Adzan maghrib berkumandang, tubuh Pita mendadak tegang dan wajahnya pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, ia merasakan khawatir yang sangat luar biasa. Khawatir dengan keadaan Ara yang saat ini sedang bersama banyak orang. Keket menyadari perubahan dari Pita, ia mendekati Pita dan menepuk pundaknya. Gadis itu reflek menoleh pada Keket. "Kamu, kenapa?" "Suara adzan," ucap Pita dengan bibir bergetar. "Iya, sudah maghrib. Ayo kita masuk," ajak Keket. Pita langsung berlari masuk, mereka semua bingung melihat tingkah gadis itu. "Pita kenapa, Ta? Ket?" tanya Bang Iman. "Gak tahu loh, Bang. Tapi dia mendadak pucat tadi, ayo kita susul. Khawatir terjadi sesuatu." Pita terpaku diambang ruang keluarga, menatap nanar orang-orang yang berada di dekat Ara. "Argh!! Kenapa aku di

