bc

Pelukan Terakhir Sebelum Berpisah

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
doctor
drama
bxg
brilliant
affair
like
intro-logo
Uraian

Menjalin hubungan rumah tangga selama 4 tahun berakhir sia-sia saat Adam—suami Anna berkhianat. Hanya karena belum dikaruniai anak, pria itu memilih menikah lagi dengan sepupu Anna. Anna yang tidak siap dimadu memilih untuk bercerai.Tapi siapa sangka, Anna pergi dari hidup Adam tidaklah sendirian. Tetapi dia pergi bersama calon anak yang belum diketahui oleh Adam. Di tengah kekalutan Anna, sosok dari masalalu kembali hadir mewarnai kehidupannya.Lantas, apa yang akan Adam lakukan setelah tahu kalau Anna pergi membawa benihnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Izin Menikah Lagi
“Anna, saya mau izin menikah lagi.” Bak tersambar petir di siang hari, Anna dibuat mematung mendengar pernyataan sang suami. Suaminya itu baru pulang, baru masuk kamar, bahkan Anna belum membalikkan tubuhnya untuk menatap. Dunia Anna seketika hancur, namun ada rasa tak kaget juga. Pokoknya semua beradu menjadi satu di hatinya. Kedua tangan Anna saling meremas kuat, membuat kukunya memutih. “Keputusan ini juga udah didukung sama mama. Saya udah rundingan, dan inilah keputusannya. Saya harap kamu mengerti dan paham sama situasi yang ada.” Sudut bibir Anna tertarik. Keputusan macam apa yang dibuat dengan sepihak seperti itu? Berharap dimengerti? Sungguh, Anna tidak mengerti dengan jalan fikiran Adam—suaminya. d**a Anna terasa sesak, saking sesaknya dia sampai tidak bisa menarik napas. Kepala Anna menunduk, dia menatap test pack di tangannya. Garis dua. Garis yang tidak berubah setelah dia lihat berkali-kali. “An, katanya tadi kamu mau bicara sesuatu? Bicaralah, setelah itu saya mau mandi,” ujar Adam, sambil membuka kancing kemeja bagian atasnya. Anna kembali meremas test pack itu, lalu dia berbalik menghadap Adam. Kedua tangannya dia sembunyikan di belakang. Tidak ada air mata yang menetes, tidak ada amukan, yang ada hanya ketenangan. Ketenangan yang sesungguhnya sangat mematikan. Malam ini, seharusnya menjadi malam bahagia. Bagaimana tidak bahagia, Anna ingin memberi kejutan atas kehamilannya. Kehamilan yang sudah mereka tunggu selama empat tahun lamanya. Melihat istrinya terdiam Adam menyeritkan kening. “Kenapa kamu diam? Ayo bicara, jangan diam aja. Saya mau mandi, gerah.” “Maksud omongan kamu yang tadi … apa kamu serius, Mas?” Adam menganggukan kepalanya. “An, saya butuh keturunan, begitupun dengan mama yang udah mendesak saya. Dia ingin cucu, dan kamu ngga bisa kasih itu sampai sekarang. Daripada mama yang keduluan bicara sama kamu, lebih baik saya yang menyampaikan. Kamu setuju, ‘kan? Saya Cuma butuh anaknya.” “Kalau aku ngga setuju, apa akan merubah rencana kalian?” Lagi, Adam menggelengkan kepalanya. Melihat itu Anna tersenyum kecut. Jadi, apa gunanya ditanya setuju atau tidak? “Mandilah, Mas, aku akan siapkan makanan untukmu,” kata Anna dengan lembut. Tidak membantah, Adam bergegas meninggalkan Anna. Pria itu mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Saat terdengar suara pintu terkunci, Anna menghembuskan napasnya. Buru-buru dia menuju lemari, memasukkan test pack yang sejak tadi dia genggam, lalu lemari itu dia kunci. Jantung Anna berdegup kencang, fikirannya sudah kacau. Meninggalkan kamar, Anna menuju dapur. Dia sudah masak, karena Adam pulang telat, jadi dia tinggal memanasi makanannya supaya hangat. Anna memanasi sayur sop. Saat sedang memanasi dia melamun, memikirkan bagaimana nasib rumah tangganya yang di ujung tanduk. Empat tahun menjalin rumah tangga, berawal sama-sama berkomitmen dan tidak mempermasalahi soal anak, tetapi di detik-detik anniversary ke empat semuanya berbalik. Hati wanita mana yang tidak sakit mendengar suaminya meminta izin untuk menikah lagi? Sebelum ini terjadi, suaminya memang sudah berubah. Begitupun dengan mertuanya. Anna mencoba berpositif thinking, tetapi pada kenyataannya realita berbanding terbalik. Keasikan melamun, tangan Anna menyenggol panic yang panas. Wanita itu merintih, namun tetap tidak mengeluarkan air mata. Setelah memanasi semua masakan, dia menyajikannya di meja makan. Sambil menunggu sang suami turun, Anna beriniasitaif membuatkan kopi. beberapa menit berlalu, Adam turun dari lantai atas. pria itu langsung duduk di kursi. Seperti biasa, Anna dengan cekatan melayani dengan cara mengambilkan nasi serta lauk. “An, kamu mau bicara apa? Kejutan apa yang kamu maksud?” tanya Adam. Dia masih penasaran dengan apa yang Anna sembunyikan. Pasalnya tadi sore, suara Anna ditelepon terdengar sangat bahagia. “Ngga ada apa-apa, Mas. Ini dimakan dulu mumpung masih panas.” Anna meletakkan piring yang sudah terisi nasi serta lauk ke hadapan Adam. “Kalau aku boleh tau, siapa wanta pilihan kalian?” sambungnya. Adam menatap Anna. Sejujurnya dia tidak tega melakukan ini. Tapi apa daya, keadaan memaksanya. Tak kunjung mendapat jawaban Anna mengangkat kepala menatap Adam. “Siapa, Mas?” “Aira. Mama mengusulkan untuk saya menikahi Aira. Mama juga udah bicara, dan Aira setuju, dia ngga keberatan.” Tubuh Anna melemas. Dari banyaknya wanita dimuka bumi ini, kenapa harus Aira pilihan mereka? Tentu Anna kenal dan tahu siapa Aira. Aira Putri Faradhilla, sepupu Anna. Bisa dibilang, Aira dan Anna sangat dekat. Dan kenapa Aira dengan lugas mengiyakan ide gila ini? Pertahanan Anna hampir runtuh. Wanita itu menunduk, meremas kedua tangannya. “Aira sepupuku?” “Iya, An. Mengingat kita juga udah saling mengenal,” jawab Adam santai. “Kalian juga sangat dekat, ‘kan? Jadi ngga susah beradaptasi,” sambungnya. Sepupuku adalah maduku. Apakah judulnya akan seperti itu? Anna mengangguk-anggukan kepalanya. “Kamu lanjutin makannya, aku mau ke kamar mandi dulu.” Setelah mengatakan itu Anna bangkit dari duduknya. Dengan langkah cepat dia menuju kamar mandi yang ada di samping dapur. Anna masuk, mengunci rapat pintu. Dibalik pintu Anna bersandar dengan napas memburu. Anna meletakkan satu tangannya di d**a, matanya terpejam. Dan ya, pertahanan wanita itu luruh. Mungkin di kamar tadi Anna masih bisa menahan, tetapi setelah tahu siapa calon madunya, Anna tidak bisa menahan lagi. Air mata Anna menetes, bahunya terguncang. Nasib rumah tangganya benar-benar ada di ujung. Apakah Anna siap melihat suaminya menikah lagi? Tentu saja tidak. Cukup lama Anna di dalam kamar mandi. Wanita itu menangis, mencoba menenangkan dirinya. Setelah merasa agak tenang, Anna mencuci muka. Lepas itu dia kembali keluar menuju ruang makan. Sakit sih, tetapi masih ada hal yang mau Anna tanyakan. “Mas,” panggil Anna. “Kenapa?” “Selain alasan yang tadi, alasan apa lagi yang akhirnya membuat kamu memilih Aira daripada wanita lainnya?” Adam terdiam cukup lama. Haruskah dia berkata jujur pada istrinya sekarang? Apa itu tidak akan menyakitkan? Menurutnya, dua kabar tadi saja sudah sangat menyakitkan hati. Anna menatap lekat wajah suaminya. Suami yang sejak dulu selalu jadi garda terdepan untuknya. Kini, dalam waktu dekat, Anna harus berbagi suami pada wanita lain. “Kenapa Mas diam?” “Lebih baik kita bahas besok lagi, An. Malam ini kamu istirahat dulu aja, tenangin fikiran. Besok kalau udah fresh, baru kita bahas lagi,” jawab Adam. Kening Anna menyerit. “Kenapa harus besok? Aku mau dengar semuanya sekarang. Aku mau semua fakta menyakitkan itu selesai malam ini. Aku ngga mau tidur dalam keadaan overthinking.” “An.” “Mas Adam.” Dalam-dalam Adam menarik napasnya, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Lidahnya sangat keluh untuk mengatakan ini. Tapi kalau tidak diberitahu, Anna pasti akan terus bertanya. “Kenapa, Mas?” tanya Anna dengan suara bergetar. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
479.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
848.2K
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
782.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
2.4M
bc

The Rejected Mate

read
1.7M
bc

Unscentable

read
1.6M
bc

Fake Dating My Ex's Hockey Star Brother

read
205.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook