Jujur, Rajen tidak pernah menyangka dirinya akan segera ada di posisi ini; memakaikan baju ke anak di sore hari, sementara istri sedang mandi.
Tiap kali melihat Bara, Rajen merasa kehidupannya masih di ambang nyata dan tidak. Seperti sebuah keajaiban, Rajen mendapati sosok kecil versi dirinya di Bara. Di mana usia Rajen masih sangat muda.
Di saat teman atau bahkan kembaran yang seusia dengannya masih sibuk pendidikan, Rajen sudah punya anak umur lima tahun. Dan setiap perkembangan bocah ini dari bayi, Rajen juga ikut berkembang.
Dari yang semula tidak bisa gendong baby karena takut melukai, lalu mencoba walau sangat kaku.
Ikut menyuapi saat Bara masih MPASI, ikut tantrum saat Bara juga tantrum karena susah sekali buat makan. Yang pada akhirnya Humaira dengan sabar menghadapai momen itu.
Rajen ingat betul. Sekarang anaknya sudah sebesar ini. Rajen pakaikan piama bulan-bintang seperti milik tokoh kartun Malay. Bara suka menonton serial itu dan berucap, "Pamut, kembalan Bala kalau nggak duluan ke sulga pasti udah main baleng kayak Upin-Ipin itu, ya?"
"Pastinya." Rajen tanggapi santai.
Bara sudah tahu soal kembarannya meninggal dan Rajen sering bilang sudah pergi duluan ke surga.
"Kita kapan mau nyusul ke sulga, Pamut?"
"Kalau pahalanya udah banyak." Rajen ambil sisir, dia tata rambut si kecil.
"Banyaknya segimana? Semobil tlonton ada?" Dengan tampang lugu bin serius, Bara mempertanyakan takaran banyak itu.
"Se-Alaihim pokoknya."
Bara mengerjap. "Alaihim itu apa, Pamut?"
"Adalah." Rajen selesai. "Udah, nih. Udah ganteng. Jangan main kotor-kotoran lagi."
Rajen sendiri sudah mandi. Sepulang dari bengkel langsung membersihkan diri.
"Mau nonton TV boleh, nggak?"
"Boleh, dong. Yuk!"
Bara lompat-lompat girang sambil jalan keluar kamar. Dia duduk di sofa. Rajen nyalakan TV-nya.
Pas sekali, Huma selesai mandi. Tampak melintas dengan balutan handuk saja, yang Rajen lirik.
Bara fokus nonton sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa sang papa sudah berlalu, menyusul masuk kamar setelah mamanya.
Ini hari yang berbeda dengan saat Bara minta makan sama opor.
***
Humaira terkesiap mendapati papa Bara ngintil masuk ke kamar, sedang dirinya masih pakai handuk.
Jujur, ya. Huma masih belum terbiasa walau pernikahan ini sudah berjalan lima tahun dan sudah pernah berhubungan intim di sesekali waktu.
Sekadar ciuman saja Huma masih suka tersipu. Apa karena umurnya sendiri baru dua puluh lima? Rajen pun masih dua puluh tiga. Pokoknya, Huma masih suka berdebar-debar kalau belum berpakaian atau sekadar handukan di saat ada Rajen dalam satu ruangan.
Namun, sebisa-bisa Huma bersikap biasa.
"Kok, Baranya ditinggal?"
"Lagi nonton TV, anteng juga. Nggak mesti ditemenin."
Huma menggigit bibir bagian dalam, melihat Rajen mengunci pintu, lalu berbalik lagi menatapnya.
Huma sampai bingung mau pakai bra dulu atau celana dalam, takut mengundang syahwat suami. Padahal fine-fine saja, kan? Suami sendiri, kok.
"Rajen ...." Bibir Huma menggetarkan nama itu, tepat di detik pinggangnya diraih. Membuat tubuh satu sama lain saling bersinggungan.
Dekat.
Rapat.
Rajen bisa mencium aroma sabun dan sampo istrinya, yang Rajen tatap. Meski secara umur masih tuaan Huma, tetapi body-nya tinggi Rajen. Sontak Huma sampai harus mendongak, sedang Rajen menunduk.
Perbandingannya, Huma cuma tumbuh sebatas dadaa Rajen saja. Tadinya, sih, lebih tinggi Huma waktu SD. Tapi, kan, sekarang Rajen sudah bukan anak SD lagi.
Huma menelan ludah, Rajen makin merunduk, yang lalu mempertemukan bibir mereka.
Jemari Huma refleks mengepal, meremas piama yang Rajen kenakan. Sesering-seringnya dia berciuman, tetap saja Huma gugup dan deg-degan.
Uh ....
Merinding. Kulit punggung bagian atas Huma disentuh, helai handuk tidak sampai menutupi itu. Dan tengkuk Huma ditekan, ciumannya makin dalam.
Astaga.
Ada anak di luar, hei!
"Volume TV-nya aku besarin sebelum ke sini," bisik Rajen di detik pagutan bibirnya dilepas. Rajen menyusuri leher sang istri. "Jadi harusnya ... suara di kamar nggak akan sampai ke telinga Bara."
Huma makin meremas piama suami, refleks merasa geli di leher. Itu area sensitif, sampai desahnya ikut lolos.
"Ja-jangan di situ," bisik Huma, takutnya dia berisik melebihi suara TV. Geli, lho! Paham, kan?
Tergelitik.
Ah!
Ya ampun.
Tuh, kan.
"Rajen ...."
Sekarang Huma sudah seperti cosplay jadi mangsa vampir. Rajen menyesap area leher. Satu tangan Huma lantas bertengger di bahu Rajen, yang satunya lagi di kepala—menyelipkan jari di tiap helai rambut pria itu.
Oh, oh, tunggu dulu!
Sepertinya handuk Huma jatuh. Segala sentuh Rajen terasa langsung berteguran dengan kulit. Termasuk di pantatt—maaf. Huma merasakan adanya gerak remas-meremas di sana. Langsung secara skin to skin.
Benar saja!
Huma refleks tergerak ingin melindungi dadaa dan area intimnya, tetapi terhalau oleh gerak Rajen. Tidak diizinkan Huma tutupi.
Suara televisi masih terdengar menayangkan film Upin-Ipin kesukaan Bara, anak itu pasti sedang fokus-fokusnya nonton sambil rebahan di sofa. Dulu di rumah ini tidak ada sofa, tetapi Rajen membelinya saat punya uang—sebelum kena tipu.
Dan, yeah ... Humaira sudah dibuat rebah sekarang, dengan Rajen yang menindihnya.
"Aku baru selesai mandi," bisik Huma, agak protes. Maksudnya, nanti mandi lagi, dong, kalau Rajen sampai begitu-begini?
"Udah on," balas lelaki itu.
Pahamlah Huma. Apalagi Rajen langsung melepas celana.
Oh my God! Wajah Huma memerah mendapati sesuatu paling sesuatu di tubuh suaminya, yang tampak begitu jantan walau usia masih dua puluh tiga tahun.
"Nggak pa-pa, kan?" Vokal Rajen sudah berat, tatapannya juga melas.
Ya, macam mana Huma bisa menolak?
"Cepetan—a!" Refleks memekik. Huma lalu menutup mulut dengan punggung tangan. Tahu-tahu langsung masuk tanpa basa-basi.
Huma cekal lengan suami. Tubuhnya lalu tersentak, terdorong seirama dengan gerak Rajendra di dalamnya.
Deru napas Rajen berembus tajam, kadang tertahan, lalu dia loloskan bersama desahan rendah dari bibirnya.
Dulu ... ini jadi momen mengerikan bagi Humaira. Saat awal Rajen membuatnya ternoda, sampai Bara tumbuh di rahimnya. Namun, waktu membawa Huma pada kondisi yang sudah sangat baik-baik saja sekarang.
Rajen telah mengukir kenangan indah terkait hubungan intim, meski tidak sepenuhnya menghapus kenangan buruk di awal. Paling tidak, Huma sudah nyaman dengan laki-laki yang bernama Rajen ini, hingga dia menemukan titik nikmat dari bertaut kelamin.
Tidak mengerikan.
Tidak buruk lagi.
Terkadang ... pernah Huma yang menginginkan, Huma yang mengawali, bahkan itu soal ciuman di awal-awal hubungan pernikahan ini membaik.
Rajen tidak pernah berinisiatif menyentuhnya karena rasa bersalah, takut Huma tidak suka, takut Huma masih trauma. Alhasil, Humaira sendiri yang mencium Rajen duluan sebagai info bahwa dirinya sudah bebas dari belenggu ketakutan akan skinship intim.
Setelah itu pun Rajen cuma berani sampai pelukan, ciuman juga masih hati-hati. Dan berlangsung hingga empat tahun ... barulah Huma diajak bulan madu.
Kali pertama setelah persetubuhan yang kurang menyenangkan dulu, Rajen mengawalinya di tahun keempat pernikahan.
Humaira ingat betul dinginnya jemari Rajen saat menyentuh kulit. Pun, tegangnya seraut tampan itu ketika dihadapkan pada kondisi telanjang Huma.
Kaku.
Bulan madunya seperti malam pertama bujangan dan gadis.
Huma juga bingung saat itu, dia harus apa, bagaimana, padahal pernah mengawali ciuman. But, saat itu rasanya berbeda.
Sementara, Huma rasa Rajen ingin memberikan pengalaman terbaik sebagai pemupus pengalaman buruk pertautan intim di awal. Tapi Rajen sendiri amatir.
Kala bibirnya menyentuh tiap inci kulit Huma, dari wajah ke leher, turun sampai di dadaa, Humaira spontan menggeliat. Seperti saat bulan madu, rasanya masih sama.
Kehangatan Rajen yang mengulum dadanya, sensasi dari tiap sentuhan di tubuhnya, Huma telah menyukai itu semua.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada yang ingin Huma tolak.
Bahkan benda asing yang Rajen masukkan ke dalam diri Huma, dia mengizinkan itu bersemayam di sana. Mempermainkannya dengan gerak keluar-masuk, menghadirkan bunyi erotis yang Huma cemaskan bisa terdengar sampai ruang TV.
Oh!
Huma mencengkeram sprei.
Semakin cepat gerak Rajen, Huma makin merasa tidak keruan dibuatnya. Sensasi ini benar-benar berbeda dengan saat awal kegadisannya direnggut. Walau oleh orang yang sama, walau ada kenangan pahit di masa lalu, tetapi semua itu sudah tidak lagi mengerikan.
Tubuh Huma sendiri sudah bebas dari trauma rasa sakit saat Rajen memaksa masuk di awal hubungan—yang terjadi karena obat perangsang.
Waktu membawanya ke titik sekarang. Huma bahkan sampai mendesahkan nama Rajendra, menciumnya, dan memeluk saat dia merasa sudah hampir tiba di—
"Pamut! Mamut!"
Damn.
Serempak kepala Huma dan Rajen menoleh ke arah pintu.
***
Bara belum mengerti kenapa orang tuanya yang sudah mandi sore itu jadi mandi lagi, tetapi setidaknya Bara tidak sendirian nonton TV. Soalnya hari sudah menggelap, menjelang magrib, lampu ruangan masih belum dinyalakan.
Kan, Bara takut. Bagaimana kalau ada monster semut seperti mimpinya kala demam? Hadir di kegelapan.
Itulah kenapa Bara menggedor-gedor kamar, ada suara mamudnya di sana. Seperti menangis.
Pikir Bara, pamudnya juga pasti di situ. Menenangkan mamud. Dan saat Bara memanggil, yang di dalam seperti langsung terinterupsi—auto hening. Tangis mamud juga berhenti.
Begitu mereka keluar kamar, Bara langsung digiring balik ke ruang TV.
Yeah, Huma lengser ke kamar mandi, sementara Rajen menyalakan lampu tiap ruangan. Bara duduk manis lagi.
Tidak lama setelah Huma selesai, gantian Rajen yang mandi. Bara melihat pamudnya bawa-bawa handuk, lalu melihat mamudnya masih handukan padahal sebelumnya juga baru beres mandi—kali ini Bara ngintil ke kamar.
Dia belum mengerti.
"TV-nya matiin, Sayang. Udah mau magrib," ucap Huma kepada si kecil, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Bala masih nonton, Mamut."
"Kecilin aja kecilin, nanti nggak kedengeran azan."
Bara manut, langkah kecilnya berlari keluar kamar. Huma cepat-cepat pakai baju, lalu mengganti sprei. Tak lupa sebelum itu, dia semprotkan lagi pengharum ruangan.
Duh!
Biasanya Rajen nggak gini, lho. Prepare dulu kalau mau indehoy, misal di kamar lain atau ngide menitipkan anak ke orang tua. Ini sangat mendadak.
Huma berdebarnya masih sampai sekarang.
Tapi sepertinya aman.
Bara tampak kembali ke kamar, dia mengendus-endus. Huma gesit mengajak anaknya keluar lagi.
"Kamar baru Mamud semprot, kita di luar dulu."
Saat itu Rajen selesai mandi. Huma sontak berucap, "Pa, tolong lanjutin ganti spreinya. Dan beresin yang lainnya."
Penuh kode tertentu, cuma mereka yang paham.
Bara sudah nonton TV lagi, malah sambil bernyanyi bersama Upin dan Ipin.
Rajen pun mengangguk. Dia senyum. Hanya dengan begitu pipi Humaira jadi memanas.
Argh!
Habis ngapain, sih, tadi?
Ya Tuhan.
Bahaya sekali.
***