Kereta peluru melaju cepat, pemandangan kota perlahan berganti menjadi hamparan alam yang menenangkan. Aku merapatkan jaket yang tadi Samuel letakkan di pundakku. Aroma parfumnya samar tercium, membuatku kesulitan berkonsentrasi pada apa pun selain dirinya di sampingku. “Kamu tidur saja kalau lelah,” katanya tanpa menatapku. “Aku tidak mengantuk,” jawabku cepat. Samuel mengangguk pelan namun tetap mengawasi gerak-gerikku dari sudut mata. Aku tahu ia memperhatikan, meski pura-pura tidak peduli. Ia menyandar sedikit ke belakang, menyilangkan lengan di d**a. Gips di tangannya membuat gerakan itu tampak canggung, namun ia tetap terlihat menakutkan sekaligus… menenangkan. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Rasanya aneh. Biasanya aku yang gugup berada di dekatnya. Tapi kali ini, sepert

