20 | Jalan Keluar

1922 Kata

"Doain, ya, Ra. Suami kamu mau coba cara baru buat mendongkrak perekonomian kita, Mas pastiin kebeli Alphard nanti." Sekarang mimpinya Alphard dulu saja, next naik lagi jadi mobil sport biar keren. Huma aminkan, lalu senyum. "Aku dukung, Pamud." Soalnya Huma sudah tahu apa niatan Rajen. Tadi waktu habis subuh, Huma masak sarapan, di situ Rajen menemani sambil mengajak bicara. Konon ... Rajen mau minta bantuan Eyang Pipi Wili. Jujur, Huma senang sekali. Itu baru benar. "Oh, ya. Kalung kamu ... nggak mau dipakai lagi? Itu uang kalung walau didapat dari balapan, tapi hasil deg-degan Mas nyetir motor bermenit-menit, lho. Plus sambil mikirin kamu." Soal kalung, bahkan rupiah yang sembilan juta itu, Huma sebetulnya enggan menggunakan. Tapi saat Huma melirik wajah Rajen detik ini, setelah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN