Udara dingin Tokyo menusuk kulitku saat kami berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang ramai. Lampu-lampu neon warna-warni memantul di genangan air hujan yang belum sepenuhnya mengering. Aku menekan kedua telapak tanganku di dalam saku jaket, mencoba menghangatkan jari yang membeku. Samuel berjalan di sampingku, wajahnya tersembunyi di balik syal wol hitam yang melingkari lehernya. Meski begitu, aku tahu ia terus memperhatikanku dari ekor matanya. “Aurel.” Suaranya terdengar pelan, namun jelas mengalahkan kebisingan kota. “Kalau kamu kedinginan, bilang. Jangan dipaksa.” Aku menggeleng kecil. “Aku baik-baik saja.” Tanpa bertanya lagi, ia menarik kedua tanganku keluar dari saku dan menggenggamnya di tangan besarnya. Hangat. Begitu hangat hingga aku bisa merasakan degup jantungku melonj

