“Arcelia, apa jadwal saya hari ini?” Suara bariton Dante terdengar begitu datar saat keduanya baru saja memasuki mobil hitam berlogo D yang akan membawa mereka ke kantor pusat Danadyaksa Group.
Arcelia dengan gesit membuka iPad-nya dan mengecek schedule sang Bos. “Bertemu klien di jam 10 pagi, dilanjut meeting di jam dua siang dengan Pak Rahardian Kusuma Atmaja dari Menteri Pariwisata, dan sorenya ... anda ada pertemuan dengan salah satu vendor untuk membahas vanue pernikahan anda dengan bu Caluna, Pak.”
“Diluar itu?”
“Mmmm, seharusnya Anda menjemput Max di sekolahnya. Tapi—”
“Dia meminta agar kau saja yang menjemputnya, Ce.”
Arcelia mengangguk. “Baik.”
“Ada lagi?”
“Tidak ada. Hanya itu saja agenda anda hari ini, Pak.”
Dante tidak menanggapi. Matanya fokus pada layar ponsel. Beberapa detik kemudian, tanpa mengalihkan pandangan, ia kembali bicara, “Coret pertemuan saya dengan pihak vendor sore nanti. Beritahu mereka untuk re-schedule. Caluna bilang dia sibuk hari ini.”
“Oh? Lagi?” gumam Arcelia. Berhasil membuat Dante menoleh. Ia memiringkan kepalanya.
“Ada masalah, Ce?”
“No. Hanya saja ... Ini sudah keempat kalinya anda me-reschedule jadwal, Pak. Minggu lalu saya sudah terkena umpatan karena bapak kembali re-schedule janji temu. Dan kali ini, lagi? Sebenarnya kalian niat menikah apa tidak?”
“Apa itu menjadi urusanmu sekarang, Celia?”
“Bukan saya. Pihak vendor yang mengatakannya.”
Beberapa detik keheningan mengambang di udara. Lalu Dante menghela napas. “Baiklah. Tidak perlu meminta re-schedule. Kita akan menemui mereka sore nanti.”
“Wait. Kenapa saya harus ikut?”
“Apa menurut kamu saya harus datang sendiri, Celia?”
“Kamu asisten pribadi saya kalau kamu lupa. Dan hanya kamu yang bisa diandalkan,” tambahnya, menyebalkan. Seperti biasa.
Dalam hati, Arcelia mendengus.
“Tapi sore nanti saya sudah berjanji akan menemani Bu Silvana—”
“Celia?” potong Dante datar. “Apa sekarang kamu merangkap jadi asisten pribadi ibuku juga?”
“Maksud sa—”
“Batalkan. Aku yang menggajimu, bukan ibuku,” katanya dengan nada suara yang tajam, dingin, dan yah, seperti biasa, tidak ingin dibantah.
Arcelia sudah sangat biasa dengan sikap bossy bosnya itu. Selain menyebalkan, Dante juga tipikal bos yang keras kepala. Tidak menerima bantahan, kritikan, saran, bahkan masukan dari Arcelia padahal jelas-jelas pria itu bertanya padanya. Tidak masuk akal, bukan?
Tidak, tidak sampai di situ. Dante juga sangat suka marah-marah bahkan tanpa alasan yang jelas pada Arcelia. Benar, sekali lagi hanya pada Arcelia. Tolong, garis bawahi jika perlu.
Pernah sekali, lelaki itu kehilangan dasinya dan menyalahkan Arcelia karena tidak memastikan dengan baik pada pelayan mengenai pakaian yang akan dikenakan oleh Dante hari itu. Padahal, kenyataannya, Dante yang lupa menaruhnya saat Maxime, anaknya tiba-tiba menangis karena terpentok meja.
Apakah Dante minta maaf setelahnya? Tentu saja tidak. Saat tahu ia sendiri yang menaruh sembarangan, Max ia jadikan alasan paling masuk akal untuk menghindar dari kata ‘tersangka’ yang besalah.
See? Kurang menyebalkan apalagi bosnya itu?
Untung lah sikap tak terpuji itu diimbangi oleh wajahnya yang tampan dan tubuh proporsional. Setidaknya, cukup untuk membuat orang lain terkesan dan mempunyai first impression yang baik mengenai Dante.
Walau yaaah, tetap saja di mata Arcelia Dante tidak lebih dari sekedar bos yang bossy dan tukang marah-marah.
🥂
Siang itu, Arcelia menepati permintaan Max untuk menjemputnya di sekolah. Dari kejauhan anak kecil tampam berusia 5 tahun itu melambaikan tangannya dan berlari ke arah Arcelia yang baru saja turun dari mobil.
“Hi, Celia. I'm so happy you picked me up!” katanya dengan ekspresi wajah yang ceria.
“That means Papi tidak berbohong saat mengatakan bahwa dia akan berbicara padamu untuk menjemputku!”
Arcelia mengusap pucuk kepala Max gemas. Ia berjongkok di hadapan Max. “Your daddy couldn’t possibly lie to you, Max.”
Ia menyipitkan matanya, pura-pura mengetahui sesuatu. “Kau pasti menginginkan sesuatu, benar? Makanya ingin aku yang menjemput, hmmm? Katakan. What is that?”
Max terkekeh. “Alright. Kamu memang paling tahu aku, Celia. Aku ingin ice cream. Kita mampir sebentar ke kedai ice cream ya, Celia? Tapi jangan bilang-bilang papi. Aku sangat menginginkannya, Celia. Dan hanya kau yang bisa mengabulkan keinginanku. Not Papi, not grandmommy.”
“Dan bagaimana kalau aku menolak?”
“Aku akan marah, Celia. Selamanya. Tidak mau berbicara denganmu lagi!”
Arcelia pura-pura terkejut. “Really?”
“Very serious, Celia!” jawabnya dengan nada menantang. Gemas sekali.
Arcelia tersenyum. “Baiklah. Tapi sebentar saja, ya? Karena kita harus bertemu dengan Papimu. Ayo?”
Lalu keduanya masuk ke dalam mobil. Arcelia meminta pada Pak Johan untuk mengantarkan mereka ke kedai ice cream sebelum pulang.
“Kenapa kita harus bertemu Papi, Ce?” tanya Max kemudian.
“Sebenarnya dia tidak menyuruhku untuk kau ikut tapi, jika harus mengantarmu terlebih dahulu, itu akan memakan banyak waktu. Dan lagi sore hari jalanan kembali macet sehingga aku pasti akan terlambat dan—”
“Papi akan marah-marah jika kau terlambat.”
“Alright, boy!”
“Celia?”
“Ya?”
“Apa papi akan benar-benar menikah dengan Caluna?”
Arcelia sontak mengerutkan alisnya. “Kenapa tiba-tiba bertanya mengenai itu, Max? Apa kamu tidak tidak senang Caluna menjadi ibumu?”
Max menggeleng. “She's nice. But she doesn't seem if she loves me. Aku takut, Celia.” Wajah sedihnya terlihat begitu jelas untuk ukuran anak usia 5 tahun.
“Kemari,” ucap Arcelia sambil membentangkan tangannya. Dengan tanpa ragu Max menggeser tubuhnya merapat pada Arcelia dan memeluknya.
“Caluna pasti menyayangimu, Max.”
“Seperti kamu, Celia?” wajahnya tiba-tiba saja menyembul di tengah-tengah pelukan.
Membuat Arcelia kembali menarik sudut bibirnya. Tersenyum. “Benar. Seperti aku yang juga menyayangimu.”
“Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang menikah dengan Papi, Celia?”
🥂