Semuanya gelap, pekat. Ian meraba-raba sekitarnya berusaha mencari jalan untuk terus maju. Tapi semuanya seakan sia-sia, Ian merasa jika ia hanya berjalan di tempat. Yang terakhir Ian ingat adalah wajah Rea yang menangis karena dirinya. Ian kembali mencoba melangkah, satu tapak, dua tapak lalu seterusnya. Tapi lagi-lagi ia merasa tidak melangkah maju se senti pun. Ia ingin menyerah, ia pun akhirnya terduduk. Entah sudah berapa lama ia terduduk di tempat yang gelap dan sepi ini. Ia ingin pulang, ia ingin memeluk tubuh Rea, tetapi badannya terasa berat untuk berdiri dan kembali melangkah. Namun samar-samar Ian mendengar sebuah suara, suara yang memanggilnya. Suara yang sudah sangat akrab di telinganya. "...an... Ian... Ian!" "Itu suara Rea." Gumam Ian. Ia pun berusaha untuk kembali

