Bab 3. Selingkuh?

1074 Kata
“Gue mau cerai, Rel.” “APA?!” Anna refleks membekap mulut Aurel. Pasalnya temannya itu memekik cukup kencang. Saking kencangnya, beberapa mahasiswa yang sedang makan turut menoleh. Satu tangan membekap mulut Aurel, sedangkan tanggan yang satunya lagi menutup wajahnya sendiri. Sungguh, Anna malu menjadi bahan tatapan. “Rel, kecilin suara lo.” Aurel menepis tangan Anna dari mulutnya. Sumpah, dia masih syok dengan apa yang Anna katakan barusan. Anna? Mau bercerai dengan Adam? Tapi, apa masalah yang mereka hadapi sampai perceraian menjadi jalan satu-satunya? Saking syoknya Aurel, wanita itu sampai tidak bisa berkata-kata. Bahkan lidahnya keluh untuk bertanya lagi. “Dia izin mau menikah lagi, Rel. Sebetulnya gue ngga kaget sama rencana dia itu. Mengingat dia pengen banget punya keturunan, dan mama juga samanya. Sebulanan ini dia itu berubah banget. Berangkat pagi, pulang tengah malam. Kadang juga ngga pulang. Setiap ditanya alasan, dia selalu marah. Kadang, gue kangen mas Adam yang dulu. Yang selalu pentingin gue. Sekarang beda, banyak marahnya.” Anna menatap lurus ke depan. Mengatakan ini hatinya sangat sesak, tetapi kalau tidak dibagi dia semakin sesak. “Terus lo setuju dia poligami?” Anna menggelengkan kepalanya lemah. “Tapi sekeras apapun gue menentang, sumpah, ngga akan merubah rencana mereka. Percuma gue berdebat kalau ujungnya tetap kalah. Rel, istri mana sih yang siap dimadu? Ngga ada, begitupun dengan gue. Gue ngga terima, tapi setelah tau alasan kuat mas Adam harus tetap menikah lagi gue mulai habis akal.” Kening Aurel menyerit. Seketika batagor yang dia beli tidak terlihat nikmat lagi. Aurel menggeser piring batagornya, lalu dia memusatkan perhatiannya pada Anna. “Selain soal keturunan, apa lagi alasan gila dia, An? Dan siapa wanita pilihan dia?” Senyum kecil terbit di bibir Anna. Ini kalau Anna bilang wanita pilihan Adam adalah Aira, apa kira-kira reaksi Aurel? Apa wanita di sampingnya akan memekik lagi? “Anna.” Aurel menggoyakkan lengan Anna yang terdiam layaknya patung. “Aira, sepupu gue,” jawab Anna. “Mas Adam bilang kalau Aira lagi hamil. Hamil anaknya,” sambung Anna dengan suara pelan dan bergetar. Sebelum Aurel mengeluarkan reaksi, Anna sudah lebih dulu membekap mulutnya. Lagi, Aurel menepis tangan Anna. “Lo gila, An? Sepupu lo? Dan dia hamil? Hamil di luar nikah? Lo diselingkuhin? An, ini jatuhnya perselingkuhan.” Ya, Anna tahu tu. Dia menunduk, meremas kedua tangannya yang terasa dingin. “An,” panggil Aurel. “Gue lebih baik pisah daripada dimadu, Rel. Gue ngga akan sanggup. Jangankan ngejalanin, ngebayangin aja gue ngga bisa. Gimana ya, Rel, Aira udah bisa kasih keturunan buat mas Adam. Dia pasti senang banget, dan habis nikah pasti akan lebih perhatian ke dia.” Walaupun tidak merasakan langsung, tetapi Aurel tahu betapa sakitnya fakta yang diterima oleh Anna. Saat ini Anna memang tidak menangis, terlihat tegar juga. Tapi Aurel yakin, pasti hatinya sangat hancur. Aurel menggeser tubuhnya, lalu dia memeluk Anna dengan erat. Kata semangat sudah tidak akan mempan, begitupun dengan kata sabar. Maka dari itu, hanya pelukan yang bisa Aurel berikan. “An, gue ngga sangka kalau ceritanya akan kayak gini. Gue kira wajah lo kelihatan muram karna lagi berantem sama Adam. Berantem kecil, bukan berantem yang bawa-bawa perceraian. Gue juga ngga sangka kalau Adam tega ngelakuin itu di belakang lo. Empat tahun. Empat tahun kalian udah sama-sama menjalin rumah tangga. Cuma karna belum dikasih momongan dia tega selingkuhin lo?” Kedua mata Anna terpejam mendengar kata demi kata yang Aurel lontarkan. Ya, empat tahun yang mereka jalani selama Ini akan segera berakhir. “Kenapa harus lo yang mundur, An? Harusnya lo tetap maju, jangan biarin Aira yang menang.” Aurel kembali berujar. “Gue ngga punya power, Rel. Aira pasti didukung sama mama. mengingat mama ingin segera punya cucu.” Yaampun. Aurel benar-benar tidak bisa berkata lagi. *** Sekitar jam setengah lima kelas terakhir baru selesai. Setelah mengisi kelas Anna tidak langsung pulang. Wanita itu memilih menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk. Disela-sela kesibukannya, ponsel Anna terus berdering. Anna sudah tahu siapa yang menelepon, maka dari itu dia tidak susah-susah mencari tahu. Entah yang keberapa, tapi yang jelas Anna mulai terganggu. Diambilnya ponsel itu, lalu dia mengangkat panggilan tersebut. Dan ya, dugaannya benar, yang menelepon adalah Ria. ‘Kamu itu sengaja ngga mau angkat telepon saya, ya?!’ “Maaf, Mah. Ada apa ya?” ‘Ada apa kamu tanya? Saya udah nunggu kamu di kafe daritadi, Anna. Di mana kamu sekarang?’ Anna melirik jam dipergelangan tangannya. “Sebentar lagi aku ke sana, Mah. Ini aku habis selesai isi kelas, terus ada kerjaan yang harus aku kerjain. Sebentar lagi, iya sebentar lagi. Mama tunggu dulu, ya.” ‘Jangan lama-lama.’ Tut! Panggilan yang terputus sepihak hanya Anna balas dengan helaan napas. Bahkan mertuanya ikut berubah sekarang. Padahal dulu, Ria sangat baik dan sayang padanya. Bahkan di pernikahan kedua tahunnya, Ria yang menyemangati Anna soal belum diberi momongan. Ternyata hati manusia secepat itu berubah. Tidak mau memikirkan masalahnya, Anna memilih melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya. Daripada Ria kembali ngamuk, Anna harus buru-buru sampai di kafe. “An, duluan ya.” Usapan di pundaknya membuat Anna menoleh. Mendapati sosok Aurel, Anna tersenyum sembari menganggukan kepalanya. “Iya, bu Aurel, hati-hati ya.” Aurel terkekeh. Memang, kalau di depan anak murid atau di dalam ruangan dosen mereka akan menggunakan bahasa formal. Kecuali sedang berduaan, baru sesuka hati. “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cari gue ya, An. Jangan pendam masalah sendiri, itu ngga baik.” Lagi, Anna mengangguk. Setelah berpamitan Aurel pergi, meninggalkan Anna. Sejujurnya pekerjaannya belum selesai, tapia pa boleh buat, Ria sudah menunggu di kafe. Mau tidak mau Anna harus segera pergi untuk menemui. “Pak, Buk, saya duluan ya,” pamit Anna kepada rekan dosen lainnya. “Hati-hati, bu Anna.” Anna hanya tersenyum sebagai respon. Lalu dia keluar ruangan, menuju parkiran. Di dalam mobil Anna menaruh semua peralatan ngajarnya ke kursi belakang. Setelah itu baru dia menghidupkan mesin mobilnya. Di sepanjang jalan Anna berusaha menebak-nebak. Kira-kira apa yang mau dibahas oleh ibu mertuanya itu. kurang lebih setengah jam, Anna telah sampai di kafe tujuan. Buru-buru wanita itu turun dari mobil, masuk ke dalam kafe. Di dalam, Anna langsung mencari keberadaan Ria. Setelah matanya mendapati sosok Ria tengah duduk di kursi meja belakang, Anna langsung menghampiri. “Mama,” sapa Anna. “Dari mana aja sih kamu? Kamu ngga tau kalau saya nunggu hampir dua jam?” balas Ria. “Maaf, Mah, aku ada kelas sore tadi.” Ria mengibaskan tangannya. Dia menyuruh Anna untuk duduk. “Singkat aja ya, An.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN