sambil menggelengkan kepalanya.
“Mas, stop!”
“Saya ngga akan ceraikan kamu, Anna. Kamu dan Aira akan hidup berdampingan, ngga akan ada yang saya lepas,” rancu Adam. Pergerakan pria itu semakin kencang, membuat Anna semakin kesakitan dibuatnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Adam mendapatkan pelepasan. Dia mendorong kuat miliknya, membenamkan di dalam milik Anna. Tubuh Adam merunduk, saat akan mencium, Anna menolak. Dia memalingkan wajahnya ke kanan. Yang Anna harapkan sekarang hanya satu. Yaitu anaknya baik-baik saja setelah kejadian ini.
Tangan besar Adam menangkup wajah Anna. Dia menyelusupkan satu tangannya ke tengkuk, menahan agar wanita itu tidak memalingkan wajahnya. Anna yang pergerakannya dikunci hanya pasrah. Dia sama sekali tidak membalas pangutan Adam. Saat ini Adam benar-benar seperti main dengan patung. Tidak ada balasan, tidak ada suara, hanya ada keheningan.
Puas menyalurkan hasratnya, Adam menarik diri. Mencabut miliknya, lalu dia berbaring di samping Anna yang masih menangis. “Kenapa harus nangis? Saya itu suami kamu, An. Saya berhak atas tubuh kamu. kenapa sekarang kamu jadi begini?”
“Kamu masih tanya, Mas? Kamu itu selingkuh! Bahkan kamu hamilin wanita lain! Sampai sini kamu masih berani nanya lagi? Gila kamu.”
Adam mengusap wajahnya frustasi. “Saya khilaf, Anna. Saya juga ngga tau kalau akan jadi secepat ini. Saya ngga ada niat nyakitin kamu. Maka dari itu saya ngga mau bercerai sama kamu. Jangan bahas perceraian lagi. Kit—”
“Ngga. Kita akan tetap bercerai. Aku mau kita bercerai sebelum kamu menikahi Aira. Kalau kamu ngga mau urus, biar aku yang gugat kamu. Gugatan aku kuat, adanya perselingkuhan dan perzinahan di sini.” Setelah mengatakan itu Anna bangkit dari posisi rebahannya.
Dengan langkah tertatih karena rasa sakit dimiliknya, Anna mengambil baju lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin segera membersihkan tubuhnya dari sentuhan-sentuhan Adam.
Seperginya Anna, Adam menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Sungguh, dia kefikiran dengan perkataan Anna. Apa wanita itu sungguh-sungguh akan menggugatnya? Yang Anna katakan benar, perceraian mereka akan mulus kalau ada unsur perselingkuhan apalagi zinah. Pasti akan langsung dikabulkan.
“Arghh!” Adam mengacak-acak rambutnya. Dia kembali menyibak selimut, bangkit dari rebahannya. Adam mengambil kaos serta celana yang tadi dia lempar ke lantai.
Setelah memakai baju Adam keluar kamar. Dia berniat membuat kopi demi menenangkan fikirannya. Saat akan menuju dapur, Adam papasan dengan Ica.
“Mas, maaf. Di depan ada tamu. Katanya mau ketemu sama mas Adam. Saya suruh masuk ngga mau, dia nunggu di teras,” ujar Ica.
Sebelah alis Adam terangkat. Tamu? Siapa yang bertamu malam-malam seperti ini? Adam mengangguk, dia mengurungkan niatnya ke dapur, lalu beranjak ke depan rumah. Saat keluar, Adam dibuat kaget karena ternyata yang datang Aira. Tubuh wanita itu basah kuyup, bahkan sampai menggigil.
“Aira?”
“Mas Adam.”
“Kamu ngapain ke sini? Kenapa juga hujan-hujanan?”
Aira berhamburan ke pelukan Adam. Wanita itu menangis, sambil memeluk erat. “Mama sama papa, Mas.”
“Tenang dulu, Ai, jangan cerita sambil nangis gini. Ayo masuk dulu, badan kamu dingin banget,” ajak Adam.
Tanpa melepaskan pelukannya, Aira masuk ke dalam rumah. wanita itu masih sesegukan, Adam benar-benar dibuat bingung. Di ruang tamu, keduanya duduk di sofa. Dengan lembut Adam mengusap punggung Aira.
“Ada apa, Ai?”
“Mama sama papa tau kalau aku hamil. Mereka liat test pack aku di laci. Tadi mereka marah besar sama aku, Mas. Aku takut. Aku diintrogasi, tapi aku belum bilang kalau yang di dalam kandunganku anak kamu,” jawab Aira dengan bergetar.
Tubuh Adam membeku. Situasi kini semakin runyam, benar-benar runyam.
“Mas, bisa kita percepat pernikahannya? Bisa Mas jujur ke orang tuaku? Bantu aku jelasin ke mereka, Mas,” pinta wanita itu. pelukannya semakin erat pada tubuh Adam.
Kedua mata Adam memejam sejenak. Lalu dia menjawab, “besok kita temuin orang tua kamu, Ai.”
***