Aurel masih berdiri di ambang pintu kamar, memegangi dadanya yang berdebar tak karuan setelah insiden kecil barusan. Samuel yang menariknya karena hampir terpeleset, sentuhan spontan itu, suara pria itu yang terdengar lebih rendah dari biasanya, semuanya membuat suasana jadi kacau di dalam kepala Aurel. Ia menggeleng pelan, berusaha menepis bayangan yang tidak seharusnya muncul antara mereka. Mereka bukan pasangan sebenarnya. Mereka hanya terikat oleh kertas, oleh kontrak satu tahun, oleh hutang yang bukan kesalahannya tetapi harus ia tanggung. Aurel menarik napas panjang lalu berjalan ke meja rias, mengambil krim wajah. Tangannya bergetar sedikit, entah karena lelah atau karena sesuatu yang lain. Ia mencoba fokus pada pantulan dirinya di cermin, tetapi suara langkah kaki Samuel di luar k

