Samuel.”
Suara berat dan tegas itu menggema di sepanjang lorong marmer, membuat langkah Samuel dan Aurel terhenti seketika. Suara roda kursi terdengar pelan menyusul dari arah belakang. Nicholas Cortez muncul, didorong oleh asistennya yang tampak tegang, sementara beberapa anggota keluarga lain mengikuti di belakang, menatap penuh rasa ingin tahu.
Samuel memutar tubuhnya perlahan, wajahnya datar, namun matanya menajam.
“Ya, Kakek?”
Nicholas menatapnya lama, sorot matanya dalam dan penuh perhitungan, seperti sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar urusan keluarga.
“Jika dalam satu tahun kau memberiku seorang cucu,” ucap Nicholas pelan tapi tajam, “maka seluruh warisanku akan menjadi milikmu.”
Kata-kata itu mengguncang semua yang hadir. Suara-suara kecil mulai terdengar di antara para anggota keluarga lain. Beberapa menatap tak percaya, sebagian lagi langsung bereaksi dengan kemarahan yang tertahan.
“Apa?!” seru salah satu paman Samuel dengan nada tinggi. “Ayah, kau tidak bisa begitu! Memberikan warisan hanya karena—”
“Ini tidak adil!” seru yang lain, suaranya bergetar menahan emosi. “Samuel bahkan baru menikah! Kita bahkan tidak tahu siapa perempuan itu!”
Nicholas mengangkat tangannya perlahan, gerakan kecil, namun cukup untuk membuat semua suara langsung terdiam. Tatapan tajamnya membuat siapa pun tak berani bersuara lagi.
“Aku tidak mengulang,” katanya dingin. “Jika Samuel mampu membangun keluarga, bukan hanya mempertahankan kekuasaan, maka ia pantas menerima segalanya. Tapi jika tidak…” ia menatap tajam ke arah cucunya, “…pergilah dari rumah ini, dan jangan pernah kembali.”
Hening kembali menyelimuti ruangan itu. Aurel terpaku di tempat, jantungnya berdebar keras. Ia bisa merasakan tatapan semua orang menusuk ke arahnya, menilai, mencemooh, seolah dialah penyebab kekacauan baru itu.
Samuel berdiri diam beberapa detik, wajahnya sulit dibaca. Tak ada perubahan ekspresi, tidak marah, tidak terkejut, tidak juga takut. Hanya keheningan yang tajam di antara mereka.
“Baik,” ucap Samuel. “Aku mengerti.”
Tanpa menunggu tanggapan, Samuel berbalik, menggenggam tangan Aurel dengan kuat, membuat gadis itu tersentak kecil, lalu menariknya pergi dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun lagi.
Langkahnya mantap, tak peduli pada tatapan tajam dan bisik-bisik di belakang mereka. Aurel menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu dan bingung.
Begitu mereka melewati pintu besar menuju halaman depan, suara-suara dari dalam rumah mulai memudar. Aurel menatap sekilas ke arah Samuel, tapi pria itu tetap diam, wajahnya tak menunjukkan apa pun.
***
Mobil hitam itu berhenti di depan rumah Samuel. Begitu mesin dimatikan, Samuel turun lebih dulu tanpa berkata apa pun. Aurel mengikuti dari belakang, langkahnya pelan, menunduk sepanjang jalan menuju pintu masuk. Suasana di antara mereka benar-benar sunyi.
Samuel berjalan cepat menaiki tangga marmer, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Aurel. Ia membanting pintu dengan keras. Suara itu bergema di seluruh rumah, memantul di dinding batu dan membuat udara terasa lebih dingin.
Aurel berdiri di bawah tangga, tubuhnya membeku di tempat. Ia terkejut, matanya membesar, dan dadanya terasa sesak. Entah kenapa, suara pintu yang tertutup tadi terasa menyakitkan, seolah menegaskan jarak yang begitu jauh di antara mereka. Ia berusaha menahan air mata yang hampir jatuh, namun tetap saja matanya terasa panas.
Beberapa pelayan yang lewat sempat menunduk dengan canggung, tak berani menyapa. Aurel menunduk dalam, berusaha menenangkan diri, lalu menarik napas panjang.
“Aku harus kuat…” bisiknya lirih..
Dengan langkah lemah, ia menaiki tangga satu per satu. Kakinya masih terasa nyeri dari luka semalam, tapi ia tak mengeluh. Ia hanya ingin sampai ke kamarnya, menjauh dari semua tatapan, menjauh dari kebisingan yang hanya hidup di dalam pikirannya sendiri.
Begitu sampai di lantai dua, pandangannya sempat tertumbuk pada pintu kayu hitam di sebelah kamarnya. Ia menatapnya beberapa detik, diam, lalu menghela napas berat.
“Dia pasti marah…” gumamnya pelan.
Aurel akhirnya masuk ke kamarnya sendiri. Ia menutup pintu perlahan, tak ingin menimbulkan suara sedikit pun, lalu berjalan ke tepi ranjang besar dan duduk di sana.
Kedua tangannya terkulai di pangkuan, sementara pandangannya kosong menatap lantai. Semua kejadian hari ini berputar di kepalanya.
Ia menunduk, menekan dadanya yang terasa berat, lalu menghela napas panjang dan dalam.
“Aku tidak boleh menangis,” bisiknya pelan. “Aku sudah memilih jalan ini.”
Namun tak peduli seberapa keras ia berusaha menenangkan diri, air matanya tetap menetes pelan di pipi.
Malam berlalu dengan cepat.
Samuel duduk di tepi tempat tidurnya dengan kemeja berantakan. Beberapa kancing di bagian atas telah terbuka, memperlihatkan d**a yang naik turun tidak beraturan. Di tangannya, segelas wine merah tua masih setengah penuh, namun botol di atas meja sudah hampir habis.
Aroma alkohol memenuhi udara. Samuel meneguk lagi, kali ini tanpa berpikir. Setiap kali bayangan kakeknya muncul di kepalanya, rasa pahit di mulutnya kian menjadi. Kata-kata Nicholas terngiang-ngiang, memukul pikirannya berulang kali.
“Jika kau bisa memberiku cucu tahun depan, semua warisan itu menjadi milikmu.”
Samuel tertawa pelan, getir. “Cucu, ya?” gumamnya miring. “Lima tahun lalu, kau bilang aku harus menyelamatkan perusahaan keluarga. Sekarang… cucu?”
Tangannya mengepal, memukul meja hingga gelas hampir jatuh. Amarahnya membara, tapi bukan hanya karena ucapan itu, melainkan karena rasa frustrasi yang menumpuk bertahun-tahun. Ia selalu berusaha membuktikan diri, namun seolah semua kerja kerasnya tak pernah cukup.
Ia berdiri dengan langkah goyah, memijat pelipisnya keras. Pikiran mulai kabur karena alkohol, dan dalam kekacauan itu, wajah Aurel muncul di benaknya.
Sesuatu dalam dirinya bergetar. Mungkin rasa marah, mungkin kesepian yang ia sembunyikan di balik dinginnya sikap. Ia tidak tahu pasti.
Tanpa berpikir panjang, Samuel berjalan keluar kamar. Langkahnya berat, tapi cepat, seperti orang yang dikejar pikirannya sendiri. Ia berhenti di depan pintu kamar Aurel. Tangannya mengetuk keras, tapi tak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Aurel!” panggilnya, suaranya parau dan berat.
Lalu, dorongan tiba-tiba membuatnya memutar gagang pintu. Pintu terbuka dengan kasar.
Aurel terbangun kaget. Cahaya dari koridor menyilaukan matanya saat ia melihat sosok Samuel berdiri di ambang pintu, rambut berantakan, mata merah karena amarah dan alkohol.
“Tuan Samuel?” suaranya bergetar. “Ada apa—”
Samuel melangkah masuk, suaranya dalam dan berat. “Kau ... benar-benar membuat hidupku kacau!”
Ia menatap Aurel lama, tajam, namun di balik ketajaman itu ada luka yang dalam. Aurel menggenggam selimutnya kuat-kuat, mencoba memahami situasinya, antara takut dan iba.
Samuel berhenti di tepi ranjang, menatap ke bawah seolah sedang menahan sesuatu di dadanya. “Mereka mempermainkanku seolah aku hanya boneka yang bisa diatur… bahkan oleh darahku sendiri.”
Aurel menatapnya tanpa berkata apa pun.
“Sampai kapan aku harus… membuktikan diri?”
Tangannya bergerak ke arah kepalanya, menutup wajah sejenak, napasnya berat. Ia tidak lagi terlihat seperti ketua mafia yang dingin dan berkuasa, melainkan seseorang yang benar-benar lelah.
Aurel akhirnya bangkit perlahan, mendekat, dan berbicara dengan hati-hati, “Kau butuh istirahat, Tuan Samuel. Tolong, biarkan aku—”
Samuel menatapnya dengan liar, tangannya mengelus pipi Aurel lembut membuat Aurel merinding. Lalu ia mendorong Aurel dan mencium bibirnya dengan kasar.