Aurel berusaha melepaskan diri, ia mendorong tubuh Samuel. Tapi pria itu terlalu kuat. Hingga Aurel hanya bisa menitikkan air mata, pasrah. Saat Samuel menghentikan ciuman itu, ia menatap dengan dingin. “Jangan!” seru Aurel memohon. “Aku mohon ... jangan seperti ini, Tuan Samuel, kau sedang mabuk. Kau ... sedang tidak bisa berpikir rasional,” lanjut Aurel memohon dengan sangat. Samuel tersenyum sinis. “Kau memaksaku untuk menikahimu demi keuntunganmu sendiri, kini ... aku butuh bantuanmu, dan kau menolakku?” tanya Samuel. Emosinya semakin tinggi. Ia lalu menarik gaun tidur Aurel dengan sekali tarikan. Membuat tubuh putih itu terekspos tanpa sehelai benang pun. Aurel berusaha menahan dan berontak sekuat tenaga. Tapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga Samuel. Samuel kembali menciumi

