Pagi berikutnya, Aurel bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm, tapi karena gugup. Pikirannya sejak tadi malam dipenuhi bayangan keluarga besar Samuel—orang-orang elegan, terpandang, dan mungkin sangat kritis. Ia bahkan belum pernah menghadiri acara keluarga besarnya sendiri, apalagi keluarga suaminya yang reputasinya seperti berdiri di atas menara kaca. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap ke luar jendela yang masih redup. Hujan semalam menyisakan embun di kaca. Udara dingin pagi itu membuatnya memeluk dirinya sendiri. Ia mencoba bernapas perlahan, tapi bayangan tatapan ibu Samuel yang mungkin tajam membuatnya ingin sembunyi di bawah selimut saja. Pintu kamar diketuk dua kali. “Aurel?” suara Samuel terdengar dari luar, tenang dan rendah seperti biasa. Aurel buru-buru berdi

