bc

Terjebak! Mantan Pendendam Kini Bosku

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
revenge
family
system
second chance
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
campus
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Lima tahun lalu, Aruna Kirana terpaksa memutuskan hubungan dengan Aray Mahendra karena tekanan Elza Adiwangsa dan fitnah Tasya Clarissa. Aray yang tidak mengetahui kebenaran percaya bahwa Aruna meninggalkannya demi Damian, senior kaya raya yang selalu dekat dengan Aruna.

Lima tahun kemudian, Aruna diterima bekerja di Aksara Nexus Teknologi, tanpa tahu bahwa CEO perusahaan itu adalah Arayyan Mahendra Adiwangsa, mantan kekasihnya yang kini telah berubah menjadi pria dingin dan pendendam.

Aray ingin menghukum Aruna. Namun, semakin ia menyakitinya, semakin ia sadar bahwa hatinya masih sama: ia tidak mampu melihat Aruna terluka. Di tengah intrik kantor, kehadiran Damian, fitnah Dona, kemunculan Tasya, dan tekanan Elza, Aray dan Aruna dipaksa menghadapi pertanyaan terbesar mereka: apakah cinta yang pernah dihancurkan oleh kebohongan masih bisa diperbaiki oleh kebenaran?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 | Hari Pertama yang Harus Baik-Baik Saja
Lima tahun sudah berlalu sejak hari itu. Lima tahun sejak suara laki-laki yang dulu menjadi tempat paling aman bagi Aruna Kirana Reswara berubah menjadi sesuatu yang dingin, tajam, dan sulit dilupakan. Suatu saat nanti, saat kamu tahu siapa aku yang sebenarnya… aku pastikan kamu akan sangat menyesal! Aruna tersentak bangun. Napasnya memburu. Jemarinya mencengkeram ujung selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Beberapa detik pertama, ia belum benar-benar sadar sedang berada di mana. Matanya menatap langit-langit kamar yang mulai kusam, bercak lembap di sudut jendela, dan tirai krem yang warnanya sudah pudar. Bukan taman kampus. Bukan hari wisuda. Bukan tatapan Aray yang penuh luka dan dendam. Ini kamarnya. Rumah kecilnya. Pagi yang baru. Aruna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Satu tangannya bergerak ke d**a, menekan debar jantung yang masih terlalu cepat. “Sudah lima tahun, Run,” bisiknya pada diri sendiri. “Sudah selesai.” Namun, seperti biasa, kalimat itu tidak pernah terdengar sepenuhnya benar. Dari luar kamar, aroma bawang putih, telur dadar, dan nasi goreng menyelinap lewat celah pintu, bercampur dengan wangi kopi hitam Mama Amel. Rumah kecil itu mulai hidup. Dan hari ini, Aruna tidak boleh hancur hanya karena mimpi buruk lama. Ia menyingkap selimut, duduk di tepi ranjang, lalu menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang menempel di pintu lemari. Wajahnya masih pucat. Rambut hitam panjangnya berantakan. Matanya sedikit sembap, bukan karena menangis semalam, melainkan karena tidur yang tidak pernah benar-benar tenang. Hari pertama kerja. Hari pertama di perusahaan besar yang menerimanya setelah belasan lamaran ditolak. Hari pertama yang seharusnya menjadi awal dari hidup baru. Aruna memaksa bibirnya tersenyum. “Baik-baik saja,” gumamnya. “Hari ini harus baik-baik saja.” Setelah mandi, ia mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika rapi sejak malam. Ia memadukannya dengan celana bahan hitam dan blazer abu-abu yang dibeli dari hasil menabung dua bulan. Bukan pakaian mahal, tetapi cukup pantas untuk membuatnya terlihat profesional. Ia mengikat sebagian rambutnya ke belakang, memakai bedak tipis dan lipstik lembut, lalu mengambil map cokelat di meja kecil dekat ranjang. Map itu berisi dokumen penerimaan kerja yang semalaman ia periksa berulang kali. Map itu terasa seperti tiket keluar dari kecemasan panjang. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Mama Amel, Mona, rumah kecil yang gentengnya mulai bocor, dan semua malam saat ia menghitung uang belanja sambil berpura-pura tidak khawatir. Ketika Aruna keluar dari kamar, Mona langsung bersiul dramatis dari ruang makan. “Wuih! Kakak gue hari ini kelihatan kayak tokoh utama drama CEO dingin!” seru adiknya dengan mata berbinar. Aruna mengernyit. “Jangan mulai pagi-pagi, Mon.” Mona, gadis tujuh belas tahun dengan rambut sebahu dan wajah usil yang nyaris tidak pernah kehabisan energi, menopang dagu dengan dua tangan. Ia masih mengenakan seragam sekolah, dasinya belum rapi. “Serius, Kak. Tinggal adegan lari di lobi kantor, terus nabrak bos tampan, dingin, kaya raya, tapi trauma cinta.” Aruna nyaris tersedak udara. Mama Amel yang sedang menuang nasi goreng ke piring langsung menoleh. “Mona, mulutnya dijaga. Kakakmu baru mau kerja, jangan didoakan nabrak orang.” “Aku kan cuma kasih skenario.” “Kasih doa yang benar.” Mona duduk tegak, mengangkat satu tangan seperti sedang bersumpah. “Baik. Semoga Kak Aruna hari ini tidak nabrak bos tampan, tidak dimarahi atasan, tidak ketemu rekan kerja judes, dan langsung disayang seluruh kantor.” Aruna tersenyum kecil. “Aamiin. Walaupun bagian langsung disayang seluruh kantor itu agak berlebihan.” “Tidak ada yang berlebihan untuk kakakku yang cantik dan pekerja keras,” kata Mona cepat. Mama Amel tersenyum lembut. Wanita itu berjalan mendekati Aruna sambil membawa piring. Di wajahnya, usia dan lelah kehidupan tergambar jelas, tetapi matanya tetap hangat. Sejak ayah Aruna meninggal, Mama Amel menjadi tempat pulang yang tidak pernah mengeluh. “Duduk dulu, makan,” perintah Mama Amel. “Aku takut terlambat, Ma.” “Masih cukup. Perut kosong tidak bisa diajak berjuang.” Tidak ada gunanya membantah Mama Amel saat sudah menggunakan nada itu. Aruna duduk di kursi plastik dekat meja makan kecil. Mona segera mendorong segelas teh manis ke depannya. “Nih, minuman keberuntungan.” “Ini teh manis biasa.” “Beda. Aku yang aduk. Ada energi positifnya.” Aruna tertawa pelan. Untuk sesaat, sisa mimpi buruk tadi pagi terasa menjauh. Rumah kecil ini memang tidak mewah, tetapi di tempat inilah Aruna masih bisa bernapas. “Perusahaannya jauh?” tanya Mama Amel. “Lumayan. Naik bus sekitar empat puluh menit kalau tidak macet.” “Kalau pulang malam?” “Aku kabari. Jangan khawatir.” Mama Amel tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Aruna dengan tatapan yang terlalu peka. “Kamu gugup?” tanya Mama Amel akhirnya. Aruna mengaduk nasi goreng di piringnya. “Sedikit.” “Takut?” “Sedikit juga.” “Karena kerjaannya?” Aruna terdiam. Tentu saja ia takut pada pekerjaan barunya. Ia takut membuat kesalahan, takut tidak cukup cepat belajar, takut dianggap tidak layak setelah akhirnya mendapat kesempatan. Namun ada takut lain yang lebih tua. Takut pada masa lalu yang tiba-tiba mengetuk lagi. Takut pada nama yang belum pernah benar-benar hilang dari ingatan. Takut pada kemungkinan bahwa sejauh apa pun ia berlari, ada luka yang tetap tahu jalan pulang. Mama Amel tampaknya membaca perubahan kecil di wajah Aruna. Suaranya melunak. “Run.” Aruna mendongak. “Iya, Ma?” “Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun hari ini. Cukup lakukan yang terbaik. Kalau salah, belajar. Kalau capek, istirahat. Kalau ada yang menyakiti, jangan dipendam sendiri.” Aruna menggenggam sendoknya lebih erat. Mona ikut menimpali, “Betul. Kalau ada yang jahat, bilang aku. Aku punya stok stiker kucing marah.” Mama Amel geleng-geleng kepala, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. Aruna tertawa, kali ini lebih ringan. Ia ingin mengingat pagi ini seperti ini saja. Hangat. Biasa. Sederhana. Tidak ada sumpah dendam. Tidak ada tatapan penuh kebencian. Tidak ada pria bernama Aray yang berdiri di bawah rintik hujan, menghancurkan seluruh keberanian yang ia kumpulkan. Namun ingatan tidak pernah meminta izin. Saat Aruna menyesap tehnya, satu potongan masa lalu kembali melintas. Aray yang dulu. Bukan Aray dengan mata dingin di hari perpisahan. Melainkan Aray yang menunggunya di depan perpustakaan kampus sambil membawa dua bungkus roti sobek. Aray yang pernah berkata, “Suatu hari nanti, aku akan punya rumah yang pintunya selalu terbuka buat kamu.” Aruna menutup matanya sesaat. Jangan. Tidak hari ini. “Kak?” Suara Mona membuat Aruna membuka mata. “Hm?” “Kok bengong?” “Tidak. Cuma mikir jangan sampai ketinggalan bus.” Mona menyipit curiga, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Aruna menghabiskan sarapannya lebih cepat, lalu berdiri. Ia mengambil tas hitam, memasukkan ponsel, dompet, dan map cokelat ke dalamnya. Mama Amel ikut berdiri, lalu merapikan kerah blazer Aruna dengan gerakan hati-hati. “Jangan lupa makan siang,” kata Mama Amel. “Iya, Ma.” “Jangan terlalu sungkan sama orang kantor.” “Iya.” “Kalau disuruh kerja yang aneh-aneh, tanya dulu.” “Iya, Ma.” “Kalau bosnya galak—” “Ma,” potong Aruna sambil tertawa kecil. “Aku kerja, bukan masuk kandang singa.” “Kadang kantor lebih seram daripada kandang singa,” sahut Mona. Aruna menunjuk adiknya. “Kamu sekolah. Jangan ikut-ikutan bikin Mama parno.” Mona menjulurkan lidah. Mama Amel menghela napas, lalu tiba-tiba menarik Aruna ke dalam pelukan. Aruna terdiam sepersekian detik sebelum membalasnya. Tubuh Mama Amel terasa kecil dalam dekapannya, tetapi hangatnya masih sama seperti dulu. “Semoga lancar,” bisik Mama Amel. “Semoga orang-orang di sana baik. Semoga kamu selalu dilindungi.” Tenggorokan Aruna tercekat. “Aamiin.” Mona ikut menyusup ke pelukan mereka dari samping. “Aku juga mau.” “Ini bukan adegan sinetron,” protes Aruna, tetapi ia tetap merangkul adiknya. “Justru harus dramatis. Hari pertama kerja Kak Aruna harus memorable.” Mungkin beginilah cara Tuhan menambal hati manusia. Bukan dengan menghapus luka, melainkan dengan memberi pelukan kecil di pagi hari. Setelah pamit, Aruna keluar dari rumah. Udara pagi menyambutnya dengan bau tanah basah. Semalam hujan turun cukup deras, menyisakan genangan kecil di beberapa lubang jalan gang. Ia berjalan hati-hati agar sepatu hitamnya tidak terkena lumpur. Di depan pagar, ia berhenti sejenak dan menoleh. Mama Amel berdiri di ambang pintu. Mona melambai berlebihan dari sampingnya. “Semangat, Kak!” teriak Mona. Aruna tertawa malu karena tetangga depan rumah ikut menoleh. “Iya!” Ia melambaikan tangan, lalu mulai berjalan menuju halte. Setiap langkah terasa seperti upaya meyakinkan diri. Hari ini awal baru. Hari ini ia bukan gadis dua puluh satu tahun yang menangis sendirian setelah ditinggalkan laki-laki yang ia cintai. Hari ini ia bukan perempuan yang hidup dalam tuduhan. Hari ini ia adalah Aruna Kirana Maheswari, karyawan baru yang harus membuktikan bahwa ia layak diberi kesempatan. Ponselnya bergetar di dalam tas. Aruna mengambilnya sambil tetap berjalan. Ada pesan dari Mona. Mona: Jangan lupa senyum. Tapi jangan senyum ke cowok ganteng. Nanti jadi konflik novel. Aruna tertawa kecil dan membalas cepat. Aruna: Fokus sekolah! Balasan Mona datang hampir seketika. Mona: Fokus kerja. Jangan jatuh cinta sama bos. Langkah Aruna melambat. Kalimat itu seharusnya hanya lelucon. Hanya candaan Mona yang terlalu banyak membaca cerita romantis di internet. Tetapi entah kenapa, d**a Aruna terasa seperti ditarik sesuatu yang tajam. Jangan jatuh cinta sama bos. Lucu sekali. Jatuh cinta saja dulu sudah cukup menghancurkannya. Aruna mematikan layar ponsel dan memasukkannya kembali ke tas. Ia mempercepat langkah. Di ujung gang, suara kendaraan mulai ramai. Bus kota yang harus ia naiki biasanya datang tidak menentu. Ia tidak boleh terlambat. Namun sebelum benar-benar keluar dari gang, Aruna berhenti lagi. Ia membuka tas, memastikan semua dokumen ada. KTP, fotokopi ijazah, surat penerimaan kerja, buku catatan kecil, pulpen, dan map cokelat dari perusahaan. Semua lengkap. Tangannya menyentuh permukaan map itu. Untuk pertama kalinya sejak bangun tidur, ia benar-benar memperhatikan logo yang tercetak di sudut kanan atas. Huruf-huruf tebal berwarna hitam dengan desain modern. AKSARA NEXUS TEKNOLOGI Di bawahnya ada slogan kecil: Building Tomorrow, Connecting Lives. Aruna menatap tulisan itu lama. Perusahaan ini adalah kesempatan. Perusahaan ini adalah jawaban dari ratusan doa yang ia bisikkan dalam diam. Perusahaan ini adalah tempat ia akan bekerja keras, mengumpulkan uang, memperbaiki hidup, dan mungkin perlahan melupakan hal-hal yang tidak perlu diingat lagi. Ia menarik napas dalam, lalu hendak menutup map itu. Namun, selembar kertas di bagian belakang sedikit mencuat. Aruna mengernyit, lalu menariknya keluar. Itu lembar pengumuman internal untuk karyawan baru. Sepertinya diselipkan bersama dokumen penerimaan, tetapi belum sempat ia baca. Matanya bergerak mengikuti baris demi baris tulisan. Awalnya biasa saja. Jadwal orientasi. Pembagian divisi. Aturan kedatangan. Lalu pandangannya berhenti pada satu paragraf di bagian bawah. Seluruh karyawan baru diharapkan mengikuti sesi penyambutan manajemen pukul 09.00 WIB, sehubungan dengan kembalinya CEO Aksara Nexus Teknologi dari perjalanan dinas luar negeri selama satu bulan. Aruna membaca kalimat itu sekali lagi. CEO. Kembali dari luar negeri. Entah kenapa, tengkuknya meremang. Ia menertawakan dirinya sendiri pelan. “Semua perusahaan punya CEO, Run. Jangan dramatis!” Namun rasa tidak nyaman itu tidak benar-benar pergi. Angin pagi bergerak melewati gang sempit, membuat ujung kertas di tangannya bergetar. Aruna menelan ludah, lalu memasukkan kembali lembar pengumuman itu ke dalam map. Ia tidak tahu nama CEO perusahaan itu. Ia tidak tahu wajahnya. Ia juga tidak tahu bahwa hari pertama yang ia paksakan agar baik-baik saja akan menjadi hari pertama semesta menariknya kembali ke pusat luka yang selama lima tahun mati-matian ia kubur. Yang Aruna tahu hanya satu. Ia harus sampai di kantor tepat waktu. Dan di dalam map penerimaan kerja yang ia peluk erat di d**a, nama Aksara Nexus Teknologi seolah menatapnya balik, diam-diam menyimpan rahasia tentang seseorang yang baru saja kembali dari luar negeri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook