Aurel menatap Samuel dengan hati yang campur aduk saat mereka keluar dari hotel. Udara dingin malam Tokyo menggigit kulitnya, tapi tidak ada yang terasa lebih dingin dibanding ketegangan yang masih bergelayut di antara mereka. Samuel berjalan di sampingnya, jas hitamnya menutupi tubuh yang kekar dan tegap, langkahnya mantap meski wajahnya menahan ekspresi. Aurel tahu setiap kali Samuel menahan emosi, ada badai yang berkecamuk di dalam pikirannya, dan itu membuatnya tetap waspada. Mereka berjalan menyusuri trotoar yang ramai, lampu neon dari toko-toko di kanan dan kiri memantul di genangan air hujan yang masih tersisa, menciptakan kilauan warna-warni yang hampir hipnotis. Aurel menekankan kedua tangannya ke dalam saku jaket, mencoba menghangatkan diri, namun kenyataan yang baru saja terjadi

