Selamat datang di nerakamu, Sayang
"Kau dengar tidak? Saya bilang bersihkan muntahan itu sekarang, Aira! Jangan mentang-mentang dulu putri raja, kau kerja semaumu. Kau itu cuma babu!"
Bentakan itu menampar telinga, lebih menyakitkan daripada suara dentuman bass musik EDM yang mengguncang lantai dansa "The Void".
Aira Wiranata tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan pegangannya pada gagang pel, menundukkan kepala dalam-dalam hingga rambutnya yang kusam menutupi sebagian wajah. Di depannya, seorang manajer berwajah merah padam menunjuk ke arah lantai keramik marmer yang kini tergenang cairan berbau menyengat.
"Maaf, Pak Tio. Saya kerjakan sekarang," suara Aira terdengar serak, nyaris hilang ditelan hingar-bingar kelab malam termewah di Jakarta itu.
"Cepat! Tamu di meja 9 itu VIP. Kalau mereka komplain karena bau busuk ini, gajimu bulan ini saya potong habis!"
Pak Tio meludah ke lantai sebelum berbalik pergi, meninggalkan Aira yang gemetar.
Aira menarik napas panjang, mencoba menahan perih yang mendadak menusuk ulu hatinya. Lima tahun lalu, dia adalah pelanggan VIP di tempat seperti ini. Dia adalah Aira Wiranata, putri tunggal pemilik Bank Wiranata yang legendaris. Dia biasa duduk di sofa beludru merah itu, tertawa sambil memegang gelas champagne seharga gaji setahun karyawan biasa, mengenakan gaun sutra yang tidak boleh terkena debu sedikitpun.
Sekarang? Dia berlutut di lantai yang lengket, membersihkan sisa mabuk orang lain dengan tangan kosong karena sarung tangan karetnya robek tadi sore dan manajemen pelit tidak mau menggantinya.
Dunia memang roda yang berputar, batin Aira getir sambil mengusap lantai dengan kain pel. Tapi kenapa roda milikku harus patah dan melindasku sampai hancur begini?
Bau alkohol dan asam lambung menusuk hidungnya. Aira menahan mual. Perutnya belum diisi sejak pagi, hanya segelas air keran untuk mengganjal rasa lapar. Dia harus berhemat. Setiap rupiah sangat berharga.
Tiba-tiba, sebuah sepatu kulit mengkilap berhenti tepat di depan wajahnya yang sedang menunduk.
"Hei, Pelayan."
Aira mendongak sedikit. Seorang pria muda dengan kemeja berantakan dan wajah teler menyeringai padanya. Di tangannya ada segepok uang seratus ribuan.
"Wajahmu lumayan juga buat ukuran tukang pel," racau pria itu, mengibaskan uang di depan hidung Aira. "Gimana kalau lo tinggalin kain pel busuk ini, terus ikut gue ke mobil? Gue bayar sepuluh kali lipat gaji lo malam ini. Cuma blowjob sebentar, kok."
Teman-teman pria itu tertawa terbahak-bahak.
Darah Aira mendidih, tapi dia memaksakan diri untuk tetap menatap lantai. Harga dirinya sudah lama mati, tapi dia bukan p*****r. Belum.
"Maaf, Tuan. Saya hanya petugas kebersihan," jawab Aira datar, lalu bangkit berdiri dan bergeser menjauh.
"Sombong amat!" Pria itu melempar beberapa lembar uang ke wajah Aira. Uang kertas itu melayang jatuh, mendarat di atas genangan muntahan yang belum selesai dibersihkan. "Ambil itu. Gue yakin lo butuh duit, kan? Dasar gembel."
Aira mematung. Matanya menatap lembaran merah yang basah dan kotor itu. Tiga ratus ribu rupiah. Itu cukup untuk membeli obat pereda nyeri ayahnya untuk dua hari.
Tangan Aira bergerak perlahan. Gemetar. Logikanya berteriak untuk meludahi pria itu, tapi bayangan ayahnya yang terbaring koma di bangsal kelas tiga rumah sakit membungkam egonya.
Aira membungkuk. Jemarinya yang kasar memungut uang itu dari genangan kotoran.
Tawa meledak di sekelilingnya.
"Lihat! Dia benar-benar mengambilnya! Murahan!"
Aira tidak peduli. Dia meremas uang basah itu, memasukkannya ke saku seragamnya yang lusuh, lalu berbalik pergi sambil menyeret ember pelnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya menetes satu, jatuh membaur dengan air keruh di dalam ember.
**
Pukul dua dini hari. Kelab mulai sepi, tapi pekerjaan Aira belum selesai.
Dia sedang berada di ruang loker karyawan yang sempit dan pengap, duduk di bangku panjang sambil memijat betisnya yang bengkak. Ponselnya yang layarnya retak bergetar di saku.
Nama 'RS Medika' muncul di layar.
Jantung Aira seakan berhenti berdetak. Dia mengangkat telepon itu dengan tangan dingin.
"Halo?"
"Selamat malam, apakah ini dengan keluarga Bapak Wiranata?" suara perawat di seberang sana terdengar formal namun mendesak.
"Ya, saya putrinya. Ada apa, Sus? Ayah saya baik-baik saja, kan?"
"Maaf, Mbak Aira. Kondisi pasien drop drastis satu jam yang lalu. Dia mengalami gagal nafas. Kami sudah memasangnya di ventilator, tapi..." Perawat itu memberi jeda yang menyiksa. "Dokter spesialis bilang, penyumbatan di otaknya semakin parah. Kita harus melakukan operasi bypass segera, atau..."
"Atau apa?" Aira mencengkeram ponselnya erat-erat.
"Atau Bapak tidak akan bisa bertahan lebih dari 24 jam."
Dunia Aira berputar. Langit-langit loker yang berjamur seolah runtuh menimpanya.
"O-operasi... berapa biayanya?"
"Estimasi awal sekitar dua miliar rupiah, Mbak. Dan manajemen rumah sakit meminta deposit minimal 50% malam ini juga agar tim bedah bisa disiapkan."
Dua miliar.
Bagi Aira yang sekarang, dua miliar adalah angka fantasi. Gajinya sebulan hanya tiga juta rupiah. Uang tiga ratus ribu yang ia pungut dari muntahan tadi bahkan tidak cukup untuk biaya administrasi.
"Mbak Aira?"
"Saya... saya akan usahakan," bisik Aira, suaranya pecah. Dia mematikan sambungan telepon.
Tubuhnya merosot ke lantai. Aira memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Tuhan, kalau Engkau memang membenciku karena dosa masa laluku, ambil saja nyawaku. Jangan Ayah. Ayah tidak tahu apa-apa. Aku yang bersalah. Aku yang jahat.
Pintu loker terbanting terbuka. Pak Tio muncul dengan wajah panik yang tidak biasa.
"Aira! Kau di sini rupanya!"
Aira buru-buru menghapus air matanya, berdiri tegak. "Ya, Pak? Saya... saya belum pulang."
Pak Tio tidak memarahinya kali ini. Dia justru menatap Aira dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan aneh. Seperti sedang menilai barang dagangan.
"Cuci mukamu. Rapikan rambutmu. Sekarang."
"Kenapa, Pak?"
"Pemilik baru 'The Void' ada di sini malam ini. Dia ada di Penthouse VVIP di lantai paling atas. Dia memintamu naik ke sana."
Kening Aira berkerut. "Saya? Tapi saya cuma cleaning service. Kalau ada sampah di sana, bukannya biasanya…"
"Bukan untuk bersih-bersih, bodoh!" potong Pak Tio, suaranya merendah, terdengar gugup. "Dia secara spesifik meminta 'wanita bernama Aira Wiranata'. Saya tidak tahu ada urusan apa kamu sama Big Boss, tapi jangan bikin malu. Asal kamu tahu, dia baru saja membeli gedung ini secara tunai kemarin sore. Dia orang yang sangat berkuasa. Satu kesalahan darimu, kita semua bisa dipecat."
Aira terdiam. Firasat buruk merayapi tengkuknya. Siapa pemilik baru ini? Kenapa dia tahu nama lengkap Aira? Apakah dia salah satu mantan rekan bisnis ayahnya yang ingin membalas dendam? Atau salah satu p****************g yang pernah ia tolak dulu?
Tapi kemudian, bayangan ayahnya yang sekarat melintas.
Uang.
Orang kaya yang membeli gedung secara tunai pasti punya uang. Jika Aira memohon, jika Aira menjilat kakinya, atau bahkan jika dia harus menjual satu-satunya yang tersisa dari dirinya, tubuhnya, mungkin dia bisa mendapatkan dua miliar itu.
"Baik, Pak. Saya ke sana," kata Aira. Matanya kini kosong, tanpa jiwa. Dia sudah siap untuk mati rasa.
Lift pribadi menuju lantai teratas bergerak sunyi dan cepat. Dinding lift terbuat dari kaca, memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang gemerlap di bawah sana. Dulu, Aira merasa dia memiliki kota ini. Sekarang, lampu-lampu itu terlihat seperti mata monster yang siap menelannya.
Ting.
Pintu lift terbuka langsung ke sebuah penthouse mewah. Lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam langkah kaki sepatu butut Aira. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu kota dari jendela kaca raksasa dan perapian elektrik yang menyala redup.
Aroma ruangan ini... Aira mengernyit. Aroma musk, tembakau mahal, dan mint. Aroma yang terasa familiar, membangkitkan ingatan yang seharusnya sudah ia kubur lima tahun lalu di dalam sel penjara yang dingin.
"Permisi?" suara Aira bergema pelan di ruangan luas itu.
Tidak ada jawaban.
Hanya ada siluet seorang pria yang duduk di kursi kulit single seater yang membelakangi Aira, menghadap ke jendela besar yang menampilkan panorama kota. Asap rokok mengepul tipis dari arah kursi itu.
"Pak Tio bilang Tuan memanggil saya," lanjut Aira, meremas ujung seragamnya. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rusuknya dengan menyakitkan.
Kursi itu berputar perlahan. Sangat perlahan, seolah sang penghuni menikmati ketegangan yang mencekik udara.
Saat wajah pria itu terkena bias cahaya dari luar jendela, napas Aira tercekat di tenggorokan. Kakinya lemas seketika, membuatnya nyaris ambruk jika tidak berpegangan pada dinding.
Wajah itu.
Rahang tegas yang kini ditumbuhi sedikit berewok halus. Hidung mancung yang angkuh. Dan mata... mata elang yang dulu selalu menatap Aira dengan penuh memuja, kini gelap, dingin, dan kosong seperti lubang hitam.
Dia terlihat berbeda. Lebih matang. Lebih berbahaya. Setelan jas Armani yang membalut tubuhnya berteriak tentang kekuasaan dan uang yang tak berseri. Jauh berbeda dari pemuda miskin dengan kemeja flanel lusuh yang terakhir kali Aira lihat diseret polisi lima tahun lalu.
Pria itu mematikan rokoknya di asbak kristal, lalu menatap Aira. Tatapan itu begitu tajam hingga Aira merasa kulitnya terkelupas.
"Lama tidak bertemu, Nona Wiranata," suara pria itu berat, dalam, dan mengirimkan getaran ngeri ke seluruh tulang belakang Aira.
Bibir Aira bergetar hebat. Dia ingin lari. Dia ingin berteriak. Tapi suaranya hilang.
"B-Bastian?" bisiknya, nyaris tak terdengar.
Pria itu berdiri. Tingginya yang menjulang membuat ruangan terasa semakin sempit. Dia berjalan mendekat, langkahnya tenang namun mematikan, seperti predator yang menyudutkan mangsa yang terluka.
"Bastian sudah mati," desisnya tepat di depan wajah Aira. Dia mencengkeram dagu Aira dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya yang penuh dendam.
"Namaku Elvano sekarang. Dan selamat datang di nerakamu, Sayang."