“Semalam kamu belum jawab pertanyaan aku, Mas.”
Adam yang masih bersiap tak menghiraukan perkataan sang istri. Ya, memang pembicaraan semalam di ruang makan masih menggantung. Adam belum menceritakan semuanya kepada Anna. Selain takut menyakitkan lebih jauh, Adam sendiri belum siap.
“Mas Adam, aku lagi bicara sama kamu.”
Setelah mengambil jas dokter miliknya Adam menatap lamat sang istri. “Aira hamil, dan dia hamil anak saya, An. Saya harus bertanggung jawab. Saya janji, dengan saya menikah dengan Aira, ngga akan mengubah kehidupan kita.”
Pagi Anna seketika berubah gelap. Bersamaan dengan penuturan Adam, hujan tiba-tba mengguyur. Hati Anna mencelos, tubuhnya bergetar. Aira? Sepupunya hamil anak suaminya? Mereka sudah sejauh itu di belakangnya?
“M-mas?”
“Maaf, An, saya khilaf. Maka dari itu saya mau bertanggung jawab, selain itu juga memang saya butuh keturunan.”
Anna membuang wajahnya ke arah lain. Dunianya sangat runtuh, tetapi Anna tidak mau menangis di depan Adam. Tanpa menatap Anna bertanya, “kapan rencana pernikahan kalian?”
“Minggu depan.”
“Kalau gitu sebelum hari H, kamu urus perceraian kita dulu, Mas.”
Kening Adam mengerut. Perceraian? Apa maksudnya?
“Nanti semua berkas aku ser—”
“Apa maksud kamu?!” Suara Adam sedikit meninggi. Tentu dia tidak paham dan tidak mengerti apa maksudnya. Kenapa tiba-tiba jadi perceraian?
Berusaha tenang, Anna menatap Adam lagi. “Katanya minggu depan kamu dan Aira mau menikah? Kalau memang iya, aku mau kita cerai.”
“Gila kamu ya? Saya ngga ada rencana seperti itu, Anna! Sampai kapanpun saya ngga akan ceraikan kamu. Ayolah, kamu juga harus ngerti posisi aku sekarang. Saya butuh keturunan, orang tua saya mau cucu, dan kebetulan Aira sudah memenuhi semuanya. Saya akan adil sama kalian.”
“Adil kamu bilang? Bisa sekarang kamu bilang begitu, Mas, tapi endingnya ngga akan ada yang tau. Aku ngga bisa dimadu, lebih baik aku relain kamu buat Aira. Mungkin memang Aira yang bisa kasih warna untuk kehidupan kamu. Dan benar, kamu memang harus bertanggung jawab. Mari kita bercerai, Mas.”
Adam menggelengkan kepalanya. Dia sangat tidak setuju dengan apa yang Anna katakan. Menceraikan Anna bukanlah solusi. Selain itu dia juga masih memiliki rasa pada istrinya. “Jangan ngaco kamu, An. Sekali saya bilang ngga akan, selamanya ngga akan ada perceraian. Saya berangkat dulu.”
Kepergian Adam hanya ditatap oleh Anna dengan tatapan kosong. Mau menangis meraung-raung pun rasanya akan percuma, tidak mengubah apapun. Anna mundur, lalu dia duduk di tepi ranjang. Baru beberapa detik duduk, wanita itu kembali berdiri. Dia mengambil kunci lemari, mengambil tiga test pack bergaris dua itu. Anna menatapnya dengan nanar. Kebahagiaannya ini harus terkubur dalam-dalam. Rasanya percuma juga Anna memberitahu Adam. Mengingat cerita tadi … Adam akan punya anak dari wanita lain.
Satu tangan Anna menyentuh perut ratanya. Dia bahagia karena akhirnya dikasih kepercayaan oleh Tuhan, tetapi ternyata Tuhan menukar bahagianya dengan sang suami yang berkhianat.
“Aku harus apa sekarang,” gumannya lirih.
Air mata Anna kembali jatuh, tangannya meremas tiga test pack itu dengan kuat. Anna menyeka air matanya, lalu dia memasukkan test pack itu ke dalam tasnya. Masih dengan d**a yang sesak Anna keluar dari kamar, menuruni anak tangga dengan kaki bergetar.
“Mau berangkat, Mba?”
Anna terkesikap, langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Anna menatap Ica—asisten rumah tangganya. Susah sekali, namun dia tetap memaksakan senyumannya. “Iya, Bi, saya mau berangkat. Seperti biasa, titip rumah ya.”
“Tapi masih hujan loh, Mba.”
“Jam Sembilan saya ada kelas, Bi, jadi harus jalan sekarang. Gapapa hujan, toh saya naik mobil. Yaudah, saya duluan ya.” Pamit Anna yang langsung diangguki oleh Ica.
***
Walaupun duanianya sedang hancur lebur, tetapi Anna berusaha untuk professional. Dia tetap mengajar, tetap memberi materi anak didiknya dengan baik. Selama memberi materi tidak ada raut kesedihan di wajah Anna, begitupun suaranya masih sangat tegas.
Setelah menyampaikan materi, Anna duduk sebentar. Dia membiarkan mahasiswanya mencatat serta mencerna semua yang sudah dia berikan. Sesekali Anna menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh mahasiswanya. Walaupun jujur, sebetulnya mata Anna sangat panas sekarang. Tapi sebisa mungkin dia menahan agar tidak ada air mata yang jatuh.
Sejenak Anna menundukkan kepala, memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Demi Tuhan, dadanya sangat sesak. Setelah merasa agak tenang Anna kembali mengangkat kepala. Dia tersenyum menatap mahasiswanya.
“Ada lagi yang mau bertanya sebelum kelas saya tutup?”
“Ngga ada, Bu.”
Anna menganggukan kepalanya. “Baik kalau begitu. Kelas siang ini saya akhiri ya? Jangan lupa tugasnya dikerjakan, lalu kirim ke email saya. Sampai bertemu lagi, selamat siang.”
“Siang, Bu!”
Semua peralatan Anna bereskan. Lalu dia pergi meninggalkan kelas menuju ruang dosen. Langkah Anna sangat pelan, dia berjalan sambil melamun. Karena asik melamun, dia sampai tidak membalas sapaan mahasiswanya. Anna yang selama ini dikenal dosen paling humble pun membuat para siswanya bingung. Karena tidak biasanya Anna seperti ini.
“Bu Anna kenapa?”
“Iya, tumben wajahnya kelihatan murung.”
Bisik-bisik itu dapat Anna dengar. Namun dia tak menghiraukannya. Karena mau bagaimanapun suasana hatinya sedang tidak karuan. Setibanya di depan ruangan dosen, Anna langsung masuk. Jika tadi dia abai, tetapi di dalam tidak. Wanita itu tersenyum, membalas sapaan dari rekannya.
“Anna! Kantin yuk.”
Baru saja Anna duduk, tetapi Aurel sudah menghampiri. Kebetulan Anna tidak bawa minum, dia pun menyetujui ajakan sahabatnya itu. Anna kembali berdiri, lalu keduanya keluar dari dalam ruangan menuju kantin. Perubahan Anna juga dirasakan oleh Aurel. Maka dari itu dia ingin bertanya. Karena kalau ngobrol di ruangan tidak enak dengan yang lain.
“Mau pesan apa, An?” tanya Aurel.
“Air mineral aja, Rel. Gue titip ya.”
Aurel menganggukan kepalanya. Aurel memesan minuman dan makanan, sedangkan Anna mencari tempat duduk. Siang ini kantin cukup ramai, maka dari itu dia memilih meja paling belakang. Setelah dapat kursi kosong Anna langsung duduk, menunggu Aurel datang. Selagi menunggu, Anna menelungkapkan wajahnya di atas meja. Rasa bingung kini tengah melanda Anna. Bingung antara ingin memberitahu soal kehamilannya pada Adam atau tidak.
Dreet..dreet..dreet.
Mama Ria calling…
“Hallo, Mah.”
‘Nanti sore, selepas kamu pulang kerja, temuin Mama di kafe Antara.’
Tut!
Panggilan terputus sepihak. Anna menarik ponselnya dari telinga, lalu diletakkan di atas meja.
“Dari siapa, An?”
“Mertua gue.”
“Ohh. Muka lo kusut banget, lo kurang tidur apa lagi ada masalah di rumah?” tanya Aurel penasaran.
Wajar. Karena memang semalaman Anna tidak tidur. “Gue mau cerai, Rel.”
***