Setlah puas meluapkan resah di hatinya pada para pekerjanya, Samuel memejamkan mata dan berharap ketika dirinya membukanya nanti sudah sampai di Indonesia. Ia hanya ingin mempercepat waktu saja. Sedangkan perkiraan dirinya sampai di sana tengah malam. Sedangkan para pekerja Samuel yang berada di dalam jet pribadi milik keluarga Siregar tersebut hanya diam dan tidak berani mengganggu tuan muda mereka hanya untuk sekedar menawarkan makan malam. Karena sedari masuk ke dalam jet ini, Samuel tidak berselera menyentuh makanan yang sudah mereka siapkan. Selang beberapa jam kemudian, akhirnya jet yang ditumpangi Samuel medarat juga. Tentu saja bukan di bandara, melainkan di perusahaan rahasianya yang sudah ia siapkan jauh-jauh bulan sebelumnya. Jet itu mendarat di atap gedung yang menjadi peru