bc

Gengsi Mantan Konglomerat

book_age18+
44
IKUTI
1K
BACA
family
HE
fated
pregnant
arrogant
kickass heroine
stepfather
blue collar
sweet
bxg
campus
city
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Versi Dewasa [Rajen & Humaira]

••••

Janardana Rajendra Atmaja, cicit konglomerat yang diusir dari kedudukannya di keluarga Atmaja. Jabatannya sebagai calon penerus kursi pimpinan utama Atmaja Group pun dicabut di hadapan keluarga besar.

Menjunjung tinggi harga diri dan gengsi, benci kemiskinan, tetapi hidupnya dibuat melarat dalam sekejap di usia 18 tahun karena sebuah kesalahan fatal yang bukan benar-benar miliknya. Usia di mana dirinya menjadi seorang suami sekaligus ayah, seluruh fasilitas Rajen dicabut, hak-haknya dibekukan.

Bersama Humaira Asyila, gadis miskin yang memiliki kenangan kelam dari Rajendra, terpaksa menikah dan menerima takdir mereka.

Lantas, bagaimana Rajen bisa hidup dan menghidupi anak-istrinya? Paling penting, dengan cara apa Rajen membuktikan bahwa dia bisa sukses dan kaya raya di atas kakinya sendiri tanpa embel-embel keluarga yang telah mengusirnya?

Di satu sisi, bisakah Rajen dan Humaira beradaptasi sebagai pasangan suami-istri? Sementara, mereka bahkan belum dewasa.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
"Mulai hari ini kamu sudah bukan lagi bagian keluarga Atmaja. Pergilah, bawa istri dan anakmu." Tangan Rajendra mengepal. Matanya memancarkan emosi yang tertahankan mendengar ucapan bertajuk pengusiran dari sang uyut, orang nomor satu di keluarga Atmaja. Ya, dia Atmaja. Selagi masih hidup, setua apa pun usianya, permintaannya adalah perintah dan ucapannya merupakan sesuatu yang telak. Tak seorang pun bisa mengganggu gugat, bahkan itu orang tua Rajen sendiri. Mereka diam. Semua diam. Rajen menatap orang-orang yang merupakan keluarganya. Mami dan papi, mereka hanya menatap lantai. Untuk pertama kali Rajen melihat ketidakberdayaan itu di mata papi yang dia pikir berkuasa, juga di mata mami yang Rajen pikir pemberani. Bahkan kakek dan nenek yang menyayanginya diam saja. Di sini. Rumah besar Atmaja. Seluruh anak-keturunan Atmaja dikumpulkan, dan itu hanya untuk melihat bagaimana seorang Janardana Rajendra Atmaja diusir. Didepak dari posisinya sebagai salah satu bagian mereka. Dicabut haknya sebagai pewaris, yang bahkan pernah hampir terpilih sebagai penerus takhta di Luxe—perusahaan furnitur Atmaja Group. Tatapan Rajen lantas jatuh di seorang perempuan yang duduk memangku bayi laki-laki. Benar-benar masih bayi ... anak Rajen. Dan perempuan itu istrinya. Humaira Asyila, 20 tahun. Sementara di sini, Rajen yang bahkan baru lulus SMA kemarin ... masih 18 tahun. "Semuanya, jangan ada yang membantu mereka." Lagi, ucapan Kakek Uyut Atma menguar. Mata Rajen memanas, tetapi bukan karena ingin menangis, itu panas amarah. Harga diri. Gengsi. Dan ambisi. Rajen mengemas semua itu baik-baik dalam dirinya, akan dia bawa pergi bersama istri dan anak. Kelak ... lihat saja. "Bantuan?" timpal Rajen, lalu senyum segaris. "Nggak butuh, Kek." Teruntuk kakek uyut. "Oh, ya. Terima kasih atas semua yang keluarga ini berikan di tahun-tahun ke belakang hidup Rajen." Tenang. Rajen tidak akan tunjukkan betapa tersinggungnya dia oleh ucapan dan perbuatan sang kakek uyut yang sampai mengadakan kumpul besar cuma buat mengusirnya. Padahal kemarin lalu Rajen juga sudah diperkenalkan dengan rumah kecil khas orang miskin yang katanya hadiah dari papi-mami untuk Rajen tinggali bersama Humaira kelak. "Rajen pamit, Kakek Uyut jangan mati dulu sebelum Rajen sukses. Awas kalau mati!" tandasnya pedas. Papi sampai berdeham, mami menegur. Tapi ini Rajendra. Kalian tidak tahu siapa dia? Putra Daaron dan Dikara yang paling problematik—konon katanya. Paling pedas omongannya. Paling ambisius. Paling menjunjung tinggi harga diri dan gengsi di atas segalanya. Dan yang paling benci pada kemiskinan. Namun, hari ini Rajen jatuh miskin dalam sekejap. Kehidupannya sebagai cicit konglomerat mulai dihapuskan. Itu semua hanya karena satu kesalahan yang bukan benar-benar milik Rajen sepenuhnya. "Ayo, Huma." Rajen lantas menggamit tas jinjing yang isinya keperluan bayi, mengajak sang istri pergi dari rumah besar itu. "Di sini bau, kita cari tempat wangi." Humaira tidak berkata apa-apa, yang lain juga diam. Hanya Rajen dengan ocehannya yang penuh emosi. Sayang, Rajen masih remaja walau sudah ada anak dan istri. Karena itu juga dia didepak dari kehidupan megahnya sebagai pewaris Atmaja Group. Baru kemarin diperlihatkan rumah hadiah yang serupa gubuk, yang kata mami dan papi adalah tempat untuk sekalian Rajen belajar mandiri. Rajen tahu, sih. Itu cuma cara halus dari yang sebenarnya sudah tiba saat dirinya diusir dari rumah orang tua. Hanya saja mami-papi tak setega Kakek Uyut Atma, dengan mengumpulkan semua orang agar tahu bagaimana ketika salah satu keturunannya disingkirkan. Agar Rajen merasa terhina. Harga diri dan gengsinya yang menyaingi tinggi Gunung Himalaya itu sedang digoyahkan. Tapi ini Rajendra, dua hal itu tidak akan pernah dia biarkan jatuh diinjak-injak orang—siapa pun. Rajen genggam tangan Humaira yang tidak memegang bayi di gendongan, Rajen bawa langkahnya menjauh dari perkumpulan keluarga sialan—ah, menjengkelkan. Nanti. Lihat nanti. "Aku bakal jadi orang kaya hasil jerih payah sendiri." Huma menoleh menatap sang suami. Suami berondongnya. Rajen meracau di sepanjang langkah keluar dari rumah besar yang disebut-sebut mansion itu. "Aku bakal jadi orang sukses tanpa embel-embel keluarga." Mata Rajen memancarkan amarah dan ambisi yang membara, bahkan bisa Huma rasakan kekuatan emosi Rajen saat ini dari genggaman tangannya, dari langkah kakinya yang berusaha Huma setarakan. "Kehilangan kursi nomor satu sebagai penerus Atmaja Group gak bakal bikin aku miskin selamanya," desis Rajen. Lalu menatap Humaira. "Kamu percaya aku, kan, Ra?" Humaira ... kadang disebut Huma, kadang juga Ra. Tapi kalau disebut Ra, itu hanya Rajen yang mengatakan. "Iya, aku percaya." Sambil Huma ulaskan senyum manisnya. Meskipun kenyataan ... mereka jalan kaki sampai gerbang depan mansion, tidak ada kendaraan—baik motor dan mobil yang biasa Rajen tumpangi. "Mau gantian gendongnya?" Rajen melirik si kecil. Langkahnya mulai memelan saat tersadar pijakan Humaira seolah terseok mengimbanginya, padahal wanita itu membawa bayi yang terlelap damai. "Emang kamu bisa gendong bayi?" Tidak. Tentu tidak. Rajen cuma bisa 'bikin' dan itu adalah kesalahan paling fatal dalam hidupnya di usia ini, sekali pun bukan benar-benar salah Rajen sepenuhnya. Di satu tempat, ada orang tua yang menatap kepergian Rajen dan Humaira beserta bayi mereka. Di sini, di balkon mansion, memandang lurus pada siluet yang semakin mengecil. Menjauhi kediaman. Sampai tiba di gerbang depan itu, ada sebuah mobil hitam metalik berhenti di hadapan Rajen. Sopirnya turun, menghampiri. "Den—" "Apa? Disuruh mami? Papi? Gak butuh. Udah pesen grab, minggir sana!" Inilah Rajendra dengan segala gengsinya. Huma menatap pria yang masih menggenggam tangannya dari saat di dalam rumah tadi, sampai sini pun Rajen tidak melepas genggaman itu. Tangan Rajen satunya menenteng tas bayi, isi popok, pakaian ganti, juga keperluan anak lainnya. Dan Rajen benar-benar menolak sopir suruhan orang tua untuk mengantarnya pulang dengan nyaman, memilih menunggu taksi online yang sebetulnya baru mau dipesan. Saat itulah Rajen melepas genggaman Humaira. Kalau cuma ongkos taksi online, Rajen punya uang, kok. "Yuk, udah datang mobilnya." Rajen pun mempersilakan Humaira masuk lebih dulu, mengabaikan sopir dan kuda besi hitam metalik yang mami-papi kirimkan. Gengsilah. Ini soal harga diri. Camkan itu! ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.1K
bc

Kali kedua

read
220.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
81.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook