103. The Day

1099 Kata

“Hai.” Eriva masuk ke dalam ruang tunggu dimana kakaknya sudah duduk dengan gaun putih mewah yang membungkus tubuhnya. Gaunnya melebar hingga melebihi kaki. Ada juga veil senada menghiasi puncak kepala Ivy. “Eri. Dari mana aja sih kamu?” Eriva berjalan mendekat setelah menutup pintu di belakangnya. Ia tertawa kecil, kelihatan sekali kakaknya itu sedang dilanda gugup parah. “Kenapa Kakak nyariin aku?” Ivy menggeleng. “Kakak…” “Kakak gugup ya?” “Iya. Kakak juga kangen sama Papa Mama. Andai aja mereka masih ada.” Eriva memeluk kakaknya. Meski tetap menjaga agar gaun kakaknya tak kusut. “Aku juga, Kak. Kalau Papa Mama masih ada, mereka pasti bahagia banget.” “Tapi aku bisa dibunuh Papa kalau tahu udah punya Bravy sebelum menikah.” Eriva kembali tertawa kecil. Bisa-bisanya di saat pe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN