Part 19

1378 Kata
Beberapa hari kemudian “Ayah!” gumam Syifa sembari menatap mobil yang terparkir di depan kampus. Saat ingin berjalan memasuki area kampus ia tidak sengaja melihat keberadaan mobil Ayahnya. Ia berlari kecil menghampiri mobil tersebut. Syifa tidak mungkin salah karena ia mengingat plat mobil Ayahnya. Dan benar saja, tidak lama terlihat Zakia keluar dari mobil tersebut. “Ayah!” panggilnya dengan suara sedikit keras Sontak Zakia menatap ke sumber suara. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan rasa kesal melihat kedatangan Syifa. “Kenapa harus ada dia sih?” ucapnya dalam hati “Ayah!” panggil Syifa dari kaca mobil Fadlan terkejut melihat keberadaan putrinya. Beliau langsung keluar mobil menemui putri kesayangannya itu. Kebetulan sekali mereka bertemu di sini. Beliau sangat merindukannya. “Ya Allah, Syifa!” Fadlan langsung memeluk putrinya menyalurkan kerindungan beliau. Syifa membalas pelukan sang Ayah tidak kalah erat. Ia merasakan hal yang sama dengan Ayahnya. Ia mengelus punggung Fadlan dengan lembut. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ternyata seperti ini rasanya jika hidup berjauhan dengan Orang Tua. “Kamu apa kabar, nak?” Fadlan beralih menangkup wajah putrinya. “Alhamdulillah.. Syifa baik, Yah.” “Ayah sendiri bagaimana?” “Alhamdulillah, Ayah juga baik, nak.” Fadlan tersenyum haru menatap putrinya. Ibu jarinya mengelus pipi chubby Syifa dengan lembut. Beliau melihat kebahagiaan di mata putrinya. Itu tandanya Syifa hidup bahagia bersama suaminya, Hafiz. Beliau merasa Hafiz bisa menjadi suami yang baik untuk putrinya. “Kamu semakin berisi, nak.” Syifa terkekeh kecil mendengarnya. “Iya, Ayah. Kak Hafiz memperlakukan Syifa dengan sangat baik.” “Syukurlah! Ayah merasa tenang mendengar jawaban kamu.” Jika Fadlan bahagia melihat putrinya hidup bersama laki-laki yang tepat, tapi tidak dengan Zakia. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Ia merasa iri dengan kebahagiaan saudara tirinya, Syifa. Apalagi tepat di hadapannya saat ini melihat Fadlan begitu menyayangi Syifa. “Ayah benar-benar pilih kasih.” ucap Zakia dalam hati “Ayah berangkat ke kantor dulu, ya! Kamu belajar yang rajin.” Syifa mengangguk sembari tersenyum. “Ayah juga semangat kerjanya.” “Iya, sayang.” “Ayah pamit! Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Syifa beralih bicara dengan sopir pribadi Ayahnya. Ia menyampaikan pesan kecil padanya. “Hati-hati bawa mobilnya ya, Pak.” “Siap, mbak.” Setelahnya mobil yang ditumpangi Fadlan pergi meninggalkan area kampus. Pagi ini Zakia tidak membawa mobil sendiri karena malas. Dan yang ia sesali harus bertemu dengan saudara tirinya tanpa sengaja. Zakia menatap sinis ke arah Syifa. Setelah Syifa menikah dengan Hafiz ia semakin menunjukkan rasa tidak suka padanya. Setelah mobil Fadlan pergi jauh Syifa beralih menatap saudara tirinya. Ia tersenyum kecil meskipun Zakia secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka. Syifa melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ia melewati Zakia begitu saja tanpa menatap ke arahnya. “Gue benar-benar muak sama lo, Syifa.” ucapnya dalam hati Zakia berjalan cepat menyusul langkah Syifa. Saat berjalan melewatinya ia dengan sengaja menabrak bahu Syifa. Brugh “Awhh..” Syifa meringis pelan saat Zakia dengan sengaja menabrak bahunya. Bahkan Zakia langsung pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa. Syifa mengelus bahunya yang terasa sedikit sakit. Ia menggeleng pelan melihat sikap saudara tirinya itu. “Astagfirullah.” “Sabar, Syifa! Masih pagi, dan kamu tidak perlu meladeninya.” Untung saja Syifa memiliki kesabaran yang luar biasa. Ia tidak perlu meladeni sikap Zakia yang bisa saja membuat hubungan keduanya semakin berantakan. Ia hanya perlu bersabar dan mendoakan Zakia agar berubah jadi lebih baik. *** Siang harinya Syifa berjalan menuju ruangan suaminya. Setelah pulang dari kampus ia selalu datang ke kantor untuk menemui Hafiz. Saat membuka pintu ia melihat Hafiz sedang berdiri membelakanginya dengan ponsel di tangannya. Hafiz sedang berkomunikasi dengan seseorang melalui telepon. “Sepertinya Kak Hafiz nggak tahu kalau aku datang.” ucap Syifa dalam hati Syifa berjalan pelan-pelan menuju suaminya. Ia tidak ingin Hafiz menyadari keberadaannya. Dan… Hap “Astagfirullah.” Hafiz terlonjak kaget tiba-tiba mendapat pelukan dari arah belakang. Namun setelahnya Hafiz tersenyum karena bisa mencium harum istrinya. Ia sudah hafal wangi Syifa. “Kita lanjutkan nanti!” Hafiz menutup sambungan teleponnya setelah menyadari kedatangan Syifa. “Sudah pulang, hm!?” Hafiz mengelus punggung tangan istrinya. “Iya, Kak.” Hafiz melepas pelukannya lalu berbalik badan menghadap ke arah Syifa. Keduanya melempar senyuman manis. “Gimana hari ini? Baik-baik saja atau ada hal lain yang tidak kamu sukai?” Syifa tersenyum kecil. “Alhamdulillah, hari ini Syifa baik-baik saja, Kak.” “Nggak ada hal lain yang membuat kamu kesal?” Syifa terdiam sejenak. Ia teringat dengan perbuatan Zakia tadi pagi, tapi ia tidak ingin menceritakan pada Hafiz agar suaminya tidak semakin membenci saudara tirinya. Setelahnya Syifa menggeleng pelan. “Nggak ada, Kak. Semuanya baik.” “Alhamdulillah.. saya ikut senang mendengarnya.” “Kak Hafiz udah makan?” “Belum. Kamu lapar?” Syifa mengangguk malu-malu. Hafiz mengacak pucuk kepala Syifa karena merasa gemas dengannya. “Ihh.. jangan diberantakin, Kak.” rengek Syifa dengan manja “Gemesin banget! Istri siapa sih, hm?” “Istri Kak Hafiz!” Hafiz tersenyum lalu menggenggam tangan Syifa. Ia mengajak istrinya ke kantin untuk makan siang. Saat berjalan menuju kantin mereka tidak sengaja bertemu dengan Fadlan dan Zulfa. Orang Tua Syifa datang ke kantor Hafiz tanpa memberitahu dulu. Hal itu membuat Hafiz terkejut. Ia bukan terkejut karena kedatangan Fadlan, melainkan Zulfa ikut bersamanya. “Ayah, Mama!” Syifa tersenyum melihat kedatangan Orang Tuanya. Padahal tadi pagi ia sempat bertemu Fadlan di area kampus. Syifa melepas genggaman tangan suaminya lalu berlari kecil menuju sang Ayah tercinta. Ternyata keduanya masih sangat merindukan. Brugh Syifa memeluk Ayahnya erat. Pertemuannya di kampus tadi tidak membuat ia merasa puas. “Ayah, kenapa nggak bilang kalau mau ke kantor Kak Hafiz? Kan Syifa bisa jemput di Lobby.” Fadlan mengelus punggung putrinya lembut dan penuh kasih sayang. Beliau tidak kalah erat membalas pelukannya. “Nggak papa, sayang. Biar jadi surprise untuk kalian berdua.” “Oh ya, kalian mau ke mana?” tanya Fadlan “Syifa dan Kak Hafiz mau ke kantin, Yah. Kita mau makan siang.” “Kebetulan sekali Ayah belum makan siang. Kalau gitu kita makan sama-sama!” Syifa dan Hafiz mengangguk setuju. Zulfa tersenyum canggung. Ia merasa kesal dengan putri tirinya padahal Syifa tidak berbuat apa-apa. Setelah mendengar cerita dari putrinya membuat beliau semakin membenci Syifa. “Mas Fadlan sepertinya sangat menyayangi putrinya, Syifa.” ucap Zulfa dalam hati “Apa yang harus aku lakukan untuk memisahkan Syifa dari Hafiz?” Zulfa berjalan di posisi belakang. Di depannya ada suami, anak tiri, dan menantunya. Keberadaan beliau seolah tidak dianggap oleh mereka semua. Bahkan Hafiz tidak mengajaknya bicara sedikitpun. Hanya sekedar menyapa di awal. “Mereka benar-benar tidak menganggapku. Sialan!” batin Zulfa berucap “Sebenarnya aku ini apa di mata mereka?” “Huhh..” Zulfa menghela nafas kasar. Beliau tidak bisa melakukan apa-apa, karena sama saja dirinya hanya orang lain di mata mereka. Setelah mencari tempat duduk Hafiz memesan makanan untuk keluarganya. Tidak lama Hafiz kembali dan setelahnya makanan datang tanpa menunggu lama. Zulfa menatap sekeliling. Saat duduk tiba-tiba terbesit sebuah ide di kepalanya. “Aku sudah menemukan ide. Sepertinya aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.” ucap Zulfa dalam hati Tanpa Zulfa sadari Hafiz sejak tadi memperhatikannya. Ia bertanya-tanya dengan sikap Ibu mertuanya itu. Sikap Zulfa sedikit mencurigakan menurutnya. Zulfa terlihat berpikir, tapi entah apa itu. “Apa yang dipikirkan Mama Zulfa? Beliau terlihat memikirkan sesuatu.” batin Hafiz berucap “Ma, makanannya nggak dimakan?” “Ah, iya.” lamunan Zulfa seketika buyar setelah mendengar suara menantunya. Beliau tersenyum canggung ke arahnya. "I-ini mau dimakan kok." lanjutnya Hafiz semakin curiga mendengar jawaban gugup dari Zulfa. Ia semakin yakin jika ada yang dipikirkan oleh Ibu mertuanya itu. Ia takut Zulfa memikirkan sebuah rencana untuknya dan Syifa. "Kak, dimakan sebelum dingin makanannya!" ujar Syifa memecahkan lamunan Hafiz. Hafiz mengangguk. Ia tersenyum canggung ke arah istrinya. Karena terlalu fokus memikirkan Ibu mertuanya ia sampai lupa dengan makanannya. "Jangan sampai Hafiz curiga denganku." batin Zulfa berucap Mereka makan dengan kondisi tenang. Tidak ada percakapan di antara mereka. Meskipun mulut Hafiz terdiam tapi kepalanya sangat berisik. Ia memikirkan banyak hal, apalagi tentang rumah tangganya. Sebagai kepala rumah tangga ada ketakutan sendiri dalam dirinya. Ia takut Zulfa dan Zakia memiliki rencana buruk untuk rumah tangganya. "Astagfirullah.. sebaiknya aku tidak berpikiran buruk." ucapnya dalam hati "Ya Allah, lindungilah rumah tangga kami." Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN