Bab 18

823 Kata

Pagi hari di Tokyo dimulai dengan cahaya matahari yang menembus tirai tebal. Aurel terbangun lebih dulu. Ia melihat ke pintu kamar Samuel yang masih tertutup rapat. Sejenak, ia memperhatikan bekas kompres yang semalam ia letakkan di meja. Ada secercah rasa puas dalam hatinya, meski ia tahu hubungan mereka masih jauh dari kata dekat. Aurel memutuskan menyiapkan sarapan sederhana yang ia pesan dari layanan kamar. Ia menyusun semuanya rapi di meja ruang tengah: roti panggang, sup miso, dan teh hijau yang masih mengepul hangat. Ia tersenyum kecil, membayangkan bagaimana Samuel akan merespons. Pintu kamar Samuel terbuka pelan. Ia keluar dengan kemeja gelap dan rambut yang masih sedikit basah. Tatapan matanya langsung menangkap pemandangan meja yang tertata rapi itu. “Apa ini?” tanyanya datar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN