Suasana ballroom Hotel Stratera sore itu terasa megah sekaligus intim. Langit jingga keemasan memantul di kaca-kaca gedung tinggi di sekitar Ibu Kota dan menciptakan panorama urban yang dramatis juga menawan. Hotel Stratera sendiri dipilih langsung oleh Caluna karena merasa terpukau saat menemani Dante ke acara pernikahan pemilik hotel tersebut—Edgara Daskarendra yang merupakan rekan kerja bisnis Dante di sektor hospitality.
Daska, pria tampan berusia 35 tahun itu sedang berbincang-bincang dengan Zidane—event planner pribadi keluarganya yang kali ini kembali dipercaya untuk memegang event pernikahan Dante—ketika Dante memasuki ruangan dan mendekat ke arah keduanya.
“Aku kira aku hanya punya janji temu dengan staff-mu, apakah aku salah, eh?” ujar Dante.
Daska tersenyum, karismatik sekali. “Aku dengar jika kau akan melangsungkan pernikahan di Stratera sehingga aku harus memastikan semuanya berjalan sesuai keinginanmu dan Caluna.”
“Tempat ini mewah, dan sesuai dengan keinginan Caluna. Dia bahkan terus menanyakan apakah aku sudah menghubungi pihak Stratera atau belum sejak pernikahanmu dan Serenea beberapa bulan yang lalu. Tapi sayangnya Caluna tidak bisa hadir hari ini.”
“Tidak masalah, dia pasti sibuk.”
“Yah, That's what an artist is like, right?” Ada raut sedih yang samar di mata Dante. Tipis sekali sehingga hampir tidak akan ada yang menyadarinya, kecuali orang tersebut memiliki tingkat kepekaan yang luar biasa.
“Like an consequencess, dude?”
“Bisa disebut begitu, bukan?” dan keduanya pun tertawa.
Tak berselang lama, ponsel Daska berbunyi, menampilkan satu nama yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari. Siapa lagi kalau bukan Serenea—istrinya.
“Istriku,” katanya pada Dante. Seolah meminta pemahaman Dante karena pembicaraan mereka harus terputus sejenak.
“Sure.”
“Iya, sayang. Ada apa?”
“Mas lagi di mana?”
“Mas lagi di Stratera. Sedang bertemu dengan rekan bisnis.”
“Oh? Aku mengganggu, ya?”
“No, never, sayang. Apa kamu mual-mual lagi?”
“Eummm, nggak, Mas. Udah nggak tapi aku lagi pengen banget makan Som Tam Thailand yang waktu kita di Bali itu loh, Mas. Cariin ya, Mas. Sekarang banget pokoknya ...” pintanya manja di ujung telepon.
“Apa Mas langsung ke Bali aja sayang?”
“Jangan. Kejauhan. Cari yang dekat aja, Mas. Tapi yang paling mirip. Ya Mas, ya? Please ....”
Daska refleks tersenyum meski sadar bahwa istrinya itu tidak akan melihatnya. “Anything for you, sayang.”
Dan tak lama setelahnya, telepon itu terputus.
“Ngidam eh?” Suara itu datang dari Dante.
“Ya. Akhir-akhir ini istriku selalu menginginkan hal yang aneh dan akan marah bahkan menangis jika apa yang dia inginkan tidak dia dapatkan.” Daska terkekeh mengingat tingkah manja dan menggemaskan Nea semenjak hamil.
Dante tersenyum. “Begitulah wanita hamil. Tapi percayalah kau bahkan tidak ingin kehilangan barang satu moment pun.”
“Benar.”
“Dan sepertinya aku harus pergi ke Bali sekarang sebelum isteriku kembali menelpon,” katanya dengan senyum yang tidak pernah hilang jika berhubungan dengan Serenea. “Maaf tidak bisa menjamumu sampai selesai, Dante.”
“Tidak perlu meminta maaf. Aku bahkan sangat tersanjung dengan pertemuan tak terduga ini. Terima kasih.”
Daska mengangguk. “Zidane akan mengurus segalanya. Cukup katakan apapun yang kau inginkan.”
Ia kemudian berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Dante bersama Zidane di ruangan tersebut.
“Mari Pak Danadyaksa, ikut saya. Kita akan lebih leluasa berbicara di meeting room,” tutur Zidane sopan. Dante mengangguk dan mengikuti pria itu menuju tempat yang sudah disediakan.
Di ruangan itu, Dante duduk tegak mengenakan jas abu terang yang membingkai tubuh tingginya dengan sempurna. Dingin. Tenang. Wajahnya datar seperti biasa, matanya hanya sesekali melirik layar presentasi di hadapannya.
Dua orang dari tim dekorasi dan wedding organizer tampak antusias memaparkan konsep acara.
“Untuk tema modern elegant, kami menyesuaikan tone warna ivory, champagne, dan sentuhan navy untuk menonjolkan kesan maskulin dan netral—”
“Berapa lama pengerjaannya?” potong Dante tanpa berpaling dari layar ponselnya.
Belum sempat vendor menjawab, suara langkah kecil terdengar dari arah pintu kaca. Maxime muncul lebih dulu—berlari kecil lalu langsung melompat ke pangkuan Dante.
“Papiii!”
Dante menaikkan alis, separuh terkejut. “Kau disini?”
“Of course! Celia bilang kita akan bertemu di sini.”
Tak lama kemudian, Arcelia muncul. Rambutnya diikat sederhana, blazer navy membingkai tubuh rampingnya. Tak seperti biasa, ia datang tanpa iPad. Melirik vendor sekilas lalu mengangguk sopan.
“Maaf terlambat, Pak. Kami sempat mampir karena…” Ia melirik Maxime.
“Karena seseorang merengek minta es krim,” potong Maxime cepat. “Tapi jangan marah, Papi. Aku sudah makan sayur siang tadi.”
Dante menghela napas pelan. Mata birunya sempat melembut.
“Duduklah,” ucapnya pada Arcelia, meski tetap tak menatap. “Kau bisa bantu nilai konsep mereka.”
Arcelia menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Salah satu vendor memberanikan diri melanjutkan.
“Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, Ballroom yang akan Pak Danadyaksa gunakan ini sudah disesuaikan dengan permintaan dari Nona Caluna yang mana semuanya serba premium. Kami juga menyediakan area untuk pertunjukan string quartet—”
“Tidak perlu terlalu mewah,” ujar Dante. “Kami tidak mengundang banyak tamu.”
Vendor saling berpandangan, bingung. “Tapi... bukankah ini acara publik?” Kali ini Zidane yang angkat suara.
“Tidak,” jawab Dante cepat. “Pernikahan ini private.”
Arcelia melirik Dante sekilas, heran. Ia baru tahu bagian ini. Tapi, tentu saja, ia tidak mengomentari. Lagiula, bukan urusannya.
“Kalau begitu, apakah ada tema atau warna khusus yang diinginkan mempelai wanita selain gold, Pak?” tanya Zidane, mencoba menggali informasi lebih jauh.
Dante menoleh perlahan ke Arcelia. “Silakan tanya pada Arcelia. Dia yang mengatur sebagian besar detail ini.”
Arcelia menoleh cepat. “Maaf? Saya?”
“Kau tahu gaya Caluna lebih dari siapa pun. Kau juga yang paling sering berhubungan dengan asistennya, bukan?”
Arcelia hampir menyemburkan napas keras. Tapi Maxime di sebelahnya tampak bangga. Matanya berbinar seperti berkata, ‘Lihat, kamu penting juga di acara ini, Celia!’
Dengan senyum tipis yang penuh kendali, Arcelia mengangguk. “Baik. Kita lanjutkan saja.”
Dan begitulah… sore itu berubah menjadi sesi intens Arcelia dan para vendor, mengurus pernikahan seseorang yang bahkan tidak muncul—Caluna Tiffany Lughame.
Di tengah diskusi, Maxime bersandar di bahu Arcelia dan berbisik, “Celia… kamu kelihatan seperti calon pengantin betulan hari ini. Cocok dengan Papi.”
Arcelia hanya menghela napas pelan, tidak menanggapi ucapan anak usia lima tahun itu.
Apa katanya tadi? Cocok dengan Papinya? Listen! Jika tidak ada lelaki yang tersisa di dunia ini selain Dante, maka aku lebih memilih single selamanya daripada harus menikah dengan Papi menyebalkanmu itu, Max!
Tolong, para malaikat, catat itu. CATAT!!!
🥂
Arcelia menggendong Maxime sampai ke kamar anak itu. Hari ini ia tidak seperti biasa. Begitu manja dan ingin selalu menempel pada Arcelia bahkan saat mobil berhenti di depan rumah tadi dan Papinya hendak menggendong Max, ia merengek tidak mau dan hanya ingin digendong oleh Arcelia.
“Okay sudah sampai.” Arcelia menurunkan Max dari gendongannya. “Sekarang ganti bajumu. Ya?”
Yura, pengasuh pribadi Max sudah sigap dengan baju ganti di tangannya.
“Kau mau pergi?” Max bertanya sembari membiarkan Yura melakukan tugasnya.
“Tentu, Max. Arcelia harus pulang. Kau bisa bertemu dengannya lagi besok.” Suara itu datang dari arah pintu. Max menoleh dan mendapati Papinya berdiri di sana lalu kemudian perlahan mendekat ke arahnya.
“Tapi aku ingin makan malam bersama Celia, Papi. Aku juga ingin dibacakan buku sebelum tidur,” katanya lalu mengalihkan tatapannya pada Arcelia. “Kau mau kan menemani aku tidur malam ini?”
“Max, aku tidak bisa. Aku harus pulang. Kita bertemu lagi besok, okay?”
“Lagipula kita akan makan malam dengan Caluna, Max. Dia ingin bertemu denganmu,” tambah Dante.
Ia tak menggubris ucapan Papinya sama sekali. Bahkan tatapannya masih tertuju pada Arcelia. “Kalau begitu kau harus mengantarku ke sekolah besok, Celia. Promise me?” Max mengacungkan jari kelingking mungilnya.
“Mmmm, okay. I promise, Max.” Arcelia menautkan kelingkingnya membentuk seperti sebuah ikatan.
“Baiklah. See you tomorrow.”
“See you, Celia,” cicitnya kecil.
“Kalau begitu saya permisi, Pak,” pamitnya pada Dante. Lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah kepergian Arcelia, tinggal lah Dante dan Max di ruangan tersebut. Tidak, bersama Yura juga.
“Yura, bisa tinggalkan saya bersama Max?”
“Baik, Tuan,” katanya sopan kemudian berlalu dari kamar tersebut. Benar-benar meninggalkan Max bersama Papinya.
“Max...” panggil Dante pelan. Tatapan dinginnya kembali melembut. Ia berlutut dengan menekuk satu kakinya tepat di depan Max yang duduk di sisi ranjang.
“Seharian ini Papi lihat kau tidak ceria, Max. Apa terjadi sesuatu?”
“Apa Papi akan benar-benar menikah dengan Caluna?”
Dante terkejut dengan pertanyaan anaknya. “Kenapa tiba-tiba menanyakan ini, Max?”
“Mmmm, tidak. Hanya ingin memastikan saja.”
“Apa selama ini kau tidak menyukai Caluna, Max?”
“Of course, No. She’s very kind and you love her. Very much.”
“So?”
“Tidak. Tapi Papi, apa kau tidak menyukai Celia?”
“Celia?”
“Ya. I like her so much, Papi.”
“Max, dengar.” Dante menyentuh kedua bahu anaknya pelan. “I like her but not love. Papi suka cara dia bekerja. Cepat dan gesit. Tidak lebih. I won’t marriage her. Never, Max. Kami tidak saling mencintai.”
“Dan Caluna?”
“Kami saling mencintai.”
“Are you happy with her?”
“Ya, why not?”
“Apakah dia menyukaiku seperti Celia?”
“Of course, Max. And she also loves you. So much.”
“Apakah dia akan menemaniku bermain? Membacakanku cerita sebelum tidur dan menemaniku tidur seperti Celia, Papi?”
Diam.
Hening.
Dante tidak bisa menjawabnya. Ia tidak punya jawaban yang ... ya, diinginkan oleh anaknya.
“Max, bisa kita turun sekarang? Sebentar lagi waktunya makan malam.”
“Baiklah, Papi.”
“Papi gendong?” Namun dengan cepat Max menggeleng.
“No. Aku bisa jalan sendiri, Papi.” Ia turun dari ranjangnya, kemudian berjalan keluar lebih dulu dan mencari Yura—pengasuhnya.
🥂