Bab 7. Enam Minggu

1064 Kata
“Bi Ica, Anna ke mana?” tanya Adam kepada Ica yang sedang menata sarapan ke atas meja. “Anu, Mas, mba Anna udah berangkat pagi-pagi tadi. Saya tanya mau ke mana ngga dijawab. Padahal tadi pagi masih hujan.” Adam diam. Kepergian Anna pagi ini memang tanpa sepengetahuannya. Karena jujur, semalam dia ketiduran di kamar tamu saat menemani Aira. Dan saat Adam ke kamar utama, istrinya sudah tidak ada. Awalnya Adam mengira Anna sedang masak seperti biasa, tetapi nyatanya wanita itu sudah pergi. Adam bangkit dari duduknya, dia meninggalkan meja makan menuju halaman belakang. Setibanya di halaman belakang Adam langsung menghubungi Anna. Dua kali percobaan tidak ada respon, begitupun dipercobaan ketiga. Sejenak Adam mendiamkan, mencoba memberi jeda. Sekitar tiga menit, barulah dia mencoba lagi. Tetapi tetap saja, usahanya nihil. Nomor istrinya memang aktif, tetapi panggilannya tidak diangkat. Apa wanita itu ada kelas pagi? Tapi masa iya pagi-pagi banget? Rasanya tidak mungkin. Tidak menyerah, Adam terus spam telepon kepada Anna. Sampai akhirnya Adam kesal sendiri karena benar-benar tak ada respon dari istrinya. Adam menggeram kesal, namun dia dibuat kaget saat pundaknya disentuh. Pria itu refleks menoleh ke belakang. Kini dihadapan Adam berdiri Aira dengan senyum manisnya. Senyum yang sempat membuatnya terbuai kala itu. “Mba Anna ngga angkat telepon kamu ya, Mas?” Adam menggelengkan kepalanya. “Mungkin dia ada kelas pagi makanya ngga ikut sarapan bareng. Udah, kamu makan duluan aja. Nanti saya nyusul.” “Mba Anna pasti marah banget sama aku ya? Kata Bibi, ini kali pertama mba Anna ngga sarapan di rumah. walaupun ada kelas pagi, dia tetap usahain sarapan di rumah. Ini pasti gara-gara aku deh. Aku min—” “Ai, ini bukan salah kamu,” potong Adam cepat. “Akhir-akhir ini dia memang lagi sensitif sama saya, jadi bukan karna kamu. udah, ayo kita sarapan lagi, habis itu kita berangkat ke rumah kamu.” Berangkat ke rumah? Aira terdiam. Rasanya dia tidak siap untuk kembali ke rumah. bukan apa-apa, Aira takut bertemu papa dan mamahnya. Aira juga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka saat tahu anak yang dikandungannya adalah anak Adam. Memang sih Adam mau bertanggung jawab, tetap saja Aira was-was. Melihat wanita di depannya terdiam dan melamun Adam menghembuskan napasnya. Pria itu mengulurkan tangan, meraih pergelangan tangan Aira. “Ayo kita masuk, kita lanjutin sarapannya. Nanti kamu pakai baju Anna lagi aja, ambil sendiri di kamar. Karna saya ngga tau selera kamu seperti apa.” “Kalau mba Anna semakin marah sama aku gimana, Mas?” Adam menggelengkan kepalanya lagi. “Anna ngga akan marah, saya yang jamin. Ayo sarapan, kamu jangan banyak fikiran.” Interaksi Adam dan Aira yang cukup dekat dilihat oleh Ica. Dia memang tidak tahu apa hubungan majikannya dengan wanita itu, tetapi dilihat-lihat mereka sangatlah dekat. Dan kedekatan mereka tidak wajar mengingat Adam sudah mempunyai istri. Akan tetapi, karena tidak punya hak untuk ikut campur, Ica memilih kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur. Semoga saja rumah tangga majikannya baik-baik saja. Di meja makan Adam dan Aira melanjutkan sarapannya. Ketidak hadiran Anna di meja makan cukup membuat Aira tidak kikuk. Beberapa menit makan, kini keduanya sudah selesai. Sesuai dengan perintah Adam tadi, Aira langsung naik ke atas menuju kamar utama untuk mengambil baju Anna. Setibanya di dalam kamar, Aira menatap keseliling. Sepertinya tak lama lagi dia akan menempati kamar ini. Aira tersenyum, langkah kakinya membawa dia ke sebuah lemari yang cukup besar. Aira membuka lemari itu, lalu memilih baju yang akan dipakainya. Cukup lama Aira memilih, sampai dia mendengar suara pintu terbuka. Aira tidak menghiraukan karena dia tahu siapa yang masuk ke dalam. “Udah dapat, Ai?” “Belum, Mas, aku lagi bingung.” Adam mendekat, berdiri di belakang Aira membuat wanita itu tersentak karena punggungnya bersentuhan dengan d**a bidang milik Adam. Adam tanpa mengubah posisi mencoba membantu Aira memilih. Posisi yang cukup intim itu membuat Aira tak berani bergerak sedikitpun. “Mas?” “Iya?” Seketika hembusan napas Adam mengenai tengkuknya. Aira merinding, namun dia tak berani menoleh. Karena Aira yakin, wajah Adam tepat ada di belakangnya. Adam mengambil dress berwarna cokelat, lalu dia menjauhkan tubuhnya dari Aira. “Coba kamu pakai ini, Ai,” suruh Adam, memberikan dress itu. Tidak menolak, Aira menerimanya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencoba. Berhubung tubuhnya sama dengan Anna, Aira sangat yakin kalau baju pilihan Adam muat di tubuhnya. *** “Jadi saya benar-benar hamil, Dok?” Dokter Laras tersenyum, dia menganggukan kepalanya. “Sudah memasuki enam minggu ya, Mba. Janinnya berkembang bagus, ngga ada masalah apapun juga. Hanya saja ada sedikit catatan untuk ibunya. Tolong dikurangin stressnya, ya? Kalau ada masalah, bisa berbagi dengan suami atau orang terdekat. Jangan dipendam sendiri.” Berbagi dengan suami? Anna hanya tersenyum simpul. Bagaimana mau berbagi kalau pria itulah sumber stressnya? Dibantu susuter, Anna bangkit dan turun dari kasur. Pemeriksaan telah selesai, dia dinyatakan positif hamil dan yang lebih membahagiakan anaknya baik-baik saja setelah kejadian kemarin malam. “Nanti saya resepkan obat sama vitamin ya. Diminumnya rutin, kalau bisa makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup.” “Baik, dokter Laras, terima kasih ya. Kalau gitu saya pamit.” Dokter Laras tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Tak lupa dia memberikan sebuah resep kepada Anna sebelum wanita itu ke luar dari dalam ruangannya. Di luar ruangan, Anna tidak langsung menebus obat. Wanita itu memilih duduk di kursi sambil mempehatikan hasil USG-nya. Sudah enam minggu, dan Anna baru mengetahui. Harusnya ini jadi kabar menyenangkan untuk semua orang, tetapi pada kenyataannya Anna harus menutup ini semua rapat-rapat. “Maafin Ibu, ya,” guman Anna, mengusap perutnya. Setelah cukup tenang, barulah Anna menuju bagian farmasi. Selagi menunggu antrian obat, Anna memilih bermain ponsel. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari suaminya, begitupun dari sang mertua. Anna tidak tahu mereka mau apalagi. Tidak menghiraukan panggilan itu Anna beralih ke room chatnya bersama Anggun. Tanpa fikir dua kali Anna langsung menghubungi wanita itu. ‘Hallo, Anna.’ “Bunda. Apa hari ini Bunda ada di rumah?” ‘Ada, Sayang. Kenapa memangnya?’ “Aku mau ke rumah. Apa ayah ada?” ‘Ayah ngga ada di rumah, masih kerja. Kesinilah kalau kamu mau ke sini.’ “Oke, Bun, aku ke sana sekarang.” Tut! Anna memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tak lama namanya dipanggil, Anna maju untuk mengambil obatnya. Setelah obat didapat, Anna bergegas meninggalkan rumah sakit. Sepertinya Anna tidak sanggup untuk menahan bebannya sendiri, dia butuh berbagi, dan sepertinya ke Anggun jawabannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN