Karena untuk saat ini, aku hanya ingin merasa dipilih. Pagi hari di Kyoto menyambut dengan cahaya keemasan yang lembut. Aku terbangun di pelukan Samuel. Ia masih tidur, wajahnya begitu tenang, seperti tidak ada beban apa pun yang mengganggu pikirannya. Entah mengapa, aku merasa iri pada kedamaian yang ia miliki dalam mimpinya. Aku menatap wajahnya cukup lama hingga akhirnya bulu matanya berkedut dan ia membuka mata perlahan. “Pagi,” ucapnya dengan suara serak yang selalu terdengar mematikan di pagi hari. “Pagi,” jawabku sambil berpaling, menghindari tatapannya karena aku tahu wajahku memanas. Samuel tertawa kecil lalu menarikku kembali dalam pelukannya. “Jangan kabur,” katanya. “Aku belum siap melepas kamu.” “Padahal cuma mau cuci muka,” aku mencibir pelan. “Tetap. Kamu harus peluk a

