Pagi ini, semua orang sibuk dengan persiapan prosesi pemakaman Ara. Semua sudah pada tugasnya masing-masing, Tata duduk di samping jenazah Ara. Menatap lekat gadis yang tengah memakai gaun putih duduk manis di samping tubuhnya yang sudah terbujur kaki. Tak ada sedikitpun air mata yang menetes, mungkin ini benar-benar ikhlas yang sesungguhnya. Ia hanya mampu menatap nanar tapi tak mampu untuk menangis, ia sudah terlanjur janji untuk tidak kembali menangis di hadapan gadis itu. Mereka saling melempar senyum satu sama lainnya, senyuman menguatkan. Ara terlihat cantik sekali dengan gaun putih dan rambut digerai. Kecantikannya semakin terpancar dari sebuah cahaya terang yang muncul dari tubuhnya. "Apakah kamu sudah bahagia?" tanya Tata melalui batin. "Sangat. Aku sangat amat bahagia sekar

