Samuel bergerak cepat, menunduk dan menendang meja kayu ke arah dua pria yang menyerangnya dari depan. Ia menggunakan tangan kirinya untuk memegang pistol dan menembak dengan presisi mematikan, setiap pelurunya tepat mengenai sasaran. Meski lengan kanannya patah, Samuel tetap bertarung seperti singa yang terluka. Ia menghantam wajah seorang pria dengan siku kiri, lalu menendangnya hingga tubuh itu terhempas ke dinding. Darah menetes dari pelipisnya yang terbuka kembali, tapi tatapannya tetap tajam, tak tergoyahkan. Okan menembak dua orang yang mencoba menyerang dari belakang, sementara anak buah Samuel yang lain bertarung dengan pisau dan senjata api. Gedung tua itu berubah menjadi medan perang brutal, suara tembakan dan teriakan memenuhi udara. “Bennard! Keluar dan hadapi aku sendiri,

