Samuel menarik tanganku, mengajakku keluar dari kerumunan wisatawan yang memenuhi stasiun Kyoto. Udara dingin menerpa wajahku ketika kami melangkah ke area luar yang dipenuhi lampu-lampu kota yang mulai menyala sore itu. Tangannya masih menggenggamku, tidak terlalu erat, tetapi cukup untuk membuatku sadar bahwa ia tidak ingin melepaskan. “Kamu ngantuk?” tanyanya sambil menoleh sekilas. “Sedikit,” jawabku jujur. Perjalanan dari Tokyo membuat kepalaku berat, sementara perasaan yang berputar-putar tentang Chelsea tidak memberi kesempatan pikiranku beristirahat. “Kita langsung ke hotel dulu. Kamu butuh tidur,” katanya tegas. “Kamu juga butuh istirahat,” sahutku. Samuel tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.” Tapi aku tahu ia hanya menyembunyikan lelahnya sendiri. Kami menunggu taksi. Suas

