Part 20

1409 Kata
Ceklek Zulfa membuka pintu kamar putrinya dan termyata Zakia sedang tidur, padahal masih sore. Beliau geleng-geleng kepala melihatnya. “Masih pukul tujuh malam dia udah tidur!” “Astagaa.. anak itu!” Zulfa geram sendiri melihatnya. “ZAKIA, BANGUN!” teriaknya “Astaga,” Zakia langsung terbangun setelah mendengar suara teriakan Ibunya. “Ck, Mama!” kesalnya “Kamu mau jadi apa jam segini udah tidur, ha? Ini masih pukul tujuh, Zakia.” “Huhh..” Zakia menghela nafas kasar. Bukannya bangun ia justu kembali merebahkan tubuhnya. Zulfa semakin kesal karena Zakia kembali tidur. Beliau menarik tangan Zakia memaksanya untuk bangun. “Ck, apasih, Ma?” Zakia ikut kesal karena perbuatan Ibunya. “Kamu jangan malas-malas, Zakia. Bangun!” “Ck.” Zakia berdecak kesal, namun ia tetap bangun karena terpaksa. Zulfa memegang kedua lengan Zakia sembari menatapnya lekat. Beliau berniat mengatakan sesuatu hal yang penting. Setelah pulang dari menemani suaminya tadi beliau sudah memikirkan semuanya. Beliau yakin rencananya kali ini pasti berhasil. “Mama ada rencana buat kamu.” Zakia menghela nafas. Ia terlihat biasa saja karena sudah terlalu malas dengan rencana Ibunya. “Apa lagi, Ma?” tanyanya dengan nada malas. “Dengerin Mama!” Zulfa menjelaskan tentang rencananya. Kali ini beliau sudah memikirkan secara matang-matang dan yakin sekali akan berhasil. Zakia terdiam sembari mencerna rencana dari Ibunya. Ia tidak seyakin itu namun tetap mendengarkan. “Kamu mengerti kan penjelasan Mama?” tanya Zulfa “Zakia paham. Tapi.. apa yakin dengan rencana itu?” “Ck, Mama yakin sekali, Zakia.” Zulfa melepas tangannya. Beliau mengalihkan pandangannya sembari tersenyum miring. Beliau teringat jelas bagaimana Perusahaan Hafiz. Ternyata beliau baru tahu jika Hafiz bukan dari keluarga sembarangan. Bahkan ruang kerjanya cukup besar dan mewah. “Asal kamu tahu, Mama tadi diajak Ayah berkunjung ke Perusahaan Hafiz. Perusahaannya sangat besar dan mewah, Zakia.” Zulfa berdecak kagum saat menjelaskan pada putrinya. Zakia menganga tidak percaya. Ia langsung excited setelahnya. “Mama nggak bohong kan?” “Mama tidak berbohong, Zakia. Besok Mama kasih Alamat Perusahaannya dan kamu jalankan apa yang Mama suruh!” Zakia mengangguk semangat. Ia langsung percaya dengan rencana Zulfa setelah mendengar penjelasan Ibunya itu. Bahkan ia penasaran sebesar apa Perusahaan Hafiz sampai Ibunya terkagum-kagum seperti itu. “Bagaimanapun caranya Zakia harus bisa mendapatkan Hafiz, Ma.” gumamnya “Kamu benar, sayang. Syifa dan Hafiz harus berpisah.” “Mama benar-benar tidak rela melihat Syifa hidup bahagia bersama suaminya, Hafiz. Padahal Hafiz adalah calon suami kamu.” lanjutnya Zulfa menggenggam tangan Zakia. Beliau meyakinkan putrinya pasti bisa. “Kamu harus yakin jika Hafiz akan kembali ke pelukan kamu.” Zakia tersenyum smirk mendengarnya. Tentu, apa yang sudah menjadi miliknya akan ia rebut kembali. Syifa tidak pantas hidup bersama Hafiz. Hafiz hanya pantas untuk dirinya. “Lihat aja Syifa, Kak Hafiz akan jatuh ke pelukanku.” ucapnya dalam hati *** Keesokan harinya Zakia memasuki area Perusahaan Hafiz. Yang dikatakan Ibunya benar adanya. Perusahaan Hafiz cukup besar, bahkan bangunannya terlihat elegan dan mewah. Zakia berjalan memasuki Lobby berniat bertanya pada pihak resepsionis. “Selamat Siang! Ada yang bisa saya bantu?” tanya pihak resepsionis “Siang!” “Em.. saya ingin bertemu dengan Pak Hafiz!” Pihak resepsionis tersebut menatap Zakia dengan tatapan heran. “Maaf, apa sebelumnya sudah membuat janji denga beliau?” Bukannya menjawab Zakia justru mengeluarkan sebuah kertu lalu ia berikan pada pihak resepsionis tersebut. “Ah, maaf, saya tidak tahu kalau Mbak Zakia saudara ipar dari Pak Hafiz.” Zakia hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. Untung saja ia mempunyai kartu Ayahnya, hal itu bisa ia pergunakan dengan baik. “Jadi, apa saya boleh bertemu dengan Pak Hafiz?” “Boleh. Kebetulan Pak Hafiz hari ini kosong.” “Mari saya antar!” lanjutnya “Em.. tidak perlu! Tolong beritahu ruangan Pak Hafiz saja di mana, biar saya yang ke ruangannya sendiri.” “Baiklah.” Pihak resepsionis tersebut memberitahu di mana ruangan Hafiz tanpa curiga sedikitpun. Karena identitas yang diberikan olehnya membuat ia langsung percaya. Karena tidak mungkin orang lain memiliki identitas khusus jika bukan keluarga inti. “Terima kasih.” Dan setelahnya Zakia berjalan menuju sesuai arahan pihak resepsionis. Ia memasuki lift yang langsung terhubung dengan ruangan Hafiz. Zakia tersenyum smirk. Ia sudah tidak sabar menjalankan rencananya. “Kak Hafiz benar-benar laki-laki impianku.” gumamnya Ting Zakia keluar dari lift saat pintu terbuka. Ia berjalan sedikit ke depan dan terlihatlah papan nama Hafiz tertempel di pintu sebuah ruangan. Ia yakin dirinya saat ini berdiri di depan ruangan Hafiz. “Nggak salah lagi, ini pasti ruangan Kak Hafiz.” ucapnya dalam hati Dengan penuh keberanian Zakia membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya terlebih dulu. Terlihatlah Hafiz yang sedang berdiri dengan posisi membelakanginya. Zakia tersenyum manis. Bahkan dari belakang postur tubuh Hafiz sangat sempurna. Perlahan Zakia menutup pintu sampai tidak menimbulkan suara sedikitpun agar Hafiz tidak menyadari kedatangannya. Ia melangkah menuju Hafiz dengan hati-hati. Zakia berdiri tepat di belakang tubuh Hafiz. Ia menatapnya sembari tersenyum manis. Dan… Hap “Eh,” Hafiz terkejut karena mendapat pelukan tiba-tiba dari arah belakang. Namun setelahnya Hafiz tersenyum karena berpikir seseorang yang memeluknya saat ini adalah istrinya, Syifa. “Kamu sudah pulang? Tumben nggak ngasih tahu dulu?!” tanyanya tanpa rasa curiga sedikitpun “—“ Zakia terdiam. “Kok diam aja sih? Saya tanya loh!” “—“ Zakia hanya terdiam dengan senyuman manis di bibirnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya karena merasa sangat nyaman. “Ternyata senyaman ini memeluk kamu, Kak.” ucap Zakia dalam hati Hafiz mengernyitkan keningnya bingung. Ia bertanya-tanya dalam hati kenapa istrinya diam saja. Bahkan ia tidak mencium harum yang sama. Kali ini wanginya terasa berbeda dari yang biasa dipakai istrinya, Syifa. “Syifa kenapa? Kok tumben diam saja saya tanya?” batin Hafi bertanya-tanya “Syifa!” panggil Hafiz dengan suara lembut. Deg Senyum di bibir Zakia seketika menghilang setelah Hafiz memanggil nama saudara tirinya. Moodnya hancur seketika. Padahal wajar jika Hafiz memanggil nama Syifa karena dia istrinya. “Kenapa harus dia sih yang disebut?” gerutu Zakia dalam hati “Tunggu, sepertinya Kak Hafiz saat ini menganggapku Syifa. Tidak masalah, yang terpenting aku bisa memeluknya sampai merasa puas.” “Jadi begini rasanya memeluk laki-laki tampan dan kaya raya.” lnjutnya dalam hati Di sisi lain, Syifa berjalan memasuki lift dengan sebuah kotak makanan di tangannya. Dengan sengaja ia tidak memberitahu Hafiz terlebih dulu jika ia sudah pulang dari kampus. Ia ingin memberi suaminya surprise dengan membawakan makan siang untuknya. “Kak Hafiz pasti terkejut.” gumamnya Setelah pintu lift terbuka Syifa keluar dan berjalan menuju ruangan suaminya. Sebelum masuk ia merapikan penampilannya terlebih dulu karena takut berantakan. Ia tidak ingin bertemu suaminya dengan kondisi yang berantakan. Syifa mulai mendorong pintu tersebut, “Ass—“ Deg BRAK Pyarrr “Astagfirullah.” Hafiz terkejut mendengar suara pecahan dari arah pintu ruangannya. Hafiz menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya saat melihat keberadaan Syifa. Lalu siapa yang memeluknya saat ini? Hafiz melebarkan matanya terkejut karena yang memeluknya saat ini adalah Zakia. “APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN?” bentak Hafiz sembari melepas paksa pelukan Zakia “Awhh..” Zakia meringis kesakitan saat Hafiz mendorong tubuhnya menjauh. “S-syifa…” lirih Hafiz Tubuh Syifa mematung di tempat setelah apa yang dilihat barusan. Makanan yang ia bawa jatuh berserekan ke lantai. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Hafiz dan Zakia sedang berpelukan. Bahkan ia sempat melihat Hafiz mengelus punggung tangan saudara tirinya. "Ya Allah, apa ini?" ucapnya dalam hati "Syifa, apa yang kamu lihat..." "Kak Hafiz kenapa tiba-tiba mendorong Zakia? Padahal kita barusan ngobrol dengan nyaman dan tenang." Zakia dengan sengaja memotong perkataan Hafiz dan semakin membuat suasana panas dengan mengarang cerita. Hafiz menatap tajam ke arah Zakia. Berani-beraninya dia berkata seperti itu. Melihat tatapan Hafiz membuat Zakia sedikit takut, namun ia tidak mundur begitu saja. Ia tetap menjalankan rencananya sampai berhasil. Rencananya sudah hampir sempurna karena kesalahapahaman sudah terjadi di antara mereka. Dengan begini mereka bisa berpisah secata mudah. Hafiz mengabaikan Zakia. Ia berjalan mendekat ke arah istrinya namun suara Syifa membuat langkahnya terhenti. "Jangan mendekat, Kak!" ujar Syifa dengan suara bergetar Dadanya terasa sesak menyaksikan suaminya berpelukan dengan saudara tirinya sendiri. Dan sekarang ketakutan yang ia rasakan seketika memenuhi dirinya. Ia takut Hafiz berpaling darinya, karena sejak awal seharusnya mereka menikah. "Syifa, dengerin penjelasan saya dulu!" "Apa yang kamu lihat barusan tidak benar. Bahkan saya tidak tahu kalau..." "Cukup, Kak!" Syifa memotong penjelasan suaminya. "Syifa tidak mau mendengar alasan apapun karena Syifa melihatna sendiri. Kalian berpelukan, Kak." Next>>
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN