Langit sore tampak berwarna lembut, menyambut kepulangan dua penghuni rumah besar itu setelah beberapa hari di rumah sakit. Aurel berjalan pelan di samping Samuel, memegangi lengan pria itu dengan hati-hati. Di tangan kiri Samuel masih terpasang gips, dan langkahnya sedikit berat. Meski terlihat baik-baik saja, wajahnya tetap menunjukkan sisa kelelahan dan nyeri yang belum sepenuhnya hilang. “Pelan-pelan, Tuan Samuel,” ucap Aurel lembut, suaranya tenang dan penuh perhatian. Samuel menatap sekilas ke arah gadis itu, lalu mendengus pelan. “Aku masih bisa jalan sendiri, Aurel.” “Tapi tangan Anda—” “Aku bilang aku bisa,” ucapnya merasa tidak nyaman. Begitu memasuki rumah, Samuel langsung melepaskan pegangan Aurel dan berjalan lebih dulu. Aurel hanya bisa diam, lalu menunduk dan berkata li

