Suara mesin pesawat yang bergetar halus mengisi keheningan, namun di antara dua manusia yang duduk berdampingan itu, ada kegaduhan lain yang tak terlihat. Aurel mengusap ujung jarinya yang dingin, sementara tatapan Samuel tetap terpaku pada layar kecil di depannya yang sejak tadi tidak berubah. Beberapa menit setelah pesawat mengudara, lampu tanda sabuk pengaman akhirnya padam. Aurel menoleh pelan, memberanikan diri untuk memecahkan jarak itu. “Kau… tidak marah, kan?” tanyanya dengan suara setenang mungkin. Samuel menoleh sekilas, tatapannya sulit terbaca. “Jika aku bilang tidak marah… apa kau akan percaya?” Aurel menghela napas pelan, mencoba tersenyum. “Aku hanya tidak ingin kau sendirian.” Samuel kembali diam. Sikapnya seperti tembok kokoh yang tak bisa ditembus. Aurel akhirnya iku

