Sebuah Misi Rahasia
"Nick, sebenarnya ada hal yang gue takutin."
Nick terdiam sejenak namun tetap melanjutkan aktivitasnya mendengar sang spesial mendadak berbicara serius.
"Gue takut kalo saat gue udah gedean dikit, ibu, bakalan jual gue ke rumah bordir atau gue dipaksa nikah sama om-om tua berduit atau jadi ani-ani sugar daddy."
Nicholas yang saat ini tengah menulis tugas mendadak berhenti memainkan penanya, dia lalu memandang gadis cantik dihadapannya itu.
"Gue bakalan habisin ibu tiri lo itu! gue bakal bawa lo jauh-jauh darinya jika itu terjadi." ucap Nicholas dengan tajam dan tegas.
Selena, sang gadis cantik itu pun tersenyum mendengar jawaban dari Nicholas.
"Lo ga akan tinggalin gue kan, Nick?"
"Ya! gue gak akan pernah ninggalin lo, apapun yang terjadi."
Deg!
Jantungnya mendadak berdenyut nyeri.
Selena nampak pucat saat terbangun dari mimpinya itu.
Sudah 10 tahun kejadian itu berlalu dan sebenarnya Selena yakin dia sudah melupakannya, namun malam ini entah mengapa potongan kecil dari masa lalunya kembali hadir dalam mimpinya dan itu bagai kutukan baginya.
Sakit di hatinya terasa kembali, Selena sampai memegang dadanya yang terasa sesak.
Nickolas, lelaki yang dulu berjanji tidak akan pernah meninggalkannya, ternyata begitu tega pergi menghilang darinya bahkan saat dirinya akan dijual ke rumah bordir.
***
"Boss, nona Selena sudah tiba."
"Suruh dia masuk!"
"Siap, Boss."
Tak Tak Tak.
Bunyi sepatu boots dengan heels terdengar memasuki suatu ruangan khusus di kediaman yang terlihat mewah nan elegan.
"Selena anakku, selamat datang, bagaimana kabarmu?" ucap lelaki paruh baya itu sambil menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
"Baik ayah, sudah lama tidak berjumpa dan sepertinya ayah kelihatan sehat."
"Dari luar ayah terlihat sehat, didalamnya belum tentu, Selena."
"Ayah! ayah jangan pernah bilang begitu, Selena tidak suka!"
Ayahnya itu langsung tertawa ringan.
"Kau terlihat menggemaskan jika cemberut seperti itu, putriku."
Selena hanya mendengus mendengar jawaban ayahnya itu.
"Jadi apa sebenarnya tujuan ayah ingin bicara denganku? bahkan pura-pura sakit dan bertemu di ruangan ini, tumben sekali."
"Ada misi penting untukmu, Selena, dan ini sangat rahasia."
***
Selena menghisap rokok elektrik di tangannya dengan merk Dagola favoritnya, aroma strawberry tercium saat asap rokok itu keluar dari mulutnya, dia terlihat memikirkan sesuatu.
"Apa yang Lo pikirin, Selena?"
Terdengar suara familiar membuyarkan pikirannya.
"Sejak kapan abang di sini?"
"Lo melamun sejak tadi, gue dari tadi ada di sini." ucapnya sambil mengacak rambut panjang Selena.
"Maaf, gue hanya..."
"Apa karena ayah? apa ayah ngasih lo misi lagi?"
Selena hanya mengangguk.
"Gue pikir ayah berubah pikiran."
"Apa abang udah tahu sebelumnya soal tugas ini?"
"Ya! dan aku sangat menentangnya, Selena, tugas yang ini sangat beresiko dan kau harus menjadi w*************a! yang benar saja!"
Selena tersenyum.
"Jadi abang khawatir dengan misi ini, apa karena Selena jadi w*************a?"
Abangnya itu mendengus sedikit kesal.
"Keduanya, bodoh." ucapan abangnya itu membuat Selena sedikit tertawa.
"Makasih ya bang, Lo selalu khawatir sama gue."
"Sebagai abang yang baik tentu saja gue harus jagain lo, Selena."
Selena tersenyum manis.
"Jadi apa yang abang tahu soal Black Giant?"
"Mereka mafia besar, jika lo merasa kita sudah besar, lo salah, mereka di atas kita, Selena."
"Mereka kuat dan tentu saja berbahaya."
Selena mulai mengorek sedikit informasi dan mendengarkan abangnya itu dengan serius.
"Black Giant, dulu di pimpin oleh Roberto Ethan, dia senior seperti ayah dan sekarang di pimpin oleh Nickolas Ethan, anak kandungnya."
Deg!
"Nickolas?" nama yang sudah sekian lama tidak ingin Selena dengar dan kini kembali terdengar semenjak mimpinya tadi malam.
"Ya! Lo tidak mungkin mengenalnya, Selena, gue aja belum pernah bertemu dengannya, dia sulit ditemui."
"Begitu ya? dia orang penting."
"Tentu saja, dia sulit ditaklukkan, Selena, rumornya sih dia sangat tampan."
Selena tertawa.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan abang gue yang satu ini."
Ucapan Selena itu membuat jantung Juan berdebar tidak karuan tapi dia berusaha menyembunyikannya.
"Tenang saja, bang, Selena akan berusaha sebaik mungkin, untuk bisa masuk ke Black Giant." ucapnya sambil menepuk pundak abangnya.
Juan hanya bisa tersenyum dengan terpaksa.
"Bukan itu yang gue takutkan, Selena."
Juan hanya bisa memandang Selena yang berjalan menjauh meninggalkannya.
***
Keesokan harinya, rencana Black Moon dimulai.
"Ayah tahu apa yang kau khawatirkan, Juan."
"Kau takut kehilangannya, maksudku bukan hanya dirinya tapi juga dengan hatinya."
Juan mengepalkan tangannya
"Selena tidak akan ditaklukkan dengan mudah ayah."
"Ya, ayah tahu, untuk itu ayah mempercayakan misi ini untuknya."
"Tapi bagaimana jika Black Giant tidak akan melepasnya?"
Ayahnya itu tertawa ringan.
"Akhirnya kau ucapkan juga, itu yang kau takutkan, Juan! Kau takut pimpinan Black Giant jatuh hati pada Selena."
Juan semakin mengepalkan tangannya.
"Hilangkan perasaan pada adikmu itu! walau kalian tidak sedarah tapi kalian tetap saudara."
Juan hanya bisa terdiam walau hatinya kian bergemuruh.
Obrolan mereka terhenti saat Selena memasuki ruangan kerja Julius, ayah mereka.
"Sepertinya kalian sedang mengobrol serius."
"Tidak, Juan hanya sedikit khawatir padamu putriku."
Selena hanya tersenyum.
Malam ini Selena nampak berbeda, dia lebih sexy dari biasanya, dia menggunakan gaun berwarna peach tanpa tali yang memperlihatkan bahu mulusnya, tubuh Selena tidak seperti gitar spanyol, namun cukup memukau karena terlihat pas dan nyaman di genggam.
"Kau terlihat luar biasa, benarkan, Juan?"
Juan yang ketika Selena datang terpukau pun akhirnya tersadar karena ulah jahil ayahnya.
Juan hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita berangkat."
Juan lalu menggandeng Selena keluar dari ruangan itu agar tidak berbasa-basi dengan ayahnya
Ayahnya hanya tersenyum melihat interaksi kedua anaknya itu.
"Juan dan Selena, dua anakku yang berharga."
***
"Gue yang jalanin tugas, kenapa lo yang keliatan takut, bang?"
Juan nampak terdiam saat mereka sudah sampai di salah satu bar yang terlihat asing bagi Selena.
"Jaga diri lo, jika ada yang nyakitin lo, kasih tau gue."
"Iya, iya, Lo lebih bawel dari biasanya, bang."
Tanpa membalas Juan langsung memeluk Selena dengan erat.
"Tenang aja, bang, lo tau gue paling bisa menjaga diri gue sendiri." Selena melepaskan pelukkan abangnya itu.
Selena lalu membuka mobil dan berjalan masuk kedalam bar.
Juan hanya bisa melihat adik kesayangannya itu menjauh darinya.
Selena memperlihatkan sebuah card berwarna merah saat berada di pintu masuk dan menunjukannya kepada penjaga.
Penjaga itu langsung menyuruh anak buahnya disana untuk mengantarkan Selena.
Dia diantar ke lantai dua, tempat khusus pemilihan para jalang pemuas nafsu sang pimpinan Black Giant.
Selena berjalan dengan tenang tanpa memperhatikan sekitar, dia hanya ingin focus pada tugasnya ini.
Ada 4 orang wanita sudah berada disana.
Mereka sangat cantik dan tentunya sexy, tatapan persaingan terlihat dari mata mereka, kecuali Selena yang nampak santai.
Mereka berdiri berjajar sesuai arahan pria bertubuh besar yang memerintah.
"Keluarkan kemampuan terbaik kalian, agar bisa dipilih bos."
Mereka nampak antusias, karena ini kesempatan emas, pundi-pundi uang akan terpampang nyata saat dinyatakan terpilih oleh sang bos besar.
"Bersiaplah, bos akan segera masuk."
Selena mulai berdebar, tidak seperti biasanya dia kali ini merasa gugup.
Rumor itu ternyata benar, Nicholas Ethan sangatlah tampan, dia spek dewa yunani, tubuhnya pun sangat atletis dibalut jas berwarna hitam dengan dalaman biru navy.
Dia terlihat masih muda, walau rumor mengatakan dia pria dewasa.
Semua wanita terpana padanya, semua langsung tebar pesona saat sang dewa yunani itu berjalan mendekati mereka, kecuali Selena, dia terdiam membatu.
"Gue nggak bisa, gue nggak bisa melanjutkan ini." Selana terus menggerutu dalam hati.
Hanya sekali Selena menatap pria itu, dan dia langsung menundukkan kepalanya, badannya langsung lemas, hatinya tersiksa dan ini seperti mimpi buruk baginya.
"Siapa kau?"
Selena terkejut saat pria itu tepat berada didepannya dan bertanya dengan tatapan yang tajam serta penuh tanda tanya.
***