Terjadi perdebatan yang begitu sengit di dalam hati Tisha ketika melihat sosok pria yang ada di hadapannya saat ini. Ada rasa rindu yang tiba-tiba saja menyeruak begitu saja. Namun, rasa sakit dan malu juga tak kalah hebatnya mendebat. Ia benar-benar berada di ambang dilemma. Akan tetapi akal sehatnya masih bekerja. Ia tidak akan menjatuhkan dirinya kembali di hadapan pria yang tidak bisa menilai ketulusan perasaan yang ia punya untuk dia. Terlebih lagi ucapan maaf yang terlontar dari mulut pria itu. Mudah saja untuk berkata maaf. Tetapi apakah semudah itu juga luka akan sembuh hanya dengan sebuah kata-kata? Jelas, itu tidak mungkin terjadi. Butuh waktu untuk luka sembuh. Tisha menatap Samuel yang tengah bersimpuh di hadapan dirinya. Ada rasa ingin memaafkan, hanya saja mulutnya begitu