Bab 21

1364 Kata

Kyoto menyambut kami dengan suasana sejuk dan gerimis tipis yang turun pelan. Payung transparan yang dipegang Samuel menaungi kami saat keluar dari stasiun. Tangannya yang masih menggenggamku terasa hangat, berbanding terbalik dengan udara dingin yang menusuk pipi. “Kita ke mana?” tanyaku sambil memperhatikan bangunan-bangunan bernuansa tradisional yang berjajar rapi. “Ada seseorang yang harus kamu temui,” jawab Samuel tanpa menoleh. Nada suaranya terdengar… berat. Aku hanya mengangguk, mengikuti langkahnya yang tegas. Mobil hitam yang sudah menunggu membawa kami menyusuri jalanan bersejarah hingga berhenti di depan sebuah rumah kayu yang sederhana namun elegan. Saat kami turun, pintu geser rumah itu terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan kimono hitam berdiri tegak menunggu. Rambutn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN